Ruang Bawah Tanah, Solusi Kependudukan Jakarta?

Kompas.com - 14/09/2009, 13:15 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Jika selama ini pemikiran tentang pemanfaatan ruang bawah tanah di Jakarta berkembang hanya sebatas pembangunan subway sebagai bagian dari mass rapid transit (MRT), dosen Kajian Perkotaan Pasca Sarjana Universitas Indonesia Hendricus Andy Simarmata mengatakan, pemanfaatan sebenarnya bisa dikembangkan untuk menjawab masalah kependudukan di Jakarta yang sudah overload.

Berdasarkan pengalaman Belanda, Andy mengatakan, ruang bawah tanah dapat dikembangkan untuk struktur kota, seperti fondasi dan struktur untuk bangunan dan jaringan jalan, parkir mobil, stasiun bawah tanah, sinema, perkantoran, bangunan komersial, pusat perbelanjaan dan perumahan.

"Jelas memungkinkan, itu kan ruang baru. Pemanfaatan ruang bawah tanah bukan untuk menambah fungsi Jakarta lain. Tapi sekarang maka harus cari space baru sehingga bisa mengurangi overload itu," tutur Andy dalam diskusi bertajuk "Pemanfaatan Ruang Bawah Tanah Jakarta: Dilema atau Solusi?" di Jakarta, Senin (14/9).

Andy menyadari pemanfaatan ruang bawah tanah sebagai ruang publik memang justru akan makin memperbesar kapasitas Jakarta sebagai metropolitan. Namun, pemanfaatan ruang bawah tanah sejak awal harus didesain untuk menghadirkan Jakarta sebagai tempat tinggal yang nyaman.

"Mekanisme pasar yang akan menentukan gagal atau tidaknya dengan adanya space baru. Walau sebenarnya, ruang bawah tanah bisa menyediakan space untuk rakyat miskin. Apakah orang-orang akan terus datang lagi? Itu tak hanya solusi jakarta. Tapi yang pasti Jakarta harus menjamin pola kehidupan yang nyaman," ujar Andy.

Memang, yang harus terus digalakkan adalah upaya meyakinkan masyarakat dan sektor privat tentang keamanan dan kenyamanan tinggal dan berada di kedalaman 4-16 meter di bawah permukaan tanah. Andy mengatakan, justru di kedalaman itu suhu udara lebih stabil daripada seperti di permukaan.

Idealnya, menurut Andy, lapisan pertama di kedalaman sekitar empat meter untuk publik, sedangkan lapisan kedua di kedalaman 16 meter bisa disewakan untuk sektor swasta. Tak perlu takut banjir ataupun gempa karena, tentu saja, pemanfaatan ruang bawah tanah ini menggunakan teknologi tinggi.

"Tapi yang paling penting, kita dorong dulu aturannya yang melibatkan banyak departemen pemerintahan. Harus ada payung hukum dan pemahaman yang sama sampai tahap yang detail," tandas Andy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.