Fauzi Bowo Paparkan "Giant Sea Wall"

Kompas.com - 13/09/2012, 13:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejauh ini Jakarta belum memiliki sea wall system dalam skala besar. Selain menjaga dari bahaya rob, sea wall system dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan air bersih.

Di sisi lain, kebutuhan air bersih semakin terkendala dengan sumber persediaan yang menipis. Salah satu gagasan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatasi persoalan itu adalah membangun giant sea wall (GSW) di utara Jakarta.

GSW dapat bermanfaat untuk banyak hal selain sebagai penyimpanan air bersih. Ada jalan melingkar di atas GSW dan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Untuk membangun gagasan ini, menurut Fauzi Bowo, perlu dana paling tidak Rp 150 triliun. Dia mengatakan, perlu keterlibatan swasta untuk pembangunan GSW. Paling tidak sebelum tahun 2025, sebelum prediksi rob di seluruh pantai utara Jawa terjadi, proyek ini harus sudah selesai.

"Yang pertama dan paling utama membangun kepercayaan bahwa pemerintah daerah adalah entitas yang bisa dipercaya. Jika ini tidak ada, proyek apa pun tidak akan dapat dijalankan," tutur Fauzi.

Terkait kepercayaan ini, kredibilitas DKI dalam pengelolaan anggaran sudah dapat diakui, paling tidak sesuai dengan penilaian Badan Pemeriksa Keuangan, yaitu Wajar Tanpa Pengecualian. Menurut Fauzi, predikat ini menjadi modal penting untuk menjual obligasi daerah. "Meraih predikat ini tidak mudah sebab Pemprov DKI memiliki aset sekitar Rp 350 triliun sampai Rp 400 triliun," tuturnya.

Dengan modal kepercayaan ini, dia yakin Pemprov DKI dapat membiayai proyek-proyek besar, termasuk GSW. Namun, selama proyek GSW belum berjalan, Pemprov DKI dalam waktu dekat membangun pabrik penjernihan air di Curug, Karawang, Jawa Barat.

Proyek ini merupakan solusi jangka pendek memenuhi kebutuhan air bersih Jakarta. Solusi jangka panjang adalah membangun GSW.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama memuji konsep Fauzi. Menurut dia, konsep Fauzi melebihi pemikiran seorang gubernur.

Jakob mempertanyakan apakah semua gagasan yang dipaparkan sudah diketahui publik dan staf pemerintah. Pertanyaan itu langsung dijawab Fauzi, "Saya sadar ada kelemahan dalam komunikasi publik. Kami akan memperbaikinya," tutur Fauzi.

Kunjungan Fauzi ke Redaksi Harian Kompas berlangsung mulai pukul 10.30 WIB. Fauzi hadir tanpa didampingi pejabat pemerintahan, tetapi hanya ditemani beberapa pendamping pribadinya. Kedatangan Fauzi disambut Jakob Oetama, Pemimpin Redaksi Rikard Bagun, dan sejumlah wartawan.



EditorNasru Alam Aziz
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X