Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pedihnya Perasaan Ayah Bocah Korban Perkosaan

Kompas.com - 28/08/2012, 20:00 WIB
Imanuel More

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - AN, bocah perempuan berusia 3 tahun 11 bulan menjadi korban tindakan tak bermoral yang dilakukan oleh tetangganya, Zaenudin (47). Peristiwa itu menimbulkan luka mendalam di hati keluarga korban.

Munawir (33), ayah korban, yang ditemui di kediamannya, Jalan H Saidi, RT 08 RW 04 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (28/8/2012) sore menuturkan, ia sebenarnya sudah mendengar cerita anaknya sejak dua hari sebelum Lebaran.

"Sehari sebelum malam takbiran, saya ajak anak saya (AN) ke Pasar Minggu untuk beli-beli baju," tutur Munawir.

Dari rumahnya, mereka menumpang mikrolet S15. Seperti biasa anaknya meminta duduk di dekat jendela untuk mendapat udara segar. Tak sengaja tanggan AN menyentuh kemaluan ayahnya. Munawir yang merupakan pedagang makanan keliling itu langsung memeluk anaknya dan membisikan nasihat.

"Itu nggak baik, nggak sopan," ujar Munawir dengan bibir bergetar.

Tak dinyana, anaknya menimpali nasihat ayahnya dengan kata-kata polos. Ia mengungkapkan dengan kejujuran khas anak-anak tentang perbuatan seorang pria dewasa kepada dirinya. Munawir langsung terperangah mendengar pengakuan putri tunggalnya yang menjadi korban tindakan asusila.

"Dia belum sebut namanya, tapi pikiran saya udah ke mana-mana. Saya langsung lemas," kata Munawir.

Kegiatan belanja pakaian Lebaran yang seharusnya diwarnai sukacita justru dijalani dengan suasana hati yang terkoyak-koyak. Bagaimana tidak, keperawanan putri semata wayang dari perkawinannya dengan M (31) direnggut dengan oleh seorang pria dewasa.

"Saya cuma bolak-balik pakaian dan biarin anak saya milih. Perasaan saya sudah benar-benar kacau," tutur Munawir.

Dalam perjalanan pulang, ia meminta anaknya menunjukkan rumah pelaku. Bak disambar petir, anaknya justru menunjuk ke arah kamar kos Zaenudin, tetangga kosnya yang selama ini dikenal sebagai pria yang berperilaku santun dan bertutur kata ramah.

"Orangnya baik banget, benar-benar baik. Saya benar-benar nggak nyangka," ujar Munawir.

Tak ingin aib itu berkembang luas, Munawir memilih untuk menutup informasi anaknya, termasuk terhadap isterinya. Selain itu, ia juga masih meragukan kata-kata anaknya lantaran melihat perilaku Udin, sapaan Zaenudin, yang terlihat sangat sopan.

Namun, kisah asusila itu terungkap juga. Sore menjelang malam Takbiran, AN ternyata mengungkapkan cerita yang sama kepada ibunya, saat mereka tengah berkumpul di kediaman mertua Munawir. Meski demikian, pedagang makanan Royal Crepes itu tetap meminta isterinya untuk menutup informasi tersebut hingga buktinya menjadi lebih jelas.

"Saya ingin kami punya bukti kuat, yaitu keterangan dokter (hasil visum)," kata Munawir.

Ia kemudian menceritakan peristiwa itu kepada pihak keluarga. Seluruh anggota keluarga akhirnya sepakat dengan pilihan Munawir untuk menunggu hasil visum. Hal yang sama juga disampaikan Ketua RT setempat (RT 08). Ia juga menyanggupi untuk menunggu hasil visum.

"Kemungkinan waktu saya bercerita kepada Pak RT, kedengaran oleh orang lain sehingga kemudian cerita itu berkembang luas di antara warga," sambung Munawir.

Pada Sabtu (25/8/2012) malam, para tetangga yang geram terhadap ulah bejat Zaenudin mendatangi Munawir untuk mengajaknya segera menghakimi pelaku. Namun, ajakan itu ditampiknya. Ia meminta mereka untuk menunggu hasil visum.

Senin (27/8/2012) kemarin, hasil visum dari RSCM diterima. Hasilnya, selaput keperawanan AN telah sobek dan terdapat bekas memar yang sudah cukup lama di dinding kemaluannya. Bersama keluarga dan Ketua RT 08, Munawir mendatangi kamar kos pelaku. Namun penghakiman warga telah mendahului.

"Dia ditanya warga berkali-kali tapi nggak ngaku-ngaku. Padahal hasil visum sudah ditunjukkan," kata Munawir.

Warga yang geram kemudian mengancam dengan menggunakan senjata tajam. Saat itulah Udin mengaku telah mengggagahi AN. Ia pun langsung menjadi sasaran kemarahan warga.

"Saya dan ipar yang anggota TNI terus berusaha untuk melerai. Saya benar-benar berjuang karena saya tidak ingin dia mati. Saya ingin dia hidup dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Munawir dengan nada geram.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com