Jaringan Angkutan Massal Belum Terbentuk

Kompas.com - 02/03/2011, 13:49 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Permasalahan transportasi dan kemacetan yang dihadapi Jakarta terjadi lantaran jaringan angkutan massal yang masih bekerja sendiri-sendiri dan jaringan feeder yang masih belum terbentuk. Contohnya, integrasi yang buruk antara busway dan kereta api.

”Jaringan angkutan massal masih bekerja sendiri-sendiri walaupun sudah terjadi integrasi yang baik antarkoridor busway, namun masih buruk antara busway dan kereta api,” kata Ofyar Z Tamin, peneliti transportasi ITB, Selasa (2/3/2011), dalam diskusi ”Curahan Pendapat untuk Mengurai Kemacetan DKI Jakarta” di Balaikota DKI.

Salah satu contoh buruknya integrasi antarmoda transportasi yang ada terjadi di Stasiun Kota dan Dukuh Atas, yaitu tidak ada koridor langsung antara busway dan kereta api. Karenanya, kata Ofyar, diperlukan integrasi antara mass rapid transit (MRT) dan kereta api.

One ticket system untuk jaringan busway sudah dilakukan, diperlukan perluasan one ticket system dari jaringan busway ke kereta api, MRT, dan angkutan lingkungan,” katanya.

Permasalahan transportasi dan kemacetan di Ibu Kota, kata Ofyar, juga terjadi lantaran jaringan feeder yang masih belum terbentuk. Jaringan busway masih belum sampai ke wilayah suburban di Bodetabekjur.

”Padahal masih banyak wilayah blank spot di wilayah CBD (central business district) dan suburban yang tidak dilayani angkutan umum,” ujarnya.

Sementara itu, aksesibilitas menuju ke angkutan umum pun masih terbilang buruk. Salah satu contohnya, jalur pedestrian belum tersedia sepenuhnya dan angkutan lingkungan yang baik juga belum tersedia. Hal inilah yang turut mendorong malasnya masyarakat pindah ke angkutan transportasi umum.

”Permasalahan lain terjadi karena adanya salah prioritas dalam penerapan kebijakan,” ujar Ofyar.

Dia mencontohkan kebijakan pembatasan kendaraan berat. Hal itu, menurut Ofyar, justru hanya memindahkan kemacetan. ”Angkutan umum seharusnya dioperasikan dulu baru solusi traffic atau private restraint bisa dilakukan seperti kebijakan kendaraan berat itu,” tuturnya.

Prioritas lain yang dipertanyakan, yakni pembangunan enam ruas jalan layang non-tol yang dinilai justru kontraproduktif dengan tujuan awalnya untuk mengatasi kemacetan.

”Dengan bertambahnya kapasitas jalan, juga akan menyebabkan gangguan lain yang ditimbulkan oleh parking on street,” ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.