Sebulan, 12 Bayi Dibuang

Kompas.com - 18/02/2011, 04:38 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Sedikitnya 12 janin dan bayi yang sudah tidak bernyawa dibuang di tempat umum di Jakarta dan sekitarnya, antara Januari dan Februari 2011. Janin dan bayi tersebut diduga sengaja dibunuh atau ditelantarkan oleh orangtuanya.

Data tersebut dihimpun dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Enam jasad ditemukan di saluran air atau sungai dan enam lainnya ditemukan di berbagai tempat, seperti perumahan, depan kampus, atau di pinggir jalan.

Sebagian bayi, yang ditemukan sudah meninggal itu, belum genap satu bulan. Ada satu janin yang diperkirakan berumur 3-4 bulan dalam kandungan. Lantaran tak ada kerabat yang mengakui, bayi dan janin itu langsung dimakamkan pihak rumah sakit.

Kondisi ini berkorelasi dengan adanya perubahan sosial dalam masyarakat. Berdasarkan pengamatan sosiolog Universitas Indonesia, Nur Ida Roweida, kaum perempuan—khususnya kelompok remaja dan usia muda—terimpit beban sosial. Mereka menjadi bagian dari subkultur tersendiri. Di kalangan remaja, masalah pacaran dan seks bebas lebih diterima terbuka, termasuk risiko yang bakal dihadapi.

”Di luar kelompok remaja ini, perempuan muda serasa hidup di dua dunia. Kalau tak punya pacar, ada anggapan perempuan muda itu tidak laku. Pacar atau pasangan jadi simbol status sosial. Di sisi lain, kalau ketahuan hamil di luar nikah, cap buruk bakal menempel. Sekolah pun mengeluarkan siswi yang hamil, sementara siswa yang terlibat banyak yang dibiarkan,” kata Ida, Kamis (17/2).

Padahal, pacaran di masa kini bisa berlangsung lama karena berbagai alasan. Masa mulai pacaran lebih awal—bisa dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi—dan berlanjut sampai kerja. Dalam masa pacaran itu, aktivitas seksual sudah jamak menjadi bagian dari keeratan hubungan kasih sayang.

Hasil penelitian Ida menemukan fakta banyak perempuan yang diputus pacarnya karena menolak berhubungan seksual. Di sisi lain, pengetahuan akan risiko seks bebas ternyata minim. Akibatnya, mereka hamil di luar nikah, tertular penyakit kelamin, sampai terinfeksi HIV/AIDS. ”Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini, kecuali ada dukungan penuh dari keluarga dan komunitas terdekat,” kata Ida.

Masa depan suram

Komisioner Komisi Nasional Perempuan, Neng Dara Affiah, berpandangan, fakta bayi dan janin yang meninggal dan dibuang itu disebabkan berbagai faktor. Salah satu faktor adalah rasa frustrasi dari orangtua bayi dan janin lantaran tidak punya kekuatan ekonomi untuk membesarkan bayi yang baru dilahirkan atau janin yang tengah dikandung. ”Jalan pintas yang dilakukan adalah mengakhiri hidup anak mereka,” kata Neng.

Faktor lainnya, pergaulan remaja yang kian bebas serta pendampingan orangtua yang makin longgar. ”Orangtua yang sibuk membuat kekosongan emosi atau batin remaja sehingga mereka mencari teman, apalagi kalau anak tidak punya kesibukan. Hal ini membuka peluang pergaulan bebas sehingga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan,” tutur Neng.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.