Papan Reklame Rusak Estetika Kota

Kompas.com - 28/09/2010, 11:42 WIB
Editor

SEMARANG, KOMPAS - Deretan papan reklame yang kian menyesaki kawasan Simpang Lima, Semarang, dinilai telah merusak estetika kota. Tata letak papan reklame yang berada di sekitar ruang publik tersebut mengganggu pemandangan.

"Seharusnya ruang publik seperti Simpang Lima itu bersih dari reklame, terutama yang bersifat konsumtif," ujar pakar tata kota dari Universitas Negeri Semarang, Saratri Wilonoyudho, Senin (27/9). Saat ini hampir semua persimpangan jalan dan sudut Simpang Lima dipenuhi reklame berukuran besar.

Dalam menentukan tata letak reklame, menurut Saratri, Pemkot Semarang seharusnya jangan sekadar mengejar target pendapatan asli daerah tanpa mempertimbangkan aspek estetika kota. Jika demikian, Pemkot Semarang hanya menjadi agen kapitalisme atau kepanjangan tangan pengusaha yang sekadar berorientasi profit.

Saratri menegaskan, papan reklame yang menyesakkan dan tumbuhnya pusat perbelanjaan menjadi cermin pergeseran fungsi Simpang Lima dari ruang publik menjadi pusat bisnis. Untuk itu, pemkot perlu membuat ruang publik lainnya yang menjawab kerinduan masyarakat yang rindu akan ruang publik yang nyaman. "Kalau Simpang Lima sekarang, kan sudah melenceng dari tujuan awal," kata Saratri.

Secara terpisah, Kepala Dinas Penerangan Jalan dan Pengelolaan Reklame Kota Semarang Adi Tri Hananto mengatakan, pihaknya sedang mengkaji konsep penataan reklame yang baru. "Surat keputusan wali kota yang baru tentang reklame akan dibuat 2011 nanti," katanya.

Peraturan yang lama, yaitu Surat Keputusan (SK) Wali Kota Semarang Nomor 510/2021/2009 tentang Tata Letak Reklame Kota Semarang akan direvisi. Alasannya, peraturan itu dianggap tidak relevan lagi karena fisik kawasan Simpang Lima akan diubah.

Untuk itu, Adi mengungkapkan, pihaknya akan belajar dari kota-kota besar seperti Palembang, Surabaya, dan Medan dalam menata reklame. Penataan yang tepat sangat dibutuhkan karena pendapatan dari pemasangan reklame di kawasan Simpang Lima merupakan yang terbesar.

Menurut Adi, setiap tahun pemkot mendapat Rp 13 miliar dari reklame. Namun, Adi enggan menyebutkan kepastian pendapatan reklame yang diperoleh di Simpang Lima setiap tahunnya.

Sebagai gambaran, biaya pemasangan reklame di Simpang Lima mencapai Rp 3,15 juta per meter per tahun. Sementara pemasangan reklame di Jalan Gajahmada yang berdekatan dengan Simpang Lima hanya Rp 1,3 juta per meter per tahun. (ilo/den)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.