JEO - News

Geliat Narkoba
di Kampus:
Persekongkolan
Mahasiswa, Alumnus,
dan Sekuriti

Rabu, 21 Agustus 2019 | 08:01 WIB

Narkoba menjamah berbagai kalangan. Dunia kampus tak terkecuali. Gudangnya para intelektual berada. Di sana, narkoba bergerak senyap tetapi masif.

Narkoba menggeliat dari tangan bandar besar hingga ke para kaki tangan mereka di dalam kampus. Mereka yang berada di kampus tahu, tetapi memilih tutup mata. Iming-iming sejumput uang menutupi aksi sindikat ini.

PADA 2014, petugas gabungan dari kepolisian dan Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) DKI Jakarta dua kali menggeledah kampus Universitas Nasional.

Penggeledahan terkait dugaan jaringan pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di sana. Dari dua kali penggeledahan itu, disita 8,5 kilogram ganja.

Paket ganja pertama, ditemukan pada 13 Agustus 2014, sebanyak lima kilogram. Lalu, pada pada 19 Agustus 2014, ditemukan lagi 3,5 kilogram ganja.

Beberapa paket ganja tersebar di sejumlah ruang dan area kampus.

Sebagian ditemukan di gedung serba guna dan perpustakaan. Ada juga di ruang Akademi Pariwisata Unas, di sela pohon bambu, serta di dekat Studio Krem—tempat UKM Musik.

Kebanyakan paket ganja itu tersimpan dalam sebuah tas atau kantong plastik warna hitam. Selain ganja, juga ditemukan bong atau alat hisap sabu dan timbangan digital.

Lima tahun berlalu sejak hari itu. Sisi gelap kampus seakan makin terang-benderang setelah polisi getol melakukan razia narkoba ke sana. 

Kasus penggerebekan narkoba di kampus pada 2014 jadi salah satu catatan utama di pemberitaan harian Kompas edisi 24 Desember 2014 - (DOK KOMPAS/DICKY)

Terbaru, dua mahasiswa universitas swasta di Jakarta Timur pada 28 Juli 2019 diamankan Polres Metro Jakarta Barat. Mereka kedapatan menyimpan ganja di ruang senat kampusnya.

Berdasarkan informasi dari tim penyidik, diduga kedua oknum mahasiswa ini merupakan pemasok ganja ke kampus-kampus yang ada di Jakarta.

Saat penangkapan, polisi menemukan puluhan kilogram ganja yang sudah dikemas dan siap edar di ruang senat tersebut.

Kampus, "surga" narkoba?

MemprihatinkanMahasiswa yang seharusnya jadi agen perubahan malah terlibat jaringan peredaran barang haram.

Kampus, bukannya jadi kawah candradimuka para cendekia, malah jadi "surga" peredaran narkoba. 

Kepala Unit (Kanit) 3 Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKP Achmad Ardhy mengatakan, oknum mahasiswa pengedar ganja di dalam kampus menjual ganja secara terang-terangan.

"Awalnya, kami pancing dia untuk transaksi di luar kampus, mereka enggak mau. Karena merasa di dalam kampus lebih aman, mereka tarik kami dan transaksi di dalam (kampus)," kata Ardhy di Mapolres Jakarta Barat, Senin (29/7/2019).

Barang bukti dari penangkapan dua oknum mahasiswa kampus di Jakarta Timur pada Minggu (28/7/2019) karena ketahuan menyimpan beberapa kilogram ganja di ruang senat. Kedua mahasiswa ditangkap personel kepolisian Jakarta Barat.
DOK POLRES METRO JAKARTA BARAT
Barang bukti dari penangkapan dua oknum mahasiswa kampus di Jakarta Timur pada Minggu (28/7/2019) karena ketahuan menyimpan beberapa kilogram ganja di ruang senat. Kedua mahasiswa ditangkap personel kepolisian Jakarta Barat.

Menurut Ardhy, para pelaku menunjukkan barang-barang haram dagangannya secara terang-terangan. Lokasinya, salah satu ruang di fakultas kampus. 

Selain itu, dari pengakuan kedua tersangka berinisial PHS dan TW, setiap sore beberapa mahasiswa menghisap ganja di sekitar kampus.

 "Di taman kampus dipakai buat ngeganja. Selesai kuliah, mereka pasti pakai," lanjut Ardhy.

Mahasiswa berprestasi

Oknum mahasiswa pengedar ganja di salah satu kampus di Jakarta Timur yang berinisial PHS, bahkan diketahui sebagai mahasiswa aktif dan berprestasi.

"Yang di samping saya ini adalah salah satu mahasiswa berprestasi. Dia memiliki IPK lebih dari 3," kata Kepala Satuan (Kasat) Narkoba Jakarta Barat AKBP Erick Frendriz di Mapolres Jakarta Barat, Senin (29/7/2019).

Ardhy menambahkan, PHS punya "jabatan" sebagai kepala bagian organisasi besar di kampusnya.

Latar belakang PHS adalah keluarga berkecukupan. Dengan latar belakang ini, polisi masih mendalami lebih lanjut motif PHS menjual ganja. 

Ganja paling populer

Di antara jenis narkoba yang ada, ganja disebut sebagai produk paling laris dipakai mahasiswa. 

