Sehari Hidup dengan Rp 4.000

Kompas.com - 21/10/2009, 06:23 WIB
Editorjimbon
KOMPAS.com - Nyeruput teh dulu di sini, Neng. Panas banget,” ajak Kusnan (47) sambil menuju lapak warung minuman di sudut Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, Selasa (20/10). Setumpuk celana pendek dagangannya disampirkan di sandaran kursi plastik. Tas pinggang dibukanya, hanya tampak empat lembar uang ribuan dan buku catatan kecil kumal.

Kusnan mencomot sepotong tempe goreng dan meneguk teh hangat, makan siangnya hari itu. ”Beginilah, sudah dari jam delapan keliling pasar, baru empat orang yang bayar kredit celana. Kalau lagi untung, setengah hari begini sudah dapat Rp 15.000, bisa makan nasi saya,” katanya.

Kusnan salah satu dari banyak penjual pakaian secara kredit dengan daerah operasi di pasar-pasar dan perkampungan di Jakarta. Selain celana pendek, dagangan mereka antara lain daster, pakaian anak-anak, celana jin, busana muslim, hingga pakaian dalam perempuan.

Konsumen mereka mulai dari pekerja di pasar, pemilik lapak-lapak kecil, hingga ibu-ibu rumah tangga. Harga dagangan mulai dari Rp 10.000 untuk tiga pakaian dalam anak-anak sampai Rp 200.000 untuk satu setel busana muslim plus kerudung atau jilbab. Waktu dan besar cicilan disesuaikan dengan kemampuan konsumen.

Harga celana pendek dagangan Kusnan, misalnya, rata–rata Rp 10.000-Rp 20.000. Yang berminat cukup membayar Rp 1.000 per hari. ”Setiap hari, paling tidak ada satu sampai 20 celana bisa saya jual. Cicilan pertama dibayar saat itu juga. Pemasukan lain dari nagih ke pembeli sebelumnya. Sayangnya, selalu saja ada yang menunggak, bahkan tidak bayar karena pindah atau benar-benar tidak punya uang. Mau ditarik barangnya tidak mungkin, sudah telanjur dipakai,” katanya.

Kusnan menambahkan, ia mengambil celana itu dari perajin konveksi yang juga tetangga sebelah rumah petak kontrakannya, tak jauh dari Pasar Cipulir. Bergantung model, bahan, dan ukuran, celana jualannya dipatok Rp 6.000-Rp 12.000 per potong. Kalau lancar, Kusnan sebenarnya bisa untung Rp 4.000-Rp 8.000 setiap satu celana yang lunas terbayar.

Sekitar enam tahun lalu, Kusnan mengaku memiliki lapak kecil tempat ia dan istrinya berdagang pakaian di dekat Pasar Kebayoran Lama. Namun, nasib membawanya menjadi korban gusuran. Lusinan pakaian dan lapak disita petugas, tak pernah kembali. Tanpa modal, Kusnan kesulitan memulai lagi membuka usahanya.

”Saya sudah dari umur 15 tahun merantau dari Tegal, Jawa Tengah, ke sini. Pernah jadi tukang batu sebelum akhirnya bisa buka lapak. Setelah digusur, istri dan tiga anak saya masih butuh makan. Ya sudah, jadi tukang kredit celana. Pendapatan turun, tetapi antigusuran,” katanya tergelak.

Bagi Kusnan, tidak ada alasan untuk tidak tertawa di sela-sela keletihan akibat berkeliling Pasar Cipulir dan kampung-kampung di sekitarnya. Selasa kemarin, jika nasib baik belum menghinggapinya, dipastikan hanya kurang dari Rp 4.000 yang bisa diberikannya kepada sang istri. Yang penting usaha, tegasnya.

Belum tersentuh

”Mau tidak mau, harus mau. Tidak ada yang menolong. Kucuran kredit dari pemerintah kata Neng? Tidak pernah ditawarkan ke kami. Tempat untuk pedagang kecil saja susah, apalagi bantuan modal. Mungkin karena kami enggak punya, jadi enggak pernah ditanyain maunya apa?” tambah Kusnan.

Pekerja nonformal seperti Kusnan hanyalah segelintir orang yang terselip di antara jutaan warga miskin. Di jalanan Ibu Kota, sudut-sudut perempatan, hingga kolong jembatan, tampak kehidupan orang-orang yang tidak punya jalan keluar menggantungkan hidup dari mengemis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2009, tingkat kemiskinan sekarang mencapai 15,4 persen dari sekitar 220 juta penduduk Indonesia. Bagaimana mengentaskan mereka dari kemiskinan?

