Kompas.com - 01/09/2012, 23:22 WIB
|
EditorNasru Alam Aziz

JAKARTA, KOMPAS.com  -- Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Provinsi Riau minta pemerintah segera membuat kebijakan untuk memperkuat pasar sabut kelapa olahan di dalam negeri. Permintaan ini menyusul anjloknya harga jual sabut kelapa olahan di pasar internasional hingga 300 dollar AS per ton untuk produk serat sabut kelapa (coco fiber) dan 100 dollar AS per ton untuk produk serbuk sabut kelapa (coco peat).

Ketua AISKI Riau, Ady Indra Pawennari mengatakan, sudah saatnya pemerintah memperkuat penggunaan sabut kelapa olahan untuk kebutuhan industri dalam negeri. "Untuk saat ini, harga sabut kelapa olahan di pasar internasional sudah tidak ekonomis lagi," ujar Ady, Sabtu (1/9/2012).

Keterangan Ady tersebut relevan dengan pertemuan yang dilakukan AISKI Riau dengan sejumlah importir sabut kelapa olahan asal China, Singapura, dan Malaysia di Batam, Sabtu siang.

Menurut dia, dalam satu tahun terakhir, harga penjualan sabut kelapa olahan, khususnya coco fiber di pasar internasional sudah tiga kali mengalami penurunan, mulai dari harga 400 dollar AS per ton, 350 dollar AS per ton, hingga 300 dollar AS per ton pada awal bulan September ini. Penurunan harga yang drastis ini dikhawatirkan berdampak pada pertumbuhan industri sabut kelapa nasional.

Soal pasar dalam negeri yang potensial untuk digarap, Ady menyebutkan industri peralatan rumah tangga, otomotif, pertambangan dan hutan tanaman industri adalah pengguna sabut kelapa olahan yang paling potensial di Indonesia. "Misalnya, untuk industri peralatan rumah tangga, selama ini matras, bantal dan spring bed berbahan baku coco fiber yang banyak digunakan di hotel berbintang, masih impor. Padahal, bahan bakunya sebagian berasal dari Indonesia," ungkapnya.

Untuk industri otomotif, menurut Ady, beberapa merk mobil di Indonesia sudah menggunakan jok yang terbuat dari coco fiber. Sedangkan untuk pertambangan dan hutan tanaman industri, penggunaan coco peat untuk media reklamasi dan revegetasi lahan pasca tambang dan media tanam di persemaian biji tanaman hutan, belum maksimal karena masih kurangnya sosialisasi.

"Ini yang harus digerakkan oleh pemerintah. Khusus untuk pertambangan, Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah Nomor 76 tahun 2008 sudah mewajibkan adanya reklamasi, rehabilitasi dan revegetasi lahan pasca tambang. Hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyebutkan, solusi yang paling efektif untuk kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan kritis dan pasca tambang adalah menggunakan media sabut kelapa. Jadi, tunggu apa lagi," papar Ady.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

AISKI mencatat Indonesia merupakan produsen buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 15 miliar butir per tahun. Namun, sabut kelapanya belum diolah maksimal sebagai komoditas yang menjanjikan. Setiap butir kelapa rata-rata menghasilkan coco fiber seberat 0,15 kilogram dan coco peat seberat 0,39 kilogram.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.