"Ganja itu dianggap paling murah harganya, paling mudah didapat dibanding jenis narkoba lain," kata Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Vivick Tjangkung.

Satu lipat ganja, sebut dia, dijual seharga Rp 50.000 hingga Rp 70.000. Peredaran narkoba di kampus pun dilakukan antar-teman.

"Kenapa murah? Kita tahu uang jajan mahasiswa itu yang diberikan orangtua itu enggak begitu banyak. Jadi mereka bisa menyisihkan untuk membeli itu," lanjutnya.

Jaringan antar-teman

Awalnya, seorang mahasiswa menawarkan barang haram kepada rekannya. Tawaran berlanjut ke teman yang lain lagi. Itu berlanjut sampai terbentuk jaringan terstruktur. 

"Modus peredaran narkoba yang digunakan di kampus itu modus pertemanan. Mereka membuka jaringan pertemanan, komunikasi dari satu orang ke orang lain hingga membentuk satu komunitas," ungkap Vivick.

Para mahasiswa pengguna ganja biasanya menggunakan narkoba untuk mendapatkan sensasi efeknya. Alasan lain, menghilangkan kantuk atau lelah. 

"Efek penggunaan ganja bisa sampai setengah jam. Mereka (mahasiswa) pun merasa sudah cukup," kata Vivick.

Menurut Vivick, para mahasiswa memakai ganja hanya untuk bisa cepat tidur. Namun, penggunaan ini cenderung bersambung dan berulang.

"Kalau mereka menggunakan itu (ganja), waktunya hanya sampai 2-3 jam, setelah itu mereka tersadar lagi. Lalu, mereka akan mengonsumsi lagi," ungkap Vivick.

Info peredaran

Polisi, lanjut Vivick, mengetahui soal peredaran narkoba di kampus dari para bandar atau pengguna narkoba yang sudah tertangkap lebih dulu.

Kadang, ada juga informasi dari dalam kampus ke polisi. Razia narkoba ke kampus pun, ujar Vivick, dilakukan tanpa banyak woro-woro termasuk ke media massa. 

"(Pakai) operasi tertutup. Operasi penyusupan harus aktif kita lakukan untuk menutup jaringan peredaran narkoba itu," ungkap Vivick.

Masalahnya, seluruh kampus di wilayah Jakarta ditengarai telah dimasuki jaringan narkoba.

"Karena itu, kami meminta manajemen kampus untuk membuka diri dan membiarkan kami masuk dan memutus peredaran narkoba di kampus," kata Vivick. 

BLAK-BLAKAN BANDAR 

DARI terungkapnya "pasar" ganja di kampus, beragam pertanyaan lalu muncul. Misal, bagaimana bisa kampus selonggar itu dimasuki barang haram?

Pertanyaan lain, mengapa mahasiswa terjeblos ke dunia hitam bahkan menjual atau terlibat jejaring pengedar?

Kompas.com mewawancarai bekas pengedar ganja yang dulu adalah mahasiswa di salah satu kampus di Jakarta. Sebut saja namanya Charlie.

Ilustrasi bandar atau pengedar narkoba - (DOK KOMPAS/HANDINING)

Lewat percakapan santai, Charlie bercerita dari awal mula terlibat urusan narkoba, alasan, hingga mengungkap aktor di balik bisnis barang haram tersebut. 

Berikut ini obrolan dimaksud, dalam format tanya jawab:

Bagaimana mulanya Anda terjun di dunia peredaran narkoba? 

Jadi kebetulan 2009 itu gua dikenalkan sama seorang bandar. Bandar ini kebetulan dia satu-satunya "pemain" di kampus.

Nah, awalnya gua dikasih bungkusan kecil-kecil. Bungkusan kecil kecil itu gua jual, nanti gua setoran.

Awalnya gua mulai karena gua suka dan awalnya gua beli rutin. Mau enggak mau gua kerjain.

Gua dikasih sekitar 50 bungkus, satunya Rp 25 ribu. Satu empel satu bungkus kecil, dan gua harus setoran setiap hari.

Karena pasar memang sudah jelas di kampus dan jelas banyak orang yang suka, gampang lah jualnya. Kawan gua banyak.

Ya alasanya itu, karena gua enggak punya duit rutin untuk membeli, akhirnya gua harus mengerjakan (menjual) karena ketika gua mengerjakan, gua dapat.

Berjalan waktu, karena dilihat gua bagus menjalakan manajemennya,  gua ditawarin partai besar. Sekilo!

Apakah harus dari mahasiswa internal yang menjadi “pemainnya”?

Jadi kalau di kampus ini sistemnya harus tetap senioritas. Pada saat itu enggak boleh kami sembarangan beredar.

Tidak boleh ada anak (luar kampus) masuk mau main, tidak boleh. Karena kalau itu membahayakan "pergerakan" di kampus.

Karena kalau banyak pemain tidak dikontrol, itu membahayakan. Harusnya sentral, satu orang yang kuasain, seperti itu.

Makanya itulah yang bikin kampus itu susah dijebol, karena (pengedar) satu orang, tidak sembarangan. Jadi tidak kayak pasar, enggak semua bisa masuk.