Kasus Nenek Rasminah, Perlunya "Restorative Justice"

Kompas.com - 01/02/2012, 19:38 WIB
Penulis Icha Rastika
|
EditorTri Wahono

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Amir Syamsuddin menyoroti kasus hukum yang menjerat nenek Rasminah, wanita 55 tahun yang dituduh mencuri 6 piring milik majikannya. Menurut Amir, kasus nenek Rasminah ini menjadi gambaran perlunya menyelesaikan perkara pidana ringan melalui mekanisme lembaga restorative justice.

"Jangan terlalu kaku memperlakukan mereka, perlu melakukan restorative justice," kata Amir di Jakarta, Rabu (1/2/2012). Adapun mekanisme restorative justice atau proses peradilan yang memulihkan, memiliki prinsip dasar mediasi. Jika memenuhi persyaratan, suatu perkara pidana dapat diselesaikan melalui jalur mediasi.

Dalam kasus kekerasan rumah tangga atau pelecehan seksual misalnya, ada sejumlah syarat yang memungkinkan terjadinya restorative justice, yaitu apabila (1) korban kejahatan setuju, (2) kekerasan harus ditentukan, (3) pelaku kejahatan harus mengambil tanggung jawab, (4) hanya pelaku kejahatan yang harus dipersalahkan, bukan pada korban, (5) proses mediasi hanya dapat berlangsung dengan persetujuan korban.

Amir mengatakan, pihaknya akan mengupayakan payung hukum untuk penerapan mekanisme restorative justice ini. Upaya tersebut dilakukan melalui perbaikan dan penyempurnaan undang-undang agar ke depannya dapat mengakomodir kasus-kasus berpotensi melukai rasa keadilan.

"Ada semangat kita untuk memperlakukan orang yang termarjinalkan ini tadi, sehingga tidak terkesan menjadi tudingan tajam ke bawah, tumpul di atas," ucap Amir.

Dia juga menegaskan, tidak selamanya proses hukum terhadap orang miskin atau anak-anak dapat dikatakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Terkadang, prosesnya sudah sesuai hukum namun masih mengganggu rasa keadilan masyarakat.

"Ini perlu diluruskan, pelanggaran apapun juga sama aturannya dalam hukum acara, ada putusan pengadilan kita tidak serta merta menyalahkan putusan hukum. Sebenarnya proses sudah sesuai dengan hukum, tapi soal keadilan itu yang kemudian menganggu," tutur Amir.

Senada dengan Amir, Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengatakan, Kemenkum HAM telah membentuk forum yang melibatkan Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian (Mahkumjakpol) untuk mendiskusikan kasus-kasus pidana ringan seperti perkara nenek Rasminah ini.

"Kasus nenek Rasminah diidentifikasi sebagai kasus yang sangat tepat dikait-kaitkan undang-undang tentang bantuan hukum yang kita berikan sebagai akses pencari keadilan, terutama bagi kelompok yang rentan dan anak-anak miskin," ujar Denny.

Adapun nenek Rasminah dihukum 130 hari penjara pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung karena terbukti mencuri piring milik majikannya.Sebelumnya, Rasminah diputus bebas di Pengadilan Negeri Tangerang.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    [Update 26 Oktober]: Kasus Aktif Covid-19 di Depok Sebanyak 1.333 Orang

    [Update 26 Oktober]: Kasus Aktif Covid-19 di Depok Sebanyak 1.333 Orang

    Megapolitan
    BMKG: Sebagian Jakarta Diprediksi Hujan Siang Nanti

    BMKG: Sebagian Jakarta Diprediksi Hujan Siang Nanti

    Megapolitan
    Diterjang Angin Puting Beliung, Fasilitas Gedung Kesenian Kota Bekasi Rusak

    Diterjang Angin Puting Beliung, Fasilitas Gedung Kesenian Kota Bekasi Rusak

    Megapolitan
    Dirampok di JPO Cilandak Timur, Seorang Ibu Dipukul oleh Perampok

    Dirampok di JPO Cilandak Timur, Seorang Ibu Dipukul oleh Perampok

    Megapolitan
    Pelaku Mengaku Ingin Kuasai Uang PSK Rp 1,8 Juta, Polisi Anggap Alasannya Janggal

    Pelaku Mengaku Ingin Kuasai Uang PSK Rp 1,8 Juta, Polisi Anggap Alasannya Janggal

    Megapolitan
    Libur Panjang, Pemesanan Tiket untuk Keberangkatan di 3 Stasiun di Jakarta Naik 3 Kali Lipat

    Libur Panjang, Pemesanan Tiket untuk Keberangkatan di 3 Stasiun di Jakarta Naik 3 Kali Lipat

    Megapolitan
    Sebelum Foto Hamil, Rahayu Saraswati Pernah Merasa Dilecehkan Lewat Postingan Paha Mulus

    Sebelum Foto Hamil, Rahayu Saraswati Pernah Merasa Dilecehkan Lewat Postingan Paha Mulus

    Megapolitan
    Polisi Duga Kasus Pembunuhan PSK di Bekasi Sudah Terencana

    Polisi Duga Kasus Pembunuhan PSK di Bekasi Sudah Terencana

    Megapolitan
    Petugas PPSU Ciduk Perampok yang Kabur Setelah Jambret Seorang Ibu di JPO

    Petugas PPSU Ciduk Perampok yang Kabur Setelah Jambret Seorang Ibu di JPO

    Megapolitan
    Anggota Marinir Nyaris Jadi Korban Penjambretan Saat Bersepeda di Sekitar Monas

    Anggota Marinir Nyaris Jadi Korban Penjambretan Saat Bersepeda di Sekitar Monas

    Megapolitan
    Hujan dan Angin Kencang di Depok Senin Sore, 2 Pohon di Permukiman Warga Tumbang

    Hujan dan Angin Kencang di Depok Senin Sore, 2 Pohon di Permukiman Warga Tumbang

    Megapolitan
    Pemilik Panti Pijat Positif Covid-19 yang Kabur Tak Ditemukan di Rumahnya

    Pemilik Panti Pijat Positif Covid-19 yang Kabur Tak Ditemukan di Rumahnya

    Megapolitan
    Cegah Banjir, Pembuatan Bendungan Waduk di Cilincing Dikebut Satu Bulan

    Cegah Banjir, Pembuatan Bendungan Waduk di Cilincing Dikebut Satu Bulan

    Megapolitan
    Pemkot Bekasi Akan Bantu Perbaiki 186 Rumah yang Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

    Pemkot Bekasi Akan Bantu Perbaiki 186 Rumah yang Rusak Diterjang Angin Puting Beliung

    Megapolitan
    UPDATE 26 Oktober: Bertambah 12, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Jadi 2.070

    UPDATE 26 Oktober: Bertambah 12, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Jadi 2.070

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X