Buddha Bar Sudah Penuhi Izin Restoran

Kompas.com - 12/03/2009, 20:45 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Restoran Buddha-Bar yang menggunakan gedung cagar budaya eks Imigrasi di Menteng, Jakarta Pusat, dipastikan legal dan sudah memenuhi semua izin yang dibutuhkan. Penggunaan bangunan tua itu juga dinilai tidak melanggar peruntukan karena salah satu fungsi yang diizinkan adalah restoran.

Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan itu, Kamis (12/3), saat dihubungi guna menanggapi tuntutan beberapa anggota DPRD untuk menutup restoran itu.

Sebelumnya, beberapa anggota DPRD DKI Jakarta meminta Buddha Bar ditutup karena melanggar peruntukan gedung cagar budaya. Pemprov DKI Jakarta dinilai telah menyewakan gedung cagar budaya untuk aktivitas tempat hiburan, yang berbeda dari peruntukannya sebagai galeri.

Menurut Arie, peruntukan bagi gedung di Jalan Teuku Umar Nomor 1 itu adalah galeri dan restoran. Dengan kondisi ini, penggunaan gedung sebagai restoran tidak dapat disebut melanggar peruntukan.

"Semua izin yang diperlukan untuk mengoperasikan sebuah restoran sudah dipenuhi oleh pengelola. Buddha Bar adalah restoran, bukan sebuah bar. Kata bar yang dimaksud adalah tiang atau penyangga, bukan bar tempat hiburan," kata Arie.

Pengelola restoran, kata Arie, juga sudah mendapat Hak Atas Kekayaan Intelektual untuk nama dagang Buddha Bar di Indonesia. Nama dagang itu mengikuti waralaba dari Perancis.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Lieus Sungkharisma, meminta semua umat Buddha untuk tidak melanjutkan polemik mengenai penggunaan nama Buddha pada restoran Buddha Bar. Umat Buddha juga diminta tidak melakukan demonstrasi untuk menolak keberadaan Buddha Bar karena tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Buddha.

Lieus mengatakan, seorang Buddhis sejati selalu mengedepankan dialog dan sifat welas asih dalam menghadapi perbedaan pendapat. Umat Buddha diminta tidak terjebak dalam pemahaman Buddha secara elementer.

"Saya menyaksikan patung Buddha di sana dirawat dan ditempatkan di tempat terhormat, meskipun tidak menjadi tempat pemujaan. Sebagai penganut Buddha, saya bangga karena orang-orang yang datang merasa nyaman dengan patung Buddha itu. Jika ditempatkan di tempat terhormat, penistaannya di mana?" kata Lieus.

Lieus juga tidak mempersoalkan penggunaan nama Buddha pada restoran itu. Saat ini banyak nama Buddha digunakan untuk nama spa, kafe, massage, dan aktivitas komersial lainnya.

Menurut Lieus, kelompok-kelompok yang menolak penamaan Buddha Bar sebaiknya mengajukan tuntutan ke pengadilan niaga. Penolakan penggunaan nama Buddha Bar tidak boleh dipolitisasi dan dikaitkan dengan calon presiden tertentu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemprov Akan 'Grebek Lumpur' Saluran PHB Saharjo yang Hampir 2 Tahun Tak Dikeruk

Pemprov Akan "Grebek Lumpur" Saluran PHB Saharjo yang Hampir 2 Tahun Tak Dikeruk

Megapolitan
PHRI: Hotel Jadi Tempat Isolasi jika RSD Wisma Atlet dan RS Lainnya Sudah Penuh

PHRI: Hotel Jadi Tempat Isolasi jika RSD Wisma Atlet dan RS Lainnya Sudah Penuh

Megapolitan
Cuti untuk Kampanye Pilkada Depok, Pradi Supriatna Tegaskan Bukan Waktunya Berleha-leha

Cuti untuk Kampanye Pilkada Depok, Pradi Supriatna Tegaskan Bukan Waktunya Berleha-leha

Megapolitan
Kisah di Balik Video Bocah Asal Bekasi Lantunkan Ayat Al-Quran Saat Dirawat di RSPAD

Kisah di Balik Video Bocah Asal Bekasi Lantunkan Ayat Al-Quran Saat Dirawat di RSPAD

Megapolitan
Ada Diskon 25 Persen, Ini Harga Tiket Sejumlah Kereta yang Berangkat dari Jakarta

Ada Diskon 25 Persen, Ini Harga Tiket Sejumlah Kereta yang Berangkat dari Jakarta

Megapolitan
Melebihi Kapasitas, Kafe di Serpong Didenda Rp 5 Juta

Melebihi Kapasitas, Kafe di Serpong Didenda Rp 5 Juta

Megapolitan
Akhir Pelarian Tersangka Pelecehan di Bandara Soetta, Ditangkap di Sumut Setelah Buron Berhari-hari

Akhir Pelarian Tersangka Pelecehan di Bandara Soetta, Ditangkap di Sumut Setelah Buron Berhari-hari

Megapolitan
Pecah Kongsi Wali Kota Depok dan Wakilnya, Bersiap 'Saling Sikut' di Masa Kampanye

Pecah Kongsi Wali Kota Depok dan Wakilnya, Bersiap 'Saling Sikut' di Masa Kampanye

Megapolitan
Polisi Dalami Peredaran Ekstasi dari Rumah di Cipondoh Tangerang

Polisi Dalami Peredaran Ekstasi dari Rumah di Cipondoh Tangerang

Megapolitan
UPDATE 25 September: 3.572 Kasus Covid-19 di Depok, 897 Kasus Aktif

UPDATE 25 September: 3.572 Kasus Covid-19 di Depok, 897 Kasus Aktif

Megapolitan
Antisipasi Antrean Tes Swab, Pemkot Bekasi Tambah Mesin PCR di 3 RSUD

Antisipasi Antrean Tes Swab, Pemkot Bekasi Tambah Mesin PCR di 3 RSUD

Megapolitan
BMKG: Hari Ini Sebagian Jabodetabek Hujan Ringan

BMKG: Hari Ini Sebagian Jabodetabek Hujan Ringan

Megapolitan
Apresiasi Kinerja, Pemkot Bekasi Beri Insentif ke Petugas Pemulasaraan Jenazah Covid-19 TPU Pedurenan

Apresiasi Kinerja, Pemkot Bekasi Beri Insentif ke Petugas Pemulasaraan Jenazah Covid-19 TPU Pedurenan

Megapolitan
Proses Aborsi di Klinik Ilegal Jakarta Pusat Hanya Berlangsung 15 menit

Proses Aborsi di Klinik Ilegal Jakarta Pusat Hanya Berlangsung 15 menit

Megapolitan
Polisi Gerebek Rumah yang Dijadikan Pabrik Ekstasi di Tangerang

Polisi Gerebek Rumah yang Dijadikan Pabrik Ekstasi di Tangerang

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X