Mengunyahkan Makanan Bayi Bisa Tularkan Penyakit

Kompas.com - 01/09/2011, 14:06 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kebiasaan melumatkan makanan yang akan diberikan pada bayi dengan cara mengunyahkan makanan dengan mulut ibu ternyata bisa berakibat pada penularan penyakit. Itu sebabnya kebiasaan ini perlu dihindari, apalagi jika orang tua  positif HIV.

Penelitian di Afrika Selatan menemukan bahwa lebih dari dua pertiga ibu dan pengasuh yang mengunyahkan makanan untuk bayi mereka, menyebabkan bayi-bayi itu beresiko tertular HIV jika ibu atau pengasuhnya juga HIV positif.

Dalam penelitian terungkap,  para ibu atau pengasuh yang sedang menderita masalah gusi berdarah dan sariawan juga menyebabkan adanya darah yang terbawa pada makanan yang dikunyahkan terlebih dahulu sehingga menjadi jalan penularan, apalagi jika si anak sedang dalam fase tumbuh gigi atau ada luka di mulutnya.

Dr Aditya Gaur, dari St. Jude Children Research Hospital, Memphis, yang tidak terlibat dalam penelitian ini berpendapat, hasil penelitian ini bisa menjadi peringatan perlunya menghentikan kebiasaan melunakkan makanan dengan mulut ibu sebelum diberikan pada bayi. Seperti diketahui kebiasaan mengunyahkan makanan ini menjadi kebiasaan di banyak negara.


"Penelitian selanjutnya seharusnya dibuat untuk melihat seberapa banyak risiko praktek mengunyahkan makanan ini dapat menimbulkan penularan penyakit," katanya.

Sementara itu, penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr. Elke Maritz dari Stellenbosch University dan Tygerberg Children Hospital di Cape Town, belum bisa membuktikan adanya hubungan antara penularan infeksi HIV dengan mengunyahkan makanan pada bayi.

Namun ia menuturkan, para orang tua atau pengasuh tetap perlu berhati-hati tentang risiko penyakit yang bisa ditimbulkan, terutama di daerah dengan tingkat HIV dan hepatitis B tertinggi.

Dalam penelitiannya Maritz dan rekan telah mewawancarai 154 pengasuh bayi, yang  sebagian besar adalah ibu-ibu (yang ada di ruang tunggu HIV, klinik pediatrik dan pengasuh rumahan).

Hasilnya diketahui bahwa, lebih dari dua-pertiga dari mereka, atau sekitar 106 pengasuh mengatakan selalu mengunyah makanan terlebih dahulu di mulut mereka sebelum diberikan kepada bayi. Sekitar 55 orang dari mereka diketahui memiliki gusi berdarah atau luka pada mulut. Bahkan sebanyak 41 orang mengaku melihat darah di makanan yang mereka kunyah untuk diberikan kepada bayi.

"Laporan mengenai ditemukannya darah yang bercampur dalam makanan harus menjadi perhatian, terutama karena bayi sering mengalami lesi pada mulut," kata Maritz.

Sejumlah pengasuh yang mempraktekan mengunyahkan makanan mengatakan, hal tersebut dilakukan hanya sekedar untuk menguji dan mencicipi makanan agar bayi lebih mudah mengolah makan. Bahkan mereka menganggap hal tersebut sebagai suatu kebiasaan turun menurun.

Peneliti beranggapan bahwa sebagian besar diantara pengasuh mungkin tidak tahu risiko yang mungkin bisa ditimbulkan.  Kendati begitu Maritz menilai mengunyahkan makanan bisa saja berdampak positif. Misalnya pada keluarga yang tidak mampu membeli makanan lunak untuk bayinya. Tetapi harus disadari pula adanya risiko penularan penyakit dari praktek tersebut.

 

 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dihadiri 11 Anggota, DPRD Komisi A Sahkan Rancangan Anggaran Dinas Gulkarmat Rp 1,2 Triliun

Dihadiri 11 Anggota, DPRD Komisi A Sahkan Rancangan Anggaran Dinas Gulkarmat Rp 1,2 Triliun

Megapolitan
Empat Rancangan Anggaran Fantastis Gulkarmat Akhirnya Disahkan dengan Diwarnai Perdebatan

Empat Rancangan Anggaran Fantastis Gulkarmat Akhirnya Disahkan dengan Diwarnai Perdebatan

Megapolitan
Fraksi PSI Minta Empat Anggaran Fantastis Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Ditangguhkan

Fraksi PSI Minta Empat Anggaran Fantastis Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Ditangguhkan

Megapolitan
Peringati Hari Ibu, Iriana Jokowi Hadiri Acara Jalan Sehat bersama Penyandang Disabilitas

Peringati Hari Ibu, Iriana Jokowi Hadiri Acara Jalan Sehat bersama Penyandang Disabilitas

Megapolitan
Bukan Hanya Nama Jalan, MH Thamrin Juga Pernah Dijadikan Nama Proyek Pembangunan

Bukan Hanya Nama Jalan, MH Thamrin Juga Pernah Dijadikan Nama Proyek Pembangunan

Megapolitan
Polisi Tunggu Hasil Labfor untuk Ungkap Penyebab Kebakaran Mal Lokasari Square

Polisi Tunggu Hasil Labfor untuk Ungkap Penyebab Kebakaran Mal Lokasari Square

Megapolitan
Tercatat 96 Kali Gempa Tektonik di Wilayah Banten pada November 2019

Tercatat 96 Kali Gempa Tektonik di Wilayah Banten pada November 2019

Megapolitan
Begini Cara Petugas PJL Atur Pelintasan KA Tanpa Palang di Stasiun Ancol

Begini Cara Petugas PJL Atur Pelintasan KA Tanpa Palang di Stasiun Ancol

Megapolitan
Berjaga 24 Jam, Mendengar Aktivitas Alam yang Kian Sulit Dipahami

Berjaga 24 Jam, Mendengar Aktivitas Alam yang Kian Sulit Dipahami

Megapolitan
DPRD DKI Soroti Usulan Anggaran Sistem Informasi Potensi Bencana Senilai Rp 8 Miliar

DPRD DKI Soroti Usulan Anggaran Sistem Informasi Potensi Bencana Senilai Rp 8 Miliar

Megapolitan
Sempat Dicoret, Pembangunan SMK 74 Akhirnya Disahkan DPRD DKI sebagai Boarding School

Sempat Dicoret, Pembangunan SMK 74 Akhirnya Disahkan DPRD DKI sebagai Boarding School

Megapolitan
Ketika Komisi E DPRD DKI Terbelah soal Boarding School SMKN 74...

Ketika Komisi E DPRD DKI Terbelah soal Boarding School SMKN 74...

Megapolitan
BPBD DKI Usulkan Anggaran Simulator Bencana Berteknologi Canggih Senilai Rp 12 Miliar

BPBD DKI Usulkan Anggaran Simulator Bencana Berteknologi Canggih Senilai Rp 12 Miliar

Megapolitan
Ketua DPC Hanura Didorong Partainya Ikut Pilkada Tangsel 2020

Ketua DPC Hanura Didorong Partainya Ikut Pilkada Tangsel 2020

Megapolitan
Anggarannya Sempat Dicoret, Disdik DKI Usulkan SMK Pariwisata jadi Sekolah Asrama

Anggarannya Sempat Dicoret, Disdik DKI Usulkan SMK Pariwisata jadi Sekolah Asrama

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X