Pengusaha: Tarif Penyeberangan Jangan Turun

Kompas.com - 19/12/2008, 20:50 WIB
Editor

SURABAYA, JUMAT- Pengusaha angkutan penyeberangan berharap tarif angkutan penyeberangan sebaiknya tak diturunkan. Hal ini terkait tingginya biaya operasional kapal yang diperparah dengan imbas krisis keuangan global.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan atau Gapasdap Sjarifuddin Mallarangan, Jumat (19/12), di Surabaya.

Keputusan Menteri Perhubungan nomor 28 tahun 2008 tentang tarif angkutan penyeberangan antar provinsi menetapkan harga tarif penyeberangan naik 9,23 persen dari pengusulan tarif Gapasdap sebesar 32,06 persen. Kenaikan tarif tersebut berlangsung saat harga bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar naik dari Rp 4.300 per liter menjadi Rp 5.500 per liter pada April 2008 lalu.

"Kenaikan tarif belum menutupi biaya pokok penyeberangan. Agar biaya operasional tertutup, idealnya kenaikan tarif waktu itu sebesar 32,06," ujarnya.

Menurut Sjarifuddin , penentuan tarif penyeberangan saat ini didasarkan pada nilai kapal yang rata-rata ditaksir Rp 35 miliar per unit. Padahal, nilai kapal realistis sekitar Rp 35 miliar per unit. Dengan demikian, pengusaha angkutan sulit melakukan peremajaan dan perbaikan kapal.

Selain harga BBM, pengusaha penyeberangan juga mengeluhkan tingginya biaya perawatan dan galangan kapal, khususnya pasca krisis keuangan global. Harga suku cadang dan komponen perawatan kapal melambung karena meningkatnya dollar Amerika, Euro, dan Yen Jepang.

Menyikapi hal ini, Sjarifuddin berharap pemerintah membebaskan biaya fiskal impor suku cadang kapal, serta keringanan pajak. Kebijakan ini mendesak karena pendapatan usaha penyeberangan dipastikan turun dengan menyusutnya volume muatan (load f actor) angkutan penyeberangan sebesar 30 persen pasca krisis keuangan global.

Penurunan volume angkutan penyeberangan dirasakan PT Pelindo III. Menurut Direktur Operasional PT Pelindo III Faris Assegaf, sejak krisis keuangan global arus bongkar muat eskpo r dan impor di Pelabuhan Tanjung Perak turun sekitar 20 persen hingga 30 persen. Sementara itu, volume angkutan domestik turun sekitar lima persen.

Kepala Humas Pelindo III Iwan Sabatini menambahkan, penurunan arus bongkar muat ini terjadi dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, volume total arus bongkar muat PT Pelindo III tahun 2008 tetap tumbuh tujuh persen dengan nilai omzet Rp 1,8 triliun dan laba bersih Rp 512 miliar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.