Diancam Mutasi, Korban Pelecehan di BPN Tutup Mulut

Kompas.com - 14/09/2011, 14:22 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaku pelecehan seksual terhadap tiga orang bawahannya di Badan Pertanahan Nasional (BPN) ternyata memiliki banyak cara dalam mengintimidasi korban. Seusai melakukan tindakan tak bermoralnya, pelaku memaksa korban untuk tutup mulut.

Kuasa hukum korban, Ahmad Jazuli, menuturkan, korban diancam akan dimutasi ke Papua apabila berani membuka tindakan yang dilakukan G. "Supaya tidak membocorkan, korban katanya bisa dimutasi sampai ke Papua. Korban tidak berani dan akhirnya memilih diam," ucap Jazuli, Rabu (14/9/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, hal lain yang dilakukan G, yang merupakan direktur di Direktorat Pengaturan dan Penetapan Tanah BPN, adalah dengan meminta maaf kepada korban dan suami korban.

"Dia sudah minta maaf kepada ketiga korban dan suami-suaminya. Dia pun berjanji untuk mengundurkan diri," kata Jazuli.

Untuk membuat korban tak angkat bicara, pelaku juga sempat membesarkan hati korban dengan iming-iming melanjutkan studi dan barang-barang. "Korban dibilang akan disekolahkan lagi dan diberikan barang-barang," tutur Jazuli.

Namun, semua janji G tidak ada yang terealisasi, termasuk janjinya untuk mengundurkan diri.

"Dari pihak atasan pelaku pun tidak ada tindakan apa-apa. Akhirnya, kami melaporkan kasus ini ke Polda Metro," ucap Jazuli.

Sebelumnya, G (44), direktur di Direktorat Pengaturan dan Penetapan Tanah BPN, dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Pelaku G diduga sudah melancarkan aksi cabulnya sejak tahun 2010 kepada tiga korban, yaitu AIF (22), AN (25), dan NPS (29).

Terungkapnya kasus itu berawal dari NPS yang mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari G sekitar Juli 2011 lalu. NPS menceritakan kepada rekan kerjanya yang juga bawahan G, berinisial AIF dan AN, terkait peristiwa pelecehan seksual tersebut. Dari cerita NPS ini, akhirnya terbongkar kasus serupa yang menimpa AIF, yang merupakan sekretaris G, dan staf lainnya, yakni AN.

"AIF menjadi korban paling lama. Sudah setahun mengalami pelecehan seksual dari G dari tahun 2010," ujar Jazuli.

Sementara NPS mendapatkan perlakuan pelecehan seksual sejak Juli 2011 sebanyak dua kali dan AN sekitar Mei-Juni 2011. Bentuk pelecehan seksual yang dilakukan G adalah dengan meraba-raba tubuh korban. Pelaku dilaporkan dengan Pasal 294 Ayat 2 KUHP tentang Pencabulan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Selain membuat laporan, korban juga menyertakan bukti rekaman berisi pengakuan pelaku melakukan pelecehan seksual di hadapan beberapa orang, termasuk suami korban.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Ancol Siapkan Pengibaran Bendera Merah Putih di Dalam Air

    Ancol Siapkan Pengibaran Bendera Merah Putih di Dalam Air

    Megapolitan
    Penusuk Pria hingga Tewas di Warnet Duren Sawit Ditangkap

    Penusuk Pria hingga Tewas di Warnet Duren Sawit Ditangkap

    Megapolitan
    UPDATE 15 Agustus Depok: 47 Kasus Baru Covid-19, Penambahan Tertinggi Selama Pandemi

    UPDATE 15 Agustus Depok: 47 Kasus Baru Covid-19, Penambahan Tertinggi Selama Pandemi

    Megapolitan
    Cegah Kembali Kasus Covid-19, Mal AEON BSD Antar Jemput Karyawan hingga Rapid Test Berkala

    Cegah Kembali Kasus Covid-19, Mal AEON BSD Antar Jemput Karyawan hingga Rapid Test Berkala

    Megapolitan
    UPDATE 15 Agustus: Bertambah 598 Kasus Covid-19 di Jakarta

    UPDATE 15 Agustus: Bertambah 598 Kasus Covid-19 di Jakarta

    Megapolitan
    Pedagang Kelontong di Bekasi Tewas oleh Perampok, Seorang Bocah Sempat Lihat Pelaku

    Pedagang Kelontong di Bekasi Tewas oleh Perampok, Seorang Bocah Sempat Lihat Pelaku

    Megapolitan
    Buat Gaduh di Pesawat Garuda, Mumtaz Diingatkan Hanum Rais

    Buat Gaduh di Pesawat Garuda, Mumtaz Diingatkan Hanum Rais

    Megapolitan
    Pedagang Kelontong di Bekasi Dibunuh, Uang dan Rokok Dirampas Pelaku

    Pedagang Kelontong di Bekasi Dibunuh, Uang dan Rokok Dirampas Pelaku

    Megapolitan
    Airin Minta ASN di Tangsel Ikut Lomba Tiktok Meriahkan HUT ke-75 RI

    Airin Minta ASN di Tangsel Ikut Lomba Tiktok Meriahkan HUT ke-75 RI

    Megapolitan
    Pegawai Giant Positif Covid-19, Jumlah Pengunjung Margo City Depok Menurun

    Pegawai Giant Positif Covid-19, Jumlah Pengunjung Margo City Depok Menurun

    Megapolitan
    Jasad Pria Ditemukan di Kamar Mandi Rumah di Bekasi, Ada Luka di Leher dan Perut

    Jasad Pria Ditemukan di Kamar Mandi Rumah di Bekasi, Ada Luka di Leher dan Perut

    Megapolitan
    Libur Panjang, 167.414 Kendaraan Tinggalkan Jakarta Jumat Kemarin

    Libur Panjang, 167.414 Kendaraan Tinggalkan Jakarta Jumat Kemarin

    Megapolitan
    Polisi: Ada Saksi yang Sempat Bicara dengan Penembak Pengusaha di Kelapa Gading

    Polisi: Ada Saksi yang Sempat Bicara dengan Penembak Pengusaha di Kelapa Gading

    Megapolitan
    Bocah 5 Tahun Terjepit di Antara Tiang dan Dinding Saat Main Petak Umpet

    Bocah 5 Tahun Terjepit di Antara Tiang dan Dinding Saat Main Petak Umpet

    Megapolitan
    Urai Kepadatan di Tol Jakarta-Cikampek, Contraflow Diberlakukan di Km 47

    Urai Kepadatan di Tol Jakarta-Cikampek, Contraflow Diberlakukan di Km 47

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X