Alihkan Subsidi untuk MRT

Kompas.com - 05/11/2012, 05:26 WIB
Editor

jakarta, kompas - Kelanjutan pembangunan proyek mass rapid transit di Jakarta belum menemui titik terang. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sampai-sampai mengundang Land Transport Authority Singapura untuk membandingkan pembangunan moda transportasi tersebut.

Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Sutanto Soehodo, Sabtu (3/11), mengatakan, pemerintah perlu mengambil alih proyek mass rapid transit (MRT) sehingga ada subsidi untuk keberlangsungannya. ”Jadi kalau ada kekhawatiran nanti keretanya tidak penuh, sebenarnya tidak perlu. Untung ruginya tidak bisa diukur dengan level perusahaan karena ini proyek pemerintah. Makanya ada subsidi di situ,” katanya.

Jika dikelola swasta, kemungkinan keberlangsungan MRT bisa kolaps. Pihak swasta, menurut Sutanto, berpikir, jika tidak untung dalam 3-5 tahun tentu mereka menolak investasi. Sebagai proyek pemerintah, pada penghitungan awal sudah dikalkulasi bahwa pengembalian utang pinjaman dilakukan dalam 40 tahun dengan periode tunai 10 tahun.

”Jadi jelas dalam penghitungan itu sudah pasti termasuk kereta penuh atau kosong. Makanya tadi saya bilang, boleh-boleh saja rugi keretanya. Itulah gunanya subsidi, mengalihkan subsidi bahan bakar,” ujar Sutanto.

Keuntungan pun bukan semata-mata datang dari penjualan tiket. Ada keuntungan sampingan, seperti berkurangnya subsidi bahan bakar minyak karena banyak orang beralih menggunakan MRT. Harga properti di sekitar jalur-jalur MRT pun terdongkrak. Dari segi lingkungan, terjadi pengurangan emisi bahan bakar.

Dalam pertemuan dengan LTA Singapura, terungkap bahwa pembangunan MRT terbaru di Singapura menelan biaya Rp 2 triliun-Rp 3 triliun per kilometer. Dibandingkan dengan biaya pembangunan MRT di Jakarta yang mencapai sekitar Rp 1 triliun per kilometer, harga di Singapura tentