Polri: Kami Tidak Pernah Menahan Prita

Kompas.com - 03/06/2009, 16:29 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira mengatakan, penyidik kepolisian tidak pernah menahan Prita Mulyasari, tersangka kasus pencemaran nama baik.

"Kendati ancaman hukuman dia enam tahun penjara, namun penyidik kepolisian tidak menahannya selama proses penyidikan," katanya di Jakarta, Rabu (3/6).

Ia mengatakan, penahanan tersangka justru dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Tangerang setelah polisi melimpahkan berkas dan tersangka ke jaksa penuntut umum. "Jadi, kalau tanya soal penahanan, tanya saja ke kejaksaan. Itu wewenang jaksa," katanya.

Penahanan Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga di Tangerang, oleh Kejari Tangerang sejak 13 Mei 2009 sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik RS Omni Internasional di Tangerang, menuai banyak protes sejumlah kalangan.

Kaukus Parlemen Untuk HAM DPR RI juga menyesalkan peristiwa penahanan Prita Mulyasari, pasien yang digugat RS Omni Internasional karena mencemarkan nama baik, dan mendesak Mahkamah Agung untuk membatalkan segala tuntutan hukum atas Prita.

Anggota Fraksi PPP DPR yang tergabung dalam kaukus itu, Lena Maryana Mukti, mengatakan bahwa Prita Mulyasari pada hakekatnya adalah korban atau konsumen RS Omni Internasional yang sepatutnya justru mendapat keadilan atas tidak diperolehnya hak-hak yang bersangkutan.

Selain itu, ujar Lena, menulis keluhan melalui internet juga merupakan bagian dari tindakan kontrol masyarakat atas amburadulnya pelayanan publik di negara ini. Kasus itu juga mendapat perhatian dari Wapres Jusuf Kalla dan capres Megawati Soekarnoputri.

Megawati sempat mengunjungi Lapas Perempuan Tangerang, tempat penahanan Prita, Rabu, sekitar pukul 15.00 WIB. Namun, pada pukul 16.00 WIB, Prita bisa meninggalkan Lapas Tangerang setelah mendapat status tahanan kota dari Kejaksaan Negeri Tangerang. Prita akan menjalani sidang perdana di PN Tangerang, 4 Juni 2009.

Dalam kasus ini, Prita dituduh telah menyebarkan e-mail kepada kawan-kawannya yang berisi keluhan atas pelayanan RS Omni. Kemudian, RS Omni mengadukan kasus ini secara pidana karena isi e-mail itu dianggap telah mencemarkan nama baik rumah sakit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.