Salin Artikel

Ragam Respons Jukir Liar Saat Ditertibkan, Ada yang Pasrah dan Mengaku Setor ke Ormas

JAKARTA, KOMPAS.com - Belasan juru parkir (jukir) liar ditertibkan Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2024).

Kompas.com berkesempatan untuk mengikuti tiap langkah petugas Sudinhub tatkala melakukan penertiban bersama Satpol PP.

Setiap jukir liar yang didatangi petugas menunjukkan reaksi beragam.

Ada yang kaget dan pasrah ketika disatroni. Namun, ada juga yang tetap tenang ketika dihampiri.

Dalam kegiatan ini, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan Bernad Octavianus Pasaribu menyebut, ada 11 orang yang terjaring razia.

Mereka semua adalah jukir liar yang berjaga di minimarket.

Semua jukir yang tertangkap basah kemudian langsung dibina dan diberikan informasi bahwa profesinya melanggar Peraturan Daerah (Perda).

“Saat kami menemukan juru parkir liar, kami melakukan pembinaan, salah satunya dengan memberikan arahan atau aturan terkait dengan pelanggaran yang dilakukan,” kata Bernad di kantornya.

“Yang bersangkutan lalu diminta membuat surat pernyataan untuk tak lagi menjadi jukir liar,” sambung dia.

Tak tahu profesinya dilarang

Husin (70), jukir liar di sebuah minimarket Jalan KH Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, hanya bisa pasrah saat diminta untuk berhenti dari pekerjaannya.

Ia mengaku, tak mengetahui ada Perda yang mengatur perihal jukir.

“Iya pak, saya terima dengan lapang dada. Saya berterima kasih karena sudah diberitahu bahwa menjadi tukang parkir itu dilarang,” kata dia kepada petugas yang menyatroninya.

Husin menegaskan, dirinya tak ambil hati dan tak keberatan untuk meninggalkan profesinya.

Ia bahkan berjanji untuk berhenti menjadi seorang jukir.

“Namanya dilarang, mau gimana, kan itu peraturan, saya enggak keberatan,” ungkap dia.

Husin mengungkapkan, baru beberapa bulan terakhir menekuni profesi sebagai jukir di minimarket.

Ia terpaksa menjadi jukir karena kesulitan mendapatkan pekerjaan di usia senjanya.

Terlebih, penyakit glaukoma yang menyerang matanya membuat mayoritas pemberi kerja enggan memberinya kesempatan.

“Saya sudah lama enggak kerja, mata saya kurang awas, saya menderita glaukoma. Ini juga jadi jukir cuma beberapa jam setiap hari, paling dua jam, buat cari uang untuk sarapan saja. Karena ada jukir yang sebenarnya,” ucap dia.

Bakal beralih profesi

Senada dengan Husin, jukir liar lain di Jalan KH Abdullah Syafei bernama Bagus (48) juga bakal beralih profesi dalam waktu dekat.

Ia akan kembali menekuni profesi lamanya, yakni pengemudi ojek online (ojol).

“Kalau memang dilarang (jadi jukir), mungkin saya bakal ngojek full time saja nanti,” kata dia.

Bagus mengungkapkan, profesi ojol telah ditekuninya selama beberapa tahun.

Namun, ia mulai beralih menjadi jukir ketika ada kenalan yang menawarinya pekerjaan untuk menjaga parkiran minimarket.

“Saya baru satu tahun jadi jukir, dulu ditawarin teman. Jadi ngojek cuma sampingan saja setelah itu,” ungkap dia.

Bingung biayai anak istri

Berbeda dengan Husin dan Bagus, seorang jukir minimarket bernama Matsuri (46) keberatan jika harus meninggalkan profesinya.

Hal itu disebabkan karena profesi ini telah ditekuninya selama satu dekade terakhir.

Dari hasil jukir, Matsuri bisa membiayai anak-anaknya sekolah dan membuat dapur di rumahnya selalu ngebul.

“Saya sebenarnya ikut saja kalau aturannya gitu, tetapi nanti bagaimana dengan anak dan istri saya, mau makan apa mereka,” kata Matsuri di minimarket Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet.

Ia merasa tak melakukan pekerjaan yang ilegal.

Pasalnya, pihak minimarket telah memberinya izin untuk menjaga dan mengatur parkiran.

“Saya sejak 2014 menjadi jukir di sini, enggak ada larangan selama 10 tahun ke belakang, baru ini. Saya juga telah mendapat izin dari pihak minimarket,” ucap dia.

Setoran ke oknum ormas dan aparat

Beberapa jukir yang terjaring razia tak menampik bahwa mereka harus memberikan setoran kepada oknum tertentu setiap harinya.

Matsuri mengaku memberikan sejumlah uang kepada oknum berseragam setiap harinya.

“Saya sih setor juga ke oknum-oknum sini lah, yang pegang wilayah sini,” ujar dia.

