Kompas.com - 28/06/2012, 09:28 WIB
|
EditorSonya Hellen Sinombor

ADELAIDE, KOMPAS.com-  Indonesia merupakan salah satu negara produsen ganja terbesar di dunia. Dalam laporan tahunan PBB mengenai obat-obatan terlarang, Indonesia memproduksi sekitar 422 hektar ganja.

Angka ini memang masih kecil dibandingkan negara penghasil ganja terbesar seperti Meksiko dan Afghanistan yang diperkirakan memiliki lebih dari 10 ribu hektar tanaman ganja. Dalam statistik yang diterbitkan oleh PBB, negara lain yang melaporkan adanya produksi ganja di negara mereka adalah Maroko (47 ribu hektar), Sri Lanka (500 hektar), Swazilan (633 hektar), dan Ukraina (920 hektar).

Menurut PBB dari statistik di tahun 2010, di Indonesia, terdapat sekitar 600 hektar tanaman ganja, namun 178 hektar diantaranya berhasil dimusnahkan. Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L. Sastra Wijaya, media di Australia mengangkat bagian yang menyebutkan bahwa warga Australia dan Selandia Baru merupakan pengguna obat-obatan terlarang paling besar di dunia.

Penggunaan ekstasi dilaporkan menurun di Australia, namun pemakaian kokain meningkat. Dan juga secara proporsional per jumlah penduduk, warga Australia dan Selandia Baru menggunakan ganja lebih besar dibandingkan penduduk negara lain.

Menurut laporan PBB yang diterbitkan di Wina (Austria) tersebut antara 9.1 sampai 14.6 persen penduduk Australia menggunakan obat-obatan terlarang, dengan rata-rata penduduk dunia hanya 2.6 sampai 5 persen. Ganja (Marijuana) masih merupakan obat terlarang yang paling banyak ditanam, diperdagangkan dan digunakan di seluruh dunia.

Khusus untuk Asia dan Indonesia, PBB mengatakan penggunaan ekstasi juga meningkat, meskipun keberhasilan pihak berwenang berhasil menyita bahan-bahan terlarang tersebut. Selama tahun 2010, terjadi peningkatan 31 persen penangkapan bahan-bahan ekstasi di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Di Indonesia, 127 kg ekstasi diamankan, di Malahysia 130 kg dan di CHina 382 kg. Jumlah laboratorium ekstasi di seluruh juga yang berhasil dibongkar juga menurun dari 52 di tahun 2009 menjadi 44 lab di tahun 2010. Negara yang melaporkan keberhasilan membongkar laboratorium ekstasi tersebut adalah Australia (17 lab), Kanada (13), Indonesia (12), Malaysia (1) dan Argentina (1).

"Meskipun adanya penurunan produksi ekstasi, namun di beberapa negara seperti Australia dan Indonesia, dilaporkan adanya peningkatan kemampuan atau besarnya laboratorium untuk memproduksi ekstasi. demikian laporan PBB tersebut.    

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.