JAKARTA, KOMPAS.com - Kampung Pulo, yang terletak di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, mungkin sudah tak asing bagi warga Jakarta. Ratusan rumah yang terendam air luapan Kali Ci Liwung, menjadi bayangan yang terlintas saat menyebut nama salah satu kampung tertua di Jakarta tersebut. Layaknya daerah-daerah yang ada di bilangan ibukota lainnya, nama Kampung Pulo turut memiliki cerita menarik di baliknya. Antara lain kehidupan masyarakat saat kolonial Belanda hingga Jepang berkuasa. Belum lagi pertambahan penduduk membuat warga Betawi di Kampung Pulo harus beradaptasi dengan kelompok masyarakat dari suku lainnya.
Marhasan (89), salah satu orang tua di Kampung Pulo. Meski usianya renta, ingatannya cukup tajam. Dari pria yang lebih terkenal disapa Babeh Acang ini, Kompas.com mendapatkan cerita menarik tentang sejarah Kampung Pulo. Ditemui di rumah sederhananya, Babeh Acang bercerita tak berhenti.
"Kenapa disebut Kampung Pulo, karena Kali Ci Liwung ngiterin kampung kita. Sebelah kiri kali, sebelah kanan juga kali, jadi kampung kita kaya pulau adanya di tengah-tengah, gitu ceritanya," ujar Babeh Acang dengan semangat.
Secara geografis, kampung yang kini terdiri dari dua RW, yaitu RW 02 dan RW 03, itu memang dikepung Kali Ci Liwung. Sisi selatan, timur dan utara, Kampung Pulo berbatasan dengan kali yang berhulu di kawasan Bogor itu. Sisi barat Kampung Pulo berbatasan dengan Bali Mester.
Pria yang indera pendengarannya tak lagi tajam tersebut, lahir dan besar di Kampung Pulo. Segala peristiwa penting dan perkembangan kampung yang kerap disebut kampung banjir itu pun telah dialaminya, termasuk ketika penjajah Belanda melakukan aktivitas dagang di Jatinegara, daerah pusat perdagangan kala itu. Ketika zaman Belanda, Kali Ci Liwung, menjadi akses para penambang pasir. Saat masih bocah, ia sering melihat kapal yang hanya tersisa sejengkal saja dengan permukaan air karena penuh dengan pasir. Kapal-kapal itu melabuhkan muatannya di Manggarai untuk selanjutnya dikirim ke daerah lain untuk pembangunan.
"Kalau waktu zaman Jepang juga paling jahat itu. Daerah yang sekarang namanya Rawabunga, dulu namanya Rawabangke. Soalnya orang-orang yang nggak nurut sama Jepang dibunuh terus dibuang ke Rawabangke. Dulu itu masih rawa-rawa," lanjut pria lima anak tersebut.
Zaman demi zaman, Kampung Pulo mengalami perubahan. Namun, segala perubahan itu tetap tak menghilangkan wajah aslinya, yaitu banjir. Pasalnya, memang sejak kecil, bahkan sebelum ia lahir, jika wilayah Bogor dilanda hujan, rumah di Kampung Pulo pun turut terendam akibat luapan air Kali Ci Liwung. Terbiasalah warga Kampung Pulo dengan kondisi demikian.
"Cuma, banjir dulu beda sama banjir sekarang. Kalau dulu biar banjir juga airnya bersih, coba sekarang, boro-boro. Tapi, sejak saya di sini, banjir paling besar itu ya tahun 1996, 2002 sama 2007, itu air sampai atap rumah," ujar Babeh Acang.
"Dulu, di kali juga masih banyak ikan. Ikan tawes, ikan gurame, ikan mas, ikan lele, udang. Sambil mandi sambil mancing. Sekarang paling dapet ikan sapu-sapu doang," lanjut Babeh Acang.
Harmonis
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanDapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kompas.com
Daftarkan Email
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

