Salin Artikel

Krematorium Cilincing Tarik Tarif Kremasi Rp 7 Juta, Gratis bagi Keluarga Tak Mampu

Krematorium Cilincing di Jakarta Utara mengaku mematok harga kremasi mulai Rp 7 juta-Rp 10 juta.

Manajemen dan Personalia Krematorium Cilincing Heru Prayitno berujar, besaran tarif krematorium tergantung pilihan keluarga terhadap paket yang ada.

"Jadi, untuk biaya kremasi itu Rp 7 juta memang kami terapkan di sini. Ada informasi masalah tambahan-tambahan biaya, itu opsional. Jadi istilahnya itu pilihan keluarga," papar Heru melalui sambungan telepon, Selasa (20/7/2021).

Usai jenazah dikremasi, pihak keluarga biasanya menggunakan jasa penyimpanan abu di lokasi penitipan abu.

Kemudian, jika pihak keluarga memilih paket kremasi sekaligus larung, besaran tarifnya sebesar Rp 10 juta.

Paket seharga Rp 10 juta itu juga termasuk dengan biaya sewa kapal untuk proses larung.

Heru menyatakan, pihaknya mengembalikan pilihan paket kepada pihak keluarga.

"Setelah kremasi, kalau dari keluarga mau dilarung, kita ada sewa kapal, jadi total semua yang infokan ke keluarga Rp 10 juta. Itu opsional pilihan keluarga," paparnya.

Heru melanjutkan, pihaknya bakal memberikan tarif yang berbeda bagi keluarga yang dinyatakan kurang mampu.

Krematorium Cilincing akan memotong tarif sebesar 50 persen untuk proses kremasi jenazah pasien Covid-19 yang berasal dari keluarga kurang mampu.

"Jadi kalau ada keluarga yang misalnya, ada surat keterangan tidak mampu dari kelurahan atau kecamatan, langsung kita potong 50 persen," urai dia.

Tak hanya itu, jika memang ada keluarga yang benar-benar tidak mampu membayar, Krematorium Cilincing bakal menggratiskan tarif.

"Kalau memang posisi dari jenazah itu ada laporan dari lingkungan atau majelis, dia posisinya benar-benar tidak mampu, kita gratiskan," ucapnya.

Dia menambahkan, Krematorium Cilincing membuka operasional kremasi untuk jenazah Covid-19 mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai.

Pada pagi harinya, krematorium tersebut dikhususkan bagi proses kremasi jenazah non-Covid.

Besaran tarif kremasi jenazah Covid-19 dan non-Covid berbeda, disesuaikan dengan layanan yang diberikan.

"Untuk biaya, itu yang pagi memang lebih murah. Karena istilahnya, karyawan dan lainnya bekerja sesuai jam normal. Kalau yang Covid, karena mereka kerja malam, kemudian ada APD dan lainnya, otomatis ada perbedaan harga," papar Heru.

Anggota Komisi E DPRD Ima Mahdiah sebelumnya mengaku mendapat dua laporan terkait tarif kremasi jenazah pasien Covid-19 yang menyentuh angka ratusan juta rupiah.

Laporan pertama, Ima menerimanya dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Ia menjelaskan, orangtua dari teman Ahok meninggal dunia karena terpapar Covid-19 dan harus dikremasi.

"Kebetulan (laporan) yang satu saya dikirim sama Pak Ahok waktu itu, kebetulan teman beliau orangtuanya meninggal, tapi tidak ada tempat untuk kremasi untuk Covid di Jakarta untuk yang (dikelola) pemda, sedangkan di swasta tempatnya penuh dan harganya tinggi," kata Ima saat dihubungi melalui telepon, Senin (19/7/2021).

"Kedua, saya dapat laporan dari warga Jakbar, dia sampaikan bahwa harganya (tarif) tinggi sekali untuk kremasi saja," imbuhnya.

Ima mengatakan, masih dalam laporan yang dia terima, warga mengaku ditawari jasa kremasi jenazah pasien Covid-19 di luar Jakarta dengan tarif hingga ratusan juta rupiah.

Menurut Ima, tarif tinggi bisa jadi disebabkan permintaan kremasi yang kian banyak di tengah wabah Covid-19.

"Cuma pemakaman sama kremasi saja sampai berapa ratus juta. Mungkin karena permintaan banyak," kata dia.

Namun, kenaikan tarif yang tidak wajar tersebut tidak bisa ditoleransi.

Menurut politikus PDI-P ini, jika kenaikan tarif hanya sebatas penambahan biaya alat pelindung diri (APD) dan disinfeksi, kemungkinan keluarga jenazah pasien akan memaklumi.

"Kalau ada kenaikan tambahan APD masih masuk akal, tapi kalau naiknya tidak masuk akal kan kasihan mereka ini yang memang mereka jenazahnya protap pemakamannya harus dikremasi," kata dia.

Untuk itu, dia meminta agar Pemprov DKI Jakarta bisa memberikan fasilitas krematorium untuk warga yang jenazahnya dikremasi.

https://megapolitan.kompas.com/read/2021/07/21/05215261/krematorium-cilincing-tarik-tarif-kremasi-rp-7-juta-gratis-bagi-keluarga

Terkini Lainnya

Kemunculan Lawan Berat Setelah Anies Umumkan Maju Pilkada Jakarta, Ahmed Zaki: Sah-sah Saja...

Kemunculan Lawan Berat Setelah Anies Umumkan Maju Pilkada Jakarta, Ahmed Zaki: Sah-sah Saja...

Megapolitan
Wanita di Depok Mengaku Malaikat, Paksa Warga Beri Uang Rp 1 Juta Sambil Marah-marah

Wanita di Depok Mengaku Malaikat, Paksa Warga Beri Uang Rp 1 Juta Sambil Marah-marah

Megapolitan
Golkar Masih Tunggu Keputusan DPP Untuk Pilkada Jakarta 2024

Golkar Masih Tunggu Keputusan DPP Untuk Pilkada Jakarta 2024

Megapolitan
Pemkot Jakarta Pusat Lantik 97 Petugas Pemeriksa Kesehatan Hewan untuk Bertugas saat Idul Adha

Pemkot Jakarta Pusat Lantik 97 Petugas Pemeriksa Kesehatan Hewan untuk Bertugas saat Idul Adha

Megapolitan
Kebakaran Akibat Gas Bocor, Warga Bogor Alami Luka Bakar 30 Persen

Kebakaran Akibat Gas Bocor, Warga Bogor Alami Luka Bakar 30 Persen

Megapolitan
Klaster C Rusunawa Marunda yang Terbengkalai Direvitalisasi Tahun Ini

Klaster C Rusunawa Marunda yang Terbengkalai Direvitalisasi Tahun Ini

Megapolitan
Dianiaya Pacar Sampai Babak Belur, Korban: Ini Bukan Kali Pertama

Dianiaya Pacar Sampai Babak Belur, Korban: Ini Bukan Kali Pertama

Megapolitan
Korban Penganiayaan Pacar di Tangsel: Dia Minta Maaf dan Peluk Saya Setelah Ancam Membunuh

Korban Penganiayaan Pacar di Tangsel: Dia Minta Maaf dan Peluk Saya Setelah Ancam Membunuh

Megapolitan
Polda Metro Tangkap 59 Pelaku Judi “Online” Dari 23 Kasus Sepanjang 2020-2024

Polda Metro Tangkap 59 Pelaku Judi “Online” Dari 23 Kasus Sepanjang 2020-2024

Megapolitan
Fotografer yang Cekcok dengan Sekuriti GBK Sempat Dihubungi Orang yang Mengaku Atasan Para Pelaku

Fotografer yang Cekcok dengan Sekuriti GBK Sempat Dihubungi Orang yang Mengaku Atasan Para Pelaku

Megapolitan
Komisi X DPR Kunjungi Pemkot Bogor, Bahas Problem Kurangnya Jumlah Sekolah

Komisi X DPR Kunjungi Pemkot Bogor, Bahas Problem Kurangnya Jumlah Sekolah

Megapolitan
Selain Dianiaya, Wanita di Tangsel Mengaku Sempat Diancam Dibunuh Kekasihnya

Selain Dianiaya, Wanita di Tangsel Mengaku Sempat Diancam Dibunuh Kekasihnya

Megapolitan
Anies Dianggap Pragmatis jika Duet dengan Kaesang dalam Pilkada Jakarta

Anies Dianggap Pragmatis jika Duet dengan Kaesang dalam Pilkada Jakarta

Megapolitan
Emosi Sekuriti GBK, Cekcok dengan Fotografer hingga Nyaris Adu Jotos Berujung Dipindahtugaskan

Emosi Sekuriti GBK, Cekcok dengan Fotografer hingga Nyaris Adu Jotos Berujung Dipindahtugaskan

Megapolitan
Pedagang Es di Bogor Jadi Korban Ekshibisionis, Korban Ketakutan hingga Trauma Buat Kembali Jualan

Pedagang Es di Bogor Jadi Korban Ekshibisionis, Korban Ketakutan hingga Trauma Buat Kembali Jualan

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke