Gedoran Depok, Tentang Revolusi Sosial - Kompas.com

Gedoran Depok, Tentang Revolusi Sosial

Kompas.com - 08/11/2011, 23:24 WIB

DEPOK, KOMPAS.com -- Bagi anda penikmat dan pemerhati sejarah, kisah mengenai revolusi sosial di Kota Depok saat proklamasi dan beberapa tahun setelahnya layak anda baca. Wenri Wanhar menguraikan peristiwa ini dalam bukunya berjudul "Gedoran Depok; Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955. Buku yang diterbitkan penerbit Sadar Media ini sudah beredar di pasaran sebulan terakhir.

Kisah isi berlangsung setelah 17 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat menyambut peristiwa dengan gembira penuh kemenangan. Hampir setiap orang di Jakarta mengepalkan tinju, dan saling berucap, "Merdeka!". Bendera Merah-Putih pun berkibar-kibar di sudut-sudut kota.

Namun demikian, riuhnya kemerdekaan RI di Jakarta tidak terdengar di Depok. Menurut Wenri, warga kota ini belum mengakui kemerdekaan Indonesia, sehingga tak ada yang mengibarkan bendera Merah-Putih.

Akibatnya, para pemuda dan berbagai kelompok laskar rakyat dari seluruh penjuru mata angin menyerbu Depok. Orang Depok ditawan. Di bawah todongan senjata, mereka dipaksa membawa bendera Merah-Putih. Bagi yang membangkang, disikat. Tak sedikit korban tewas. Peristiwa ini dikenal dengan nama Gedoran Depok.

Melalui peristiwa inilah lahir tokoh-tokoh, seperti Margonda, Letnan Dua Tole Iskandar, dan Mochtar Sawangan. Nama pejuang itu kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Depok. Buku ini menjelaskan siapa, kiprah, dan beberapa foto mereka.

Buku setebal 234 halaman ini terdiri dari tiga babak. Babak pertama berisi tentang Depok sebagai Daerah Istimewa di Era Hindia Belanda. Babak kedua berisi tentang tentang situasi di Depok paska proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sedangkan babak ketiga berisi tentang Depok yang menjadi basis kekuatan perlawanan kaum kolonial.


EditorNasru Alam Aziz

Close Ads X