Jalan Layang Khusus Transjakarta Minimalisir Potensi Kecelakaan

Kompas.com - 18/07/2012, 20:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Jalan layang khusus bus Transjakarta atau yang disebut elevated lane dianggap sebagai salah satu langkah untuk meminimalisir potensi Transjakarta terlibat kecelakaan dengan moda transportasi lain. Keterbatasan lahan dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi, menjadikan pembangunan jalan layang khusus ini dianggap sebagai solusi untuk saat ini.

"Keberadaan jalan layang dapat meminimalisir potensi bus terlibat kecelakaan dengan moda transportasi lain. Juga untuk mempertegas komitmen pemerintah dalam menyediakan transportasi yang nyaman bagi warganya," kata Direktur Institut Studi Transportasi (Instran), Darmaningtyas, saat ditemui usai Temu Unsur Dewan Transportasi Kota Jakarta, di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (18/7/2012).

Selain itu, menurutnya, melalui jalur khusus ini, bus Transjakarta tidak perlu berbagi jalur dengan kendaraan lain. "Sehingga headway atau jarak laju antarbus tersebut dapat diperpendek menjadi tiga sampai lima menit," ujar Darmaningtyas.

Sementara itu, Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta, Azaz Tigor Nainggolan, menyebutkan dengan jalan layang khusus, busway bisa melaju tanpa hambatan sehingga konsep bus priority benar-benar bisa dilaksanakan. "Kondisi ini bisa menambah daya tarik pada komuter untuk tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, melainkan beralih ke angkutan umum massal," ujar Azaz.

Ia mengatakan, beberapa hal teknis penting yang dapat menunjang keberhasilan program Transjakarta busway antara lain penambahan armada dan suplai bahan bakar dan optimalisasi jaringan pelayanan angkuatan umum.

"Program lainnya untuk meningkatkan kelayakan Transjakarta adalah melakukan manajemen informasi yang baik, serta membangun fasilitas angkutan pengumpan atau feeder dan park and ride yang baik," kata Azaz.

Dengan kompleksitas permasalahan transportasi yang ada di Jakarta, pembangunan jalan layang khusus bus Transjakarta bisa dimulai pada jalur-jalur strategis tetapi minim Right Of Way. Misalnya Jalan Raya Pasar Minggu (untuk koridor Manggarai-Universitas Indonesia, Depok) dan Jalan Raya Ciledug (untuk koridor Blok M-Ciledug).

Dalam Pola Transportasi Makro (PTM) yang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta sejak 2004 lalu, disebutkan mengenai perlunya peningkatan kualitas layanan angkutan umum dengan mengembangkan angkutan massal cepat yang dimulai dengan Transjakarta Busway. Dalam PTM, dirancangkan Transjakarta Busway akan memiliki 15 koridor saling terhubung sebagai sebuah jaringan (network based service).

Sampai tahun ini, 11 koridor telah beroperasi. Diharapkan hingga tahun 2014 ke depan, empat koridor bisa tuntas diselesaikan. "Mengingat rendahnya kapasitas busway yang ada saat ini, peningkatan kapasitas harus menjadi perhatian dari semua pihak sehingga kehadiran moda angkutan massal berbasis jalan pertama di Indonesia ini bisa berkontribusi signifikan dalam mengurai kemacetan di jalanan ibukota," pungkas Azas.



EditorAloysius Gonsaga Angi Ebo
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X