Psikolog Dampingi Penyelidikan Pelecehandi BPN

Kompas.com - 15/09/2011, 14:43 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga orang korban pelecehan di Badan Pertanahan Nasional (BPN) akan mendapat perlakuan khusus dalam proses penyelidikan kasus yang melibatkan Direktur Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah BPN tersebut. Pasalnya, ketiga korban itu mengalami trauma.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, mengungkapkan penyidik bagian Remaja, Anak-anak, dan Wanita (Renakta) Polda Metro Jaya akan mulai memanggil pelapor, yakni korban pekan depan. Dalam pemeriksaan polisi, ketiga korban diperkenankan didampingi psikolog.

"Pendampingan psikolog ini hadir saja terus. Proses pemeriksaan di Renakta ini juga khusus karena ini sensitif. Proses pemeriksaan juga akan dilakukan polwan," ujar Baharudin, Kamis (15/9/2011), di Polda Metro Jaya.

Dikatakan Baharudin, pendampingan psikolog bisa membantu proses pemeriksaan polisi manakala korban tak mampu menceritakan kronologi peristiwa lantaran trauma.

"Bisa saja dia tidak dapat menyampaikan tapi orang yang mendampingi bisa lebih lugas dan terarah dalam menjelaskan. Ada beberapa korban yang tidak mau bicara ke polisi, tapi ke psikolog dia lebih bisa bercerita," ungkap Baharudin.

Selain itu, lanjut Baharudin, psikolog nantinya juga akan diperiksa untuk dijadikan saksi ahli terkait kondisi mental korban. "Alangkah baiknya, sudah melibatkan diri sehingga bisa kami mintai keterangan pendukung," kata Baharudin.

Sebagaimana diberitakan, G (44), Direktur di Direktorat Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah BPN, dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Selasa (13/9/2011). Pelaku G diduga sudah melancarkan aksi cabulnya sejak tahun 2010 kepada tiga korban yaitu AIF (22), AN (25), dan NPS (29).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terungkapnya kasus tersebut berawal dari NPS mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari G sekitar Juli 2011 lalu. NPS menceritakan kepada rekan kerjanya yang juga bawahan G, berinisial AIF dan AN, terkait peristiwa pelecehan seksual tersebut. Dari cerita NPS ini, akhirnya terbongkar kasus serupa yang menimpa sekretaris G, AIF dan staf lainnya yakni AN.

AIF menjadi korban paling lama. AIF mendapatkan pelecehan dari G sejak tahun 2010. Sedangkan, NPS mendapatkan perlakuan pelecehan seksual sejak Juli 2011 sebanyak dua kali dan AN sekitar Mei-Juni 2011. Bentuk pelecehan seksual yang dilakukan G adalah dengan meraba-raba tubuh korban. Pelaku dilaporkan dengan Pasal 294 Ayat 2 KUHP tentang pencabulan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Selain membuat laporkan, korban juga menyertakan bukti rekaman berisi pengakuan pelaku melakukan pelecehan seksual dihadapan beberapa orang, termasuk suami korban.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.