Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nasib "Omprengan" Kaliurang

Kompas.com - 24/11/2010, 11:18 WIB

Semburan awan panas Gunung Merapi mengurangi asap pekat knalpot angkutan jurusan Kaliurang. Aktivitas sekitar 80 unit angkutan umum rute Kota Yogyakarta-Kaliurang terganggu.

Baru hari ini saya narik lagi. Sebelumnya hampir dua minggu hanya di pengungsian Stadion Maguwoharjo. Tidak narik karena tidak ada penumpang naik,” kata Rajito (50), sopir angkutan umum Colt diesel tahun 1983 yang biasa disebut omprengan, pekan lalu.

Duduk di kursi kayu di warung di Jalan Kaliurang Km 14, Rajito dan dua sopir omprengan trayek Yogyakarta-Kaliurang menikmati sarapan. Es teh manis melepas dahaga sembari menunggu giliran berangkat. Biasanya, tiap 7 menit omprengan memulai rotasenya, tetapi kini 20 menit sekali.

Oleh karena jumlah penumpang dan omprengan yang beroperasi masih sedikit, waktu ngetem diperpanjang. Jika tidak, pendapatan mereka akan sangat minim. Jangankan pulang bawa uang, bisa membeli solar untuk dua rit saja sudah beruntung. Belum lagi, mereka juga masih harus menyetor kepada juragan pemilik mobil.

Sehari, pengeluaran wajib sopir adalah iuran anggota koperasi Rp 15.000, membeli solar Rp 50.000, setoran kepada pemilik mobil Rp 30.000-Rp 40.000. Pendapatan yang bisa dibawa pulang Rp 20.000-Rp 30.000 per hari. Kini, memperoleh pendapatan Rp 50.000 sehari sangat berat.

Seorang sopir yang mulai bekerja bercerita. Hari pertama, dua kali narik ia hanya mendapat Rp 5.000, hari kedua Rp 10.000, dan hari ketiga Rp 40.000 untuk narik pergi-pulang. Meski pendapatnya mulai naik, selama dua hari ia terpaksa tombok. Rajito yang baru mendapat Rp 20.000 maupun sopir-sopir lain tak mau kalah menunjukkan pendapatan mereka yang jauh dari untung.

Pada kondisi normal, mereka bisa mengangkut hingga 30 penumpang sekali jalan, tetapi kini kurang dari 10 orang. Sebab, banyak mahasiswa, pelajar, dan warga yang tinggal di Kaliurang masih mengungsi.

Berkurangnya jarak trayek dari 28 kilometer menjadi setengahnya makin mengurangi potensi pendapatan mereka.

Meski pendapatannya belum impas dengan biaya solar, sopir-sopir omprengan tetap memilih menarik. ”Kami hanya ingin mempertahankan jalur (Yogyakarta-Kaliurang). Jangan sampai penumpang lupa atau malah diambil armada lain. Kami juga butuh uang,” kata Wagiman yang menjadi sopir di trayek itu selama 23 tahun.

Dikatakan Wakil Ketua Koperasi Ngandel (koperasi para sopir) Sugiyanto, sopir butuh uang mendesak. Oleh karena itu, ketika kondisi Merapi mulai mereda, sejumlah sopir nekad bekerja meski pendapatannya minim.

Saat ini, dari 80 unit omprengan, baru sekitar 20 unit yang beroperasi. Sisanya masih diparkir di rumah para juragan.

Kondisi tersebut membuat sopir maupun juragan merugi. Itung-itungannya, erupsi Merapi mengakibatkan perputaran uang omprengan di Jalan Kaliurang lenyap sampai puluhan juta rupiah.

Setidaknya, dengan asumsi menghitung pendapatan sopir, setoran, dan iuran selama dua minggu, sekitar Rp 95,2 juta hilang selama dua pekan. Jumlah yang tak sedikit.

Berharap bangkit

Sugiyanto menambahkan, sopir dan pemilik mobil tak ingin berlarut dalam bencana Merapi. Untuk bangkit dan memulai narik, sopir butuh bantuan, antara lain subsidi biaya bahan bakar. Kemudahan lainnya, keringanan pajak dan kemudahan pengurusan surat-surat bagi sopir yang menjadi korban Merapi. Kemudahan itu sifatnya sementara hingga usaha transportasi itu kembali berjalan normal.

”Kami harap pemda bisa membantu kami. Selama ini, pendapatan daerah dari transportasi sangat besar, tetapi perhatian untuk kami sangat minim,” ujarnya. Di tengah bencana, butuh upaya ekstra, khususnya untuk pemulihan pascabencana.(TIMBUKTU HARTHANA)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com