Seputar Monas Rawan Paku di Akhir Pekan

Kompas.com - 03/11/2011, 05:57 WIB
Penulis Imanuel More
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com Kawasan Medan Merdeka ternyata termasuk daerah rawan ranjau paku. Dalam pantauan Komunitas Saber, jalan-jalan yang mengitari Kompleks Monas itu semakin berbahaya bagi kendaraan di akhir pekan.

"Tebaran paku semakin banyak di akhir pekan, termasuk di sekitar Kompleks Istana Merdeka," terang Siswanto, Ketua Komunitas Saber, kelompok penyapu ranjau paku di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (2/11/2011) malam.

Ia menduga, paku-paku itu sengaja ditebar untuk menyasar para pengunjung kawasan Monas yang meningkat di akhir pekan. Ranjau paku yang tersebar di Medan Merdeka hingga Harmoni umumnya berjenis jari-jari payung. "Yang seperti ini mudah melengkung kalau menembus ban. Ban dalam sepeda motor tidak hanya gembos, tapi langsung sobek," terang Siswanto.

Jenis seperti ini serupa dengan paku ukuran 5 cm yang dirancang agar si korban yang menjadi target hanya bisa berjalan di bawah 200 meter. "Biasanya malah langsung gembos," lanjut pria tegap yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan itu.

Dari jenis paku yang ditebar, bisa diduga lokasi komplotan penebar paku. Jenis paku kecil, menurut Abdul Rohim, biasanya ditebar oleh komplotan penambal ban yang berada antara 0,5-1 km dari lokasi penebaran. Sementara paku berukuran besar atau dari jenis kawat dan logam yang mudah melengkung biasanya ditebar oleh komplotan yang berjarak kurang dari 500 meter dari lokasi penebaran. Karena itu, mereka menduga pelaku-pelaku penebar paku di sekitar lampu lalu lintas di depan Istana Merdeka berlokasi di seputaran Harmoni. "Kebetulan di sekitar situ ada lima tambal ban yang berdekatan," timpal Siswanto.

Mereka juga heran mengapa kawasan seputar Istana yang terbilang memiliki sistem pengamanan dan pengawasan yang ketat bisa menjadi target penebar ranjau paku.

Sebelum masalah ranjau paku mendapat sorotan, menurut komunitas yang berdiri pada 5 Agustus 2011 ini, di kawasan Istana hingga Sekretariat Negara bisa terkumpul 5 kg paku dalam sekali operasi. Berkat penyisiran yang rutin dilakukan Komunitas Saber, jumlah yang ditemukan dalam beberapa hari terakhir sudah jauh berkurang. "Malam ini di bawah 1 kg," kata Sanusi, anggota Saber lainnya.

Dari aksi sosial yang dilakukan setiap hari, Komunitas Saber sudah bisa mengidentifikasi para pelaku beserta waktu penebaran. "Kalau ada media yang berminat, saya siap menunjukkan lokasi dan waktu penebarannya," tantang Siswanto yang pernah menghabiskan 42 hari khusus untuk mengamati perilaku komplotan penebar paku.

Anggota Komunitas Saber mengaku heran belum adanya pelaku kejahatan ranjau paku yang diamankan pihak kepolisian, selain pelaku yang ditangkap basah di Jalan Daan Mogot. "Polisi sebenarnya jauh lebih paham dan pintar. Mereka lebih paham teknik penyelidikan. Hanya, mungkin saat ini merekanya lagi sibuk. Atau, bisa jadi ranjau paku bukan masalah serius buat mereka," pungkas Siswanto.

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Revitalisasi Monas, Timbulkan Polemik tapi Tetap Jalan Terus...

    Revitalisasi Monas, Timbulkan Polemik tapi Tetap Jalan Terus...

    Megapolitan
    Kantor DPD Golkar Kota Bekasi Masuk Situs Jual Beli Online, Ini Kata Penjual

    Kantor DPD Golkar Kota Bekasi Masuk Situs Jual Beli Online, Ini Kata Penjual

    Megapolitan
    Pria yang Tepergok Culik Anak 14 Bulan di Cipayung Diduga Hipnotis Anggota Keluarga

    Pria yang Tepergok Culik Anak 14 Bulan di Cipayung Diduga Hipnotis Anggota Keluarga

    Megapolitan
    PTUN Batalkan SK Pencabutan Izin Reklamasi Pulau F, Anies Ajukan Banding

    PTUN Batalkan SK Pencabutan Izin Reklamasi Pulau F, Anies Ajukan Banding

    Megapolitan
    Perempuan yang Mau Bunuh Diri di JPO Sudah Dipulangkan ke Keluarga

    Perempuan yang Mau Bunuh Diri di JPO Sudah Dipulangkan ke Keluarga

    Megapolitan
    Warga Pamulang Permai Digigit Ular Saat Banjir

    Warga Pamulang Permai Digigit Ular Saat Banjir

    Megapolitan
    Pemprov DKI Diminta Hentikan Proyek Revitalisasi Monas, DPRD Sebut Wajar

    Pemprov DKI Diminta Hentikan Proyek Revitalisasi Monas, DPRD Sebut Wajar

    Megapolitan
    Ingin Sterilisasi Kucing Gratis? Begini Syarat Pendaftarannya

    Ingin Sterilisasi Kucing Gratis? Begini Syarat Pendaftarannya

    Megapolitan
    Seorang Pria Tepergok Culik Anak Usia 14 Bulan di Cipayung, Pelaku Dikeroyok Warga

    Seorang Pria Tepergok Culik Anak Usia 14 Bulan di Cipayung, Pelaku Dikeroyok Warga

    Megapolitan
    Polisi Ungkap Kesulitan Tangkap Pelaku Masturbasi di Bawah JPO Ahmad Yani Bekasi

    Polisi Ungkap Kesulitan Tangkap Pelaku Masturbasi di Bawah JPO Ahmad Yani Bekasi

    Megapolitan
    Gelar Rapimgab, DPRD Minta Penjelasan Pemprov DKI Terkait Koordinasi Revitalisasi Monas ke Pemerintah Pusat

    Gelar Rapimgab, DPRD Minta Penjelasan Pemprov DKI Terkait Koordinasi Revitalisasi Monas ke Pemerintah Pusat

    Megapolitan
    Eks Dirut Transjakarta Donny Saragih Dituduh Gelapkan Uang Denda Operasional Rp 1,4 Miliar

    Eks Dirut Transjakarta Donny Saragih Dituduh Gelapkan Uang Denda Operasional Rp 1,4 Miliar

    Megapolitan
    Anak di Bawah Umur Ditemukan di Apartemen Depok, Diduga Terkait Prostitusi Online

    Anak di Bawah Umur Ditemukan di Apartemen Depok, Diduga Terkait Prostitusi Online

    Megapolitan
    Tangkap Ular Sanca Saat Banjir, Jari Warga Pamulang Terluka Kena Gigitan

    Tangkap Ular Sanca Saat Banjir, Jari Warga Pamulang Terluka Kena Gigitan

    Megapolitan
    Kantor DPD Golkar Kota Bekasi Dijual di Situs Jual Beli Online

    Kantor DPD Golkar Kota Bekasi Dijual di Situs Jual Beli Online

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X