Kompas.com - 26/08/2012, 22:38 WIB
|
EditorFarid Assifa

JAKARTA, KOMPAS.com -- Permasalahan kota seperti Jakarta, salah satunya yaitu serangan urbanisasi. Terlebih selepas musim mudik. Ada saja orang dari desa atau daerah-daerah yang ingin mengadu nasib di ibu kota negara tersebut.

Yang mengkhawatirkan banyak para urban yang hanya bermodal nekat, minim skill memaksakan diri bekerja di Jakarta. Akhirnya menimbulkan permasalahan sosial baru, yakni kemiskinan.

Pemerintah DKI Jakarta berupaya mengatasi urbanisasi ini salah satunya dengan operasi yustisi. Namun, kandidat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi meragukan keefektifan operasi tersebut. Menurutnya, terjadinya urbanisasi lebih disebabkan lapangan pekerjaan yang tidak merata.

"Operasi yustisi sudah dilakukan bertahun-tahun. Bukan saja tahun ini atau tahun lalu. Kenyataannya saya kira hal itu bukan cara yang efektif untuk mengurangi urbanisasi. Urbanisasi lebih disebabkan karena lapangan kerja yang kurang. Sementara perputaran uang di sini besar, mencapai 70 persen lebih, sehingga orang berbondong-bondong ke sini," kata Jokowi di sela rangkaian kunjungannya kepada warga di bilangan Pengadegan, Jakarta Selatan, Minggu (26/8/2012).

Menurut Jokowi, pemerintah pusat perlu mendorong agar peredaran uang bisa terdistribusi ke daerah-daerah yang terhitung minat warganya untuk urbanisasi tinggi. Ia menilai apabila di daerah-daerah juga bisa dijumpai pekerjaan, tentunya orang memilih untuk tidak pindah ke kota seperti Jakarta.

Jokowi berpendapat, pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta harus melihat potensi daerah-daerah yang bisa diinvestasikan. Terlebih daerah tersebut terbilang banyak mendatangkan orang ke Jakarta. Bila tidak demikian, kata dia, gelombang urbanisasi akan tetap melanda Jakarta.

Sekalipun Jakarta dipagar, ditembok atau diberi pintu gerbang, kata Jokowi, para urban kerap menyerbu. "Kalau di daerah ada lapangan pekerjaan otomatis tidak akan ke Jakarta. Tetapi kalau operasi yustisi tidak akan efektif. Wong kalau Jakarta dipagari, ditembok atau diberi gerbang urbanisasi akan ada," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.