Namun, Matsuri enggan membeberkan lebih rinci terkait siapa oknum yang diberikan uang setoran olehnya.

Ia hanya memberitahu bahwa oknum itu adalah aparat yang memiliki kantor tak jauh dari lokasi minimarket.

“Iya biasalah, kalau daerah sini dipegang sama mereka (oknum). Kantornya tak jauh dari sini,” tutur dia.

Sementara itu, Bagus juga membenarkan bahwa dirinya harus memberikan setoran usai shift kerjanya sebagai jukir berakhir.

Berbeda dengan Matsuri, oknum yang diberi setoran oleh Bagus disinyalir merupakan organisasi masyarakat (ormas).

“Kalau itu (kasih setoran) ada. Saya kasih ke kelompok yang menaungi parkir di wilayah ini,” imbuh dia.

https://megapolitan.kompas.com/read/2024/05/16/12394941/ragam-respons-jukir-liar-saat-ditertibkan-ada-yang-pasrah-dan-mengaku

Terkini Lainnya

Virgoun dan Teman Wanitanya Ditetapkan Tersangka Kasus Narkotika

Virgoun dan Teman Wanitanya Ditetapkan Tersangka Kasus Narkotika

Megapolitan
Hendak Maju Pilkada Bogor, Atang Trisnanto Tunggu SK dari PKS

Hendak Maju Pilkada Bogor, Atang Trisnanto Tunggu SK dari PKS

Megapolitan
Walkot Depok Idris Terbitkan Surat Edaran Netralitas ASN Untuk Pilkada 2024

Walkot Depok Idris Terbitkan Surat Edaran Netralitas ASN Untuk Pilkada 2024

Megapolitan
Jalan di Depan KPU Jakut Ditutup imbas Pelaksanaan Rekapitulasi Ulang Hasil Pileg

Jalan di Depan KPU Jakut Ditutup imbas Pelaksanaan Rekapitulasi Ulang Hasil Pileg

Megapolitan
Batal Bangun Masjid Agung, Pemkot Depok Mau Bersihkan SDN Pondok Cina 1 Lebih Dulu

Batal Bangun Masjid Agung, Pemkot Depok Mau Bersihkan SDN Pondok Cina 1 Lebih Dulu

Megapolitan
KPU Jakut Pastikan Rekapitulasi Ulang Hasil Pileg untuk 233 TPS di Cilincing Transparan

KPU Jakut Pastikan Rekapitulasi Ulang Hasil Pileg untuk 233 TPS di Cilincing Transparan

Megapolitan
Pulang ke Tanah Air, Berikut Jadwal Tiba Jemaah Haji Kota Bogor

Pulang ke Tanah Air, Berikut Jadwal Tiba Jemaah Haji Kota Bogor

Megapolitan
Panitia Konser Lentera Festival Tak Berani Muncul Hadapi Penonton Saat Gagal Bayar Bintang Tamu

Panitia Konser Lentera Festival Tak Berani Muncul Hadapi Penonton Saat Gagal Bayar Bintang Tamu

Megapolitan
PPDB SD dan SMP di Kota Bogor Masih Berproses, Pemkot Pastikan Berjalan Sesuai Aturan

PPDB SD dan SMP di Kota Bogor Masih Berproses, Pemkot Pastikan Berjalan Sesuai Aturan

Megapolitan
Nasib Gedung SDN Pondok Cina 1 Belum Dipastikan, Wali Kota: Bisa untuk Taman, Macam-macam...

Nasib Gedung SDN Pondok Cina 1 Belum Dipastikan, Wali Kota: Bisa untuk Taman, Macam-macam...

Megapolitan
Penjambret Beraksi di Dekat Mapolsek Kelapa Gading, Polisi Buru Pelaku

Penjambret Beraksi di Dekat Mapolsek Kelapa Gading, Polisi Buru Pelaku

Megapolitan
Pembunuh Pedagang Perabot di Duren Sawit Dipastikan Hanya Seorang, Bukan Dua

Pembunuh Pedagang Perabot di Duren Sawit Dipastikan Hanya Seorang, Bukan Dua

Megapolitan
Pembangunan Masjid di Lahan SDN Pondok Cina 1 Batal, Idris: Ridwan Kamil Sudah Enggak Menjabat

Pembangunan Masjid di Lahan SDN Pondok Cina 1 Batal, Idris: Ridwan Kamil Sudah Enggak Menjabat

Megapolitan
Jemaah Haji Asal Bogor yang Meninggal di Mekah Sempat Dirawat di RS Mina

Jemaah Haji Asal Bogor yang Meninggal di Mekah Sempat Dirawat di RS Mina

Megapolitan
Menerka Jalan Politik Ahok, Bertarung Lagi di Pilkada Jakarta atau Tak Jadi Apa-apa

Menerka Jalan Politik Ahok, Bertarung Lagi di Pilkada Jakarta atau Tak Jadi Apa-apa

Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke