Jamu Dicampur Obat Kimia Keras

Kompas.com - 03/10/2011, 10:37 WIB

Setiap hari pelaku mampu memproduksi 35 karton besar produk yang masing-masing terdiri dari 100 kotak produk.

”Mereka akan kami jerat dengan Undang-Undang Kesehatan dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun,” ujar Suradi, sambil menambahkan pihaknya masih menyelidiki ada tidaknya jaringan lain yang dimiliki pelaku.

Dicampur obat antialergi

As—saat ditemui di sela-sela pemeriksaan—mengakui telah mencampur satu kilogram jamu yang dibeli dari Cilacap, Jawa Tengah, dengan masing-masing 100 butir parasetamol, asam mefenamat, dan CTM atau obat antialergi. Campuran itu lalu dicetak menjadi kedua produk yang mereka jual.

Dia mengaku membeli obat-obatan tersebut di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, dengan harga Rp 6.000-Rp 28.000 per 100 butir.

”Saya hanya memperkirakan takaran obatnya. Kalau efek sampingnya, saya tidak tahu,” tuturnya.

Merusak citra jamu

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, yang juga Presiden Direktur PT Nyonya Meneer, Charles Saerang, menuturkan, jamu yang mengandung bahan kimia obat itu berbahaya bagi kesehatan karena bisa saja mengandung bahan berbahaya, seperti steroid.

Takaran produk juga tak diketahui. Terlebih lagi, jamu seharusnya tak boleh menggunakan campuran bahan kimia. ”Pemerintah harus lebih ketat mengawasi dan membina pengusaha jamu semacam itu agar citra jamu yang benar tak rusak,” ujarnya. (GAL)

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorHertanto Soebijoto
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Anies Berharap Pemilihan Wagub DKI Tak Sampai Tahun Depan

Anies Berharap Pemilihan Wagub DKI Tak Sampai Tahun Depan

Megapolitan
Polisi Sita Ribuan Ekstasi dari Jaringan Pengedar Internasional

Polisi Sita Ribuan Ekstasi dari Jaringan Pengedar Internasional

Megapolitan
Pemprov DKI Akan Bagikan Tanaman Lidah Mertua untuk Tekan Polusi Udara

Pemprov DKI Akan Bagikan Tanaman Lidah Mertua untuk Tekan Polusi Udara

Megapolitan
Berkaca pada Kasus Nunung, Tahu Kerabat Konsumsi Narkoba tapi Tak Melapor Ada Akibatnya…

Berkaca pada Kasus Nunung, Tahu Kerabat Konsumsi Narkoba tapi Tak Melapor Ada Akibatnya…

Megapolitan
Sidang Praperadilan, Kivlan Zen Minta Penetapan Tersangka Dibatalkan

Sidang Praperadilan, Kivlan Zen Minta Penetapan Tersangka Dibatalkan

Megapolitan
Melihat Wajah Jakarta Melalui Ilusi Hologram

Melihat Wajah Jakarta Melalui Ilusi Hologram

Megapolitan
Anies Bilang Tak Punya Kewenangan untuk Desak Pemilihan Wagub

Anies Bilang Tak Punya Kewenangan untuk Desak Pemilihan Wagub

Megapolitan
Petugas UNHCR Mengecek Tempat Penampuan Pencari Suaka di Kalideres

Petugas UNHCR Mengecek Tempat Penampuan Pencari Suaka di Kalideres

Megapolitan
Putra Nunung Tak Tahu Ibunya Konsumsi Narkoba Jenis Sabu

Putra Nunung Tak Tahu Ibunya Konsumsi Narkoba Jenis Sabu

Megapolitan
Kivlan Zen Layangkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan ke Ryamizard Ryacudu

Kivlan Zen Layangkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan ke Ryamizard Ryacudu

Megapolitan
Situasi di Penampungan Imigran Kondusif Setelah Warga Afghanisatan dan Somalia Ribut

Situasi di Penampungan Imigran Kondusif Setelah Warga Afghanisatan dan Somalia Ribut

Megapolitan
Suami Pernah Ingatkan Nunung Berobat agar Berhenti Konsumsi Narkoba

Suami Pernah Ingatkan Nunung Berobat agar Berhenti Konsumsi Narkoba

Megapolitan
Sidang Praperadilan Empat Pengamen Cipulir Salah Tangkap Ditunda hingga Esok

Sidang Praperadilan Empat Pengamen Cipulir Salah Tangkap Ditunda hingga Esok

Megapolitan
Pimpinan DPRD DKI Sibuk Jadi Alasan Rapat Paripurna untuk Pilih Wagub Ditunda

Pimpinan DPRD DKI Sibuk Jadi Alasan Rapat Paripurna untuk Pilih Wagub Ditunda

Megapolitan
Beda Versi dengan Pertamina soal Penyebab Kecelakaan, Ini Kata Polisi

Beda Versi dengan Pertamina soal Penyebab Kecelakaan, Ini Kata Polisi

Megapolitan
Close Ads X