Kisah "Empat Penari" di Tawang

Kompas.com - 09/09/2010, 15:42 WIB
EditorHeru Margianto

KOMPAS.com - Musik instrumentalia mulai mengalun saat sebuah kereta api memasuki Stasiun Tawang. Tak sampai satu menit, musik itu pun berhenti, diganti hiruk- pikuk penumpang. Lagu itu, ”Empat Penari”, siap menyambut pemudik di Semarang, Jawa Tengah.

Ampat penari kian kemari/ jalan berlenggang, aduh…/ Langkah gayanya menurut suara/ irama gambang/ Bersuka ria, gelak tertawa/ Semua orang/ kar’na hati tertarik gerak-gerik/ si tukang gendang/ Ampat penari membikin hati/ menjadi senang, aduh…/ Itulah dia malam gembira/ Gambang Semarang/ Lagu ”Empat Penari” diciptakan oleh ”buaya keroncong” Oey Yok Siang, pada tahun 1940, dengan lirik oleh Sidik Pramono. ”Lagu itu biasanya dimainkan dalam kesenian gambang semarang,” kata pemerhati sejarah Semarang, Jongkie Tio.

Dulu, gambang semarang sering dimainkan penari dan penyanyi keturunan Tionghoa. Mereka berkebaya encim dengan batik ”semarangan”, diiringi kecrek, suling, bonang, gambang, dan gong. Bila diamati dari musiknya, gambang semarang mencerminkan akulturasi budaya China-Jawa.

Mulai dimainkan sejak pra-kemerdekaan, tak heran bila ”Empat Penari” begitu melekat pada diri wong Semarang. ”Itulah sebabnya mengapa ’Empat Penari’ diputar di Stasiun Tawang, untuk menandai bila kereta sudah sampai Semarang,” kata Kepala PT Kereta Api Daerah Operasi IV Semarang Septa Trijono Ramadin, Senin (30/8).

Desainer asal Semarang, Anne Avantie, bahkan menganggap alunan ”Empat Penari” di Tawang sebagai rekan perjuangan. ”Lagu itu tak sekadar lagu bagi saya,” kata Anne. Sebab, kenangan lama selalu menyambanginya begitu mendengar ”Empat Penari”.

Anne memang salah satu pelanggan setia kereta. Telah lebih dari 15 tahun—setidaknya satu minggu sekali—desainer itu bolak-balik dari Semarang ke Jakarta dengan kereta untuk meniti kariernya.

Warga Semarang lain, Nugroho Wahyu Utomo, juga merasakan itu. Baginya, lagu di stasiun menjembatani dirinya dengan masa silam. ”Jangan hilangkan lagu itu. Lewat ’Empat Penari’, saya bernostalgia dengan mengingat-ingat perjalanan hidup selama di Semarang,” katanya.

Sesungguhnya banyak stasiun yang memutar lagu-lagu khas. Stasiun Balapan Solo, misalnya, memainkan ”Bengawan Solo”. Sementara Stasiun Tugu di Yogyakarta memperdengarkan ”Sepasang Mata Bola”. Namun, kata Nugroho, tinggal Stasiun Tawang yang dengan konsisten mendendangkan ”Empat Penari”.

Denting piano, yang memainkan ”Empat Penari” itu, di telinga awam sebenarnya terdengar kaku, dengan tempo lambat. Namun mungkin karena diperdengarkan berulang kali, akhirnya menimbulkan kesan yang mendalam.

Indahnya stasiun Sedalam itu pula kesan yang dapat ditimbulkan bila Anda nongkrong di tepi Polder Tawang memandang ke utara ke bangunan Stasiun Tawang. Terlebih, stasiun ini tampil anggun dengan atap kubah tinggi sebagai titik pandang (point of view).

Jangan hanya memandangi kubah dari luar. Dari dalam bangunan stasiun, saat menengadah, Anda bakal melihat langit- langit persegi dengan pencahayaan sangat memukau. Sementara ornamen paling menonjol di stasiun ini adalah pintu-pintu utama serta jendela ventilasi atas yang berbentuk lengkung dan dipertegas oleh bingkai pasangan batu bata di tepi atasnya.

Diarsiteki oleh Sloth Blauwboer dan dibangun atas pesanan perusahaan kereta Netherland Indische Spoorweg (NIS), Tawang memang dibangun dengan sangat serius berlanggamkan Romantisisme—yang waktu itu sedang ngetop di Eropa.

Mengapa romantisisme? Sebab, pada tahun-tahun itu, tepatnya Juni 1914, Tawang dipersiapkan sebagai monumen untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Spanyol (Tentoonstelling).

Merayakan kemerdekaan di tanah jajahan dengan mendirikan stasiun megah. Itulah ironi Hindia Belanda. Meski begitu, kita patut bersyukur saat ini karena stasiun ini menjadi tempat berkumandangnya ”Empat Penari” puluhan kali dalam sehari. Toh, Republik ini bahkan tak mampu untuk membangun stasiun baru di tempat lain semonumental Tawang.

Bila Anda tidak terburu-buru mengejar kereta api, disarankan untuk berkeliling dahulu menikmati bangunan peninggalan zaman kolonial di Kota Semarang. Ada Gereja Blenduk yang didirikan tahun 1753, Gedung Marba (dulunya bernama Gedung De Heeren Straat), dan Gedung Jiwasraya, yang dirancang oleh Thomas Karsten, arsitek Stasiun Solo Balapan.

Jika tidak ingin pergi terlalu jauh dari stasiun, ya itu tadi, Anda dapat menikmati indahnya bangunan kuno di pinggir Polder Tawang.

Bila senja dan malam tiba, bangunan-bangunan tua itu berefleksi dengan indahnya di muka air polder, yang berfungsi mengendalikan banjir Semarang.

Dan ketika ”Empat Penari” mulai mengalun, bergegaslah masuk ke stasiun. Mungkin giliran kereta Anda yang siap berangkat. (HERPIN DEWANTO)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.