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Apalagi dalam pidato kenegaraan saat dilantik di Gedung MPR/DPR, Selasa kemarin, SBY menekankan bahwa target utama kinerja pemerintahan dalam lima tahun ke depan adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Masyarakat masih menunggu bisakah target periode pemerintahan terdahulu mereduksi angka kemiskinan menjadi 8,2 persen terpenuhi dalam lima tahun ke depan? Lihat saja nanti. (NELI TRIANA)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fraksi PKS Minta Perda Penanganan Covid-19 Memuat Standardisasi Kegiatan Selama PSBB

Fraksi PKS Minta Perda Penanganan Covid-19 Memuat Standardisasi Kegiatan Selama PSBB

Megapolitan
PSBB Bogor, Depok, Bekasi Diperpajang sampai 27 Oktober, Belum Singgung soal Pengetatan

PSBB Bogor, Depok, Bekasi Diperpajang sampai 27 Oktober, Belum Singgung soal Pengetatan

Megapolitan
Pandemi Covid-19, Acara Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Ade Irma Suryani Ditiadakan

Pandemi Covid-19, Acara Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Ade Irma Suryani Ditiadakan

Megapolitan
Mengenang Ahmad Yani, Jenderal yang Dibunuh dalam Peristiwa G30S

Mengenang Ahmad Yani, Jenderal yang Dibunuh dalam Peristiwa G30S

Megapolitan
Jelang Hari Kesaktian Pancasila, Bendera Setengah Tiang Dikibarkan di Kantor Wali Kota Jaksel

Jelang Hari Kesaktian Pancasila, Bendera Setengah Tiang Dikibarkan di Kantor Wali Kota Jaksel

Megapolitan
Cegah Kerumunan, Pemprov DKI Akan Dirikan Banyak Tenda Pengungsian jika Terjadi Banjir

Cegah Kerumunan, Pemprov DKI Akan Dirikan Banyak Tenda Pengungsian jika Terjadi Banjir

Megapolitan
Depok Curhat, Pemprov Jabar Minim Intervensi saat Kasus Covid-19 Melonjak di Bodebek

Depok Curhat, Pemprov Jabar Minim Intervensi saat Kasus Covid-19 Melonjak di Bodebek

Megapolitan
Pemilik Bimbel Jualan Pepes Ikan demi 400 Pengajarnya yang Dirumahkan

Pemilik Bimbel Jualan Pepes Ikan demi 400 Pengajarnya yang Dirumahkan

Megapolitan
Dokter yang Jadi Tersangka Praktik Aborsi Ilegal di Raden Saleh Meninggal

Dokter yang Jadi Tersangka Praktik Aborsi Ilegal di Raden Saleh Meninggal

Megapolitan
Walkot Sebut Satu Hotel di Bekasi Sudah Disetujui BNPB Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Walkot Sebut Satu Hotel di Bekasi Sudah Disetujui BNPB Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Megapolitan
5 Wilayah Jakarta Catat Kasus Kematian akibat Covid-19 Lebih dari 100 Orang, Ini Sebarannya

5 Wilayah Jakarta Catat Kasus Kematian akibat Covid-19 Lebih dari 100 Orang, Ini Sebarannya

Megapolitan
Sebelumnya Rp 32 Miliar, KPU Akan Koreksi Batas Maksimal Dana Kampanye Paslon Pilkada Tangsel

Sebelumnya Rp 32 Miliar, KPU Akan Koreksi Batas Maksimal Dana Kampanye Paslon Pilkada Tangsel

Megapolitan
Ridwan Kamil Mau Tinjau Langsung Penanganan Covid-19 Bodebek, Depok: Selama Ini Kami Tunggu-tunggu

Ridwan Kamil Mau Tinjau Langsung Penanganan Covid-19 Bodebek, Depok: Selama Ini Kami Tunggu-tunggu

Megapolitan
Benyamin-Pilar Setor Rp 526 Juta sebagai Dana Awal Kampanye Pilkada Tangsel

Benyamin-Pilar Setor Rp 526 Juta sebagai Dana Awal Kampanye Pilkada Tangsel

Megapolitan
Ridwan Kamil Akan Berkantor di Depok, Gugus Tugas Covid-19 Mengaku Belum Diberi Tahu

Ridwan Kamil Akan Berkantor di Depok, Gugus Tugas Covid-19 Mengaku Belum Diberi Tahu

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X