Buruh Pabrik Ini Bisa Ubah Daun Jadi Uang

Kompas.com - 03/04/2012, 20:43 WIB
|
EditorAloysius Gonsaga Angi Ebo

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan sulap bukan sihir. Abuyah alias Sarudin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik ini dengan lihainya mempraktekan cara "mengubah" daun menjadi uang.

Pertama-tama, ia menggenggam selembar daun seukuran kepalan tangan. Daun itu kemudian ia remukkan ke dalam kepalan tangan. Saat tangan dibuka lagi, muncullah uang dengan nominal Rp 50.000 dan Rp 100.000.

Dengan keahlian Abuyah ini, ia pun kerap kali diminta tolong para pedagang pasar yang sedang butuh uang lebih. Namun, saat ditelusuri aparat kepolisian, aksi Abuyah itu terbukti tipu daya belaka. Abuyah bersama dua orang rekannya yakni Komarudin dan Taufik Hidayat bahkan kini harus meringkuk di sel tahanan Polda Metro Jaya setelah ketahuan memperdaya para korban hingga menimbulkan kerugian hingga Rp 1 miliar.

Di hadapan para penyidik, Abuyah mengungkapkan caranya menipu para korban. Ternyata sebelum mengambil daun, Abuyah sudah terlebih dulu menyelipkan uang dengan nominal besar di bawah telapan tangan yang diselipkan ke dalam cincin besarnya. Saat daun dimasukkan ke dalam tangan, secara perlahan ia renggangkan cincinnya dan jatuhlah uang nominal yang diduga para korban berasal dari daun tersebut.

Kepala Subdit Reserse Mobil (Resmob) Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan, mengatakan sudah ada enam orang korban yang melapor ke aparat kepolisian terkait kasus ini. "Total kerugian yang ditimbulkan komplotan ini mencapai Rp 1 miliar," ungkap Herry, Selasa (3/4/2012), di Mapolda Metro Jaya.

Untuk meyakinkan para korban, pelaku biasanya membuat pembagian peran. Abuyah biasanya berperan sebagai "orang sakti" yang mampu mengubah daun jadi uang. "Supaya orang yakin, mereka juga pakai baju gamis, sajadah, dan membaca doa-doa," papar Herry.

Sementara dua rekan Abuyah yakni Komarudin dan Taufik Hidayat biasa menjadi orang asing yang turut melihat dan meyakini "kesaktian" Abuyah agar para korban semakin percaya. Sedangkan, satu orang lagi yakni Salim Lencam kini berstatus buron. Salim berperan mencari calon korban.

"Biasanya yang disasar adalah pedagang pasar yang berpendidikan rendah sehingga mereka percaya begitu saja menyerahkan uangnya kepada para pelaku ini," tutur Herry.

Biasanya usai korban menyerahkan satu tas berisi uang kepada pelaku, pelaku menukarnya dengan tas berisi daun yang diyakini akan berubah menjadi uang dengan nilai 10 kali lipat dari uang sebelumnya. Syaratnya, tas itu harus dibuka 15 menit setelah pertemuan usai.

"Saat korban pulang ke rumah, dia baru sadar ternyata isinya hanya daun-daun dan tidak berubah jadi uang," imbuh Herry.

Sementara itu, Abuyah kepada wartawan menuturkan bahwa dirinya belajar secara otodidak melakukan tipu muslihat itu. "Biasanya saya lakuin di pasar," ucap Abuyah yang mengaku sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik ini.

Dari hasil menipu, komplotan ini berhasil membeli satu unit mobil Toyota Avanza dan 1 unit sepeda motor Vario Techno. Setelah beraksi selama 1 tahun, Abuyah, Komarudin, dan Taufik Hidayat berhasil ditangkap dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan. Ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berbagai Festival Meriahkan Jakarta Akhir Pekan Ini

Berbagai Festival Meriahkan Jakarta Akhir Pekan Ini

Megapolitan
Keamanan di Stasiun MRT Jakarta Ditingkatkan atas Permintaan Polisi

Keamanan di Stasiun MRT Jakarta Ditingkatkan atas Permintaan Polisi

Megapolitan
PT Transjakarta Klarifikasi, Bus Transjakarta Zongtong Belum Beroperasi Setelah Ada Kasus Video Tak Senonoh

PT Transjakarta Klarifikasi, Bus Transjakarta Zongtong Belum Beroperasi Setelah Ada Kasus Video Tak Senonoh

Megapolitan
RS Polri Kesulitan Identifikasi Jenazah yang Diduga Warga China yang Tewas Selat Sunda

RS Polri Kesulitan Identifikasi Jenazah yang Diduga Warga China yang Tewas Selat Sunda

Megapolitan
Pipi, Pelipis, dan Kaki Pelajar SMP di Kembangan Luka Akibat Disiram Air Keras

Pipi, Pelipis, dan Kaki Pelajar SMP di Kembangan Luka Akibat Disiram Air Keras

Megapolitan
PKL yang Jualan di Bahu Jalan Senen Khawatir Pendapatan Berkurang Jika Direlokasi

PKL yang Jualan di Bahu Jalan Senen Khawatir Pendapatan Berkurang Jika Direlokasi

Megapolitan
DPRD DKI Pesimistis APBD 2020 Rampung Sesuai Aturan Kemendagri

DPRD DKI Pesimistis APBD 2020 Rampung Sesuai Aturan Kemendagri

Megapolitan
Minim Penerangan, Warga Sulit Seberangi JPO Stasiun Pasar Minggu Baru di Malam Hari

Minim Penerangan, Warga Sulit Seberangi JPO Stasiun Pasar Minggu Baru di Malam Hari

Megapolitan
Bima Arya Pertimbangkan Maju sebagai Calon Ketua Umum PAN

Bima Arya Pertimbangkan Maju sebagai Calon Ketua Umum PAN

Megapolitan
Pelaku Pelecehan Seksual Dikejar dan Ditangkap Korbanya di Kalideres

Pelaku Pelecehan Seksual Dikejar dan Ditangkap Korbanya di Kalideres

Megapolitan
WNA Pemilik Salon Operasi Lipatan Kelopak Mata Ilegal di PIK Belajar dari Dokter di China.

WNA Pemilik Salon Operasi Lipatan Kelopak Mata Ilegal di PIK Belajar dari Dokter di China.

Megapolitan
Dukung Ahok Jadi Bos BUMN, Ketua DPRD DKI: Selama Pimpin Jakarta Kinerjanya Baik

Dukung Ahok Jadi Bos BUMN, Ketua DPRD DKI: Selama Pimpin Jakarta Kinerjanya Baik

Megapolitan
Pabrik Sepatu Hengkang, Pengangguran di Banten Berpotensi Naik Ratusan Ribu Orang

Pabrik Sepatu Hengkang, Pengangguran di Banten Berpotensi Naik Ratusan Ribu Orang

Megapolitan
Mengenal GrabWheels, Satu Wujud dari Tranportasi Pintar di Indonesia

Mengenal GrabWheels, Satu Wujud dari Tranportasi Pintar di Indonesia

Megapolitan
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap 2 Siswi di Kebon Jeruk

Ini Sketsa Wajah Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap 2 Siswi di Kebon Jeruk

Megapolitan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X