Album Eks Peterpan Tanpa Ariel

Kompas.com - 27/05/2012, 03:38 WIB
Editor

Awak band yang dulu bernama Peterpan merilis album baru tanpa vokal Ariel. Lewat album instrumental bertajuk Suara Lainnya produksi Musica Studios, kawan-kawan Ariel itu mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan estetis yang selama ini belum dijamah Peterpan dalam koridor musik industri.

”Kami kepikir bagaimana semangat harus terus jalan. Konsep apa yang tepat dengan membiarkan saja posisi vokal kosong?” kata Uki, pemain gitar rhythm eks Peterpan, Selasa (22/5) di Musica Studios, Jakarta.

Perlu dicatat, mereka di album ini tidak mengibarkan nama Peterpan, tetapi membawa nama personel, yaitu Ariel, Uki (gitar), Lukman (gitar), Reza (drum), dan David (keyboards). Nama Ariel tercantum karena secara ide masih berperan, meski secara fisik ia nonaktif.

Menarik disimak bagaimana band yang selama ini bertumpu pada vokal Ariel itu kini hadir menyuguhkan karya instrumental. Mereka tidak sekadar mengalihkan fungsi vokal ke instrumen musik, tetapi menafsir ulang secara instrumental lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Peterpan. Bisa dikatakan pada album ini tidak ada lagi jejak rasa garapan lama versi vokal Ariel.

Sekadar pembanding, lagu-lagu Koes Plus pernah dibuat versi instrumental oleh saksofonis Albert Sumlang. Pada lagu-lagu tersebut, saksofon Albert masih menari-nari di atas aransemen versi asli dari Koes Plus. Begitu pula saksofon menirukan alur melodi versi vokal dari Koes Plus. Pada album instrumental Suara Lainnya, kawan-kawan Ariel itu melepas rasa lama. Mereka mengemas karya lama dengan pendekatan yang dirancang untuk suguhan instrumental, bukan garapan musik yang berorientasi pada vokal.

Biola Idris Sardi

Dengan pendekatan seperti itu, mereka bisa leluasa menggagas bentuk dan rasa baru dari lagu-lagu Peterpan. Keleluasaan gagasan itu termasuk dalam urusan melibatkan seniman lain untuk memainkan lagu Peterpan. Untuk lagu ”Sahabat,” misalnya, awak eks Peterpan menggagas untuk menampilkan kelompok Karinding Attack sebagai penafsir. Hasilnya adalah lagu ”Sahabat” dan ”Di Belakangku” dengan sentuhan etnis, bernuansa kesunda-sundaan khas Karinding Attack. Mereka adalah kelompok musik modern dengan basis tradisi. Mereka antara lain memainkan instrumen karinding serta suling sunda.

Lagu ”Taman Langit” digarap dengan musik yang mengingatkan kita pada bentuk-bentuk sonata. Pada lagu ini dilibatkan biola Idris Sardi dan cello dari Henry Lamiri, plus piano dari David. Lagu tersebut direkam secara live dengan partitur. Virtuositas Idris Sardi dan Henry Lamiri membuat lagu ini menjadi terlalu indah.

”Bintang di Surga” digarap dengan unsur suara gesek (string). Jika dibandingkan dengan versi vokal, lagu tersebut bisa dikatakan sebagai bukan tipikal milik Peterpan. Akan tetapi, kreativitas memang tidak dibatasi oleh tipikalisasi yang bisa memasung eksplorasi.

Uki mengakui bahwa albumnya tergolong idealistis. Di satu sisi ia paham benar segmen pasar Peterpan itu seperti apa. Di sisi lain, ia tidak mau terjebak dalam tipikalisasi yang diberikan oleh segmen pasar mereka. ”Saya juga mau melirik kiri-kanan. Kami berusaha tampil beda tanpa ada yang harus dikorbankan,” kata Uki yang respek pada penggemar Peterpan.

Mungkin itu mengapa masih ada satu bonus track lagu ”Dara” dengan vokal Ariel yang pernah dirilis sebagai lagu tunggal (single) pada awal 2012. Sebagai semacam jembatan bagi mereka yang familiar dengan lagu ”Peterpan” versi instrumental, album ini juga memuat versi vokal lagu ”Cobalah Mengerti” dengan vokal Momo, vokalis Geisha. Ia mereinterpretasi lagu tersebut hingga menjadi seperti lagu miliknya sendiri alias jauh berbeda dengan versi Ariel.

”Dalam Suara Lainnya, kami bisa mengeksplorasi suara lain yang tak mungkin dieksplorasi Peterpan dalam format band. Apa yang disuguhkan dalam album instrumental ini tidak mungkin terdengar dari Peterpan dalam koridor musik industri,” kata David.

Isi kekosongan

Album Suara Lainnya pada awalnya dibuat untuk mengisi kekosongan awak eks Peterpan setelah nonaktifnya Ariel. Mereka terakhir melepas album kompilasi Sebuah Nama Sebuah Cerita (2008). Uki, Reza, Lukman, Ariel, dan David menimbang untuk membiarkan posisi vokal kosong. Sempat tergagas untuk mengganti vokal itu dengan piano saja. Namun, piano saja dirasa terbatas untuk bereksplorasi. Terpikir kemudian untuk melebarkan eksplorasi dengan memasukkan instrumen lain dengan menggandeng musisi di luar awak eks Peterpan.

”Pada awalnya kami skeptis, serius enggak serius. Kami bertanya-tanya emang pasarnya ada?” kata Uki.

Apa boleh buat. Industri bicara soal segmentasi dan pembeli potensial. Anak-anak band yang hidup dalam dekapan hukum industri itu sempat merasa gamang apakah album laku. Uki dan kawan-kawan kemudian berani melepaskan diri dari hukum pasar. Produser Musica Studios pun memberi lampu hijau. Dan, hasilnya adalah sebuah rasa lain yang segar dari band yang dulu populer sebagai Peterpan. (XAR)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X