Transaksi Dana Triliunan Koperasi Langit Biru Selalu Dilakukan Tunai

Kompas.com - 06/06/2012, 17:05 WIB
|
EditorAloysius Gonsaga Angi Ebo

JAKARTA, KOMPAS.com - Koperasi Langit Biru (KLB) mulai menjalankan aktivitasnya sejak bulan Januari 2011. Koperasi yang terletak di Perum Bukit Cikasungka Blok ADF No. 2, 3, 4 Desa Cikasungka, Kabupaten Tangerang, Banten itu menawarkan paket investasi dengan bonus menggiurkan sampai 10 persen setiap bulannya.

Hingga Oktober 2011, total dana investasi yang berhasil dihimpun koperasi ini mencapai Rp 6 triliun. Pemberian bonus dan produk mulai macet pada bulan Januari 2012. Mulai dari situ, sebanyak empat orang anggota akhirnya melaporkan ke Polres Tangerang Kabupaten atas tuduhan penipuan dan penggelapan dana investasi.

Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan sejumlah kejanggalan lantaran seluruh proses transaksi yang dilakukan koperasi ini selalu dilakukan secara tunai. "Proses mengeluarkan uang keuntungan kepada investor selalu dilakukan manual pada tanggal 1-5 setiap bulannya," ucap Kasat Reskrim Polres Tangerang Kabupaten, Komisaris Shinto Silitonga, Rabu (6/6/2012), di Mapolda Metro Jaya.

Pada awal bulan, kata Shinto, manajer keuangan biasanya diberikan koper-koper berisi uang oleh pemilik KLB, Jaya Kumara. "Nanti uang-uang itu diberikan kepada nasabah melalui kasir," ucap Shinto.

Selama ini, setoran uang investasi dari para anggota KLB juga selalu disimpan di sebuah brankas di rumah Jaya Kumara. "Tidak ada uang yang disimpan di koperasi. Semua di rumah JK (Jaya Kumara). Di koperasi hanya disimpan produk seperti sembako dan daging," kata Shinto.

Namun, saat ditelusuri ke rumah Jaya Kumara, polisi tidak menemukan apa pun. Rumah itu kosong tanpa penghuni, termasuk isi brankas. Shinto mengakui dengan sistem transaksi secara manual ini, polisi harus bekerja ekstra keras mengungkap aliran dana investasi yang dilakukan KLB.

"Kami tidak bisa lacak aliran dana ke bank karena ternyata tidak ada satu bank pun yang digunakan koperasi ini. Selama ini, uang triliunan itu dibawa ke dalam koper-koper," ujar Shinto.

Meski sulit, tetapi Shinto mengatakan pihaknya optimistis bisa menelusuri aliran dana investasi sekitar 125.000 anggota KLB yang kini tak jelas muaranya tersebut. "Kami berpegang pada data-data yang ada di dalam komputer supaya di situ bisa diketahui ke mana saja uang investor ini," papar Shinto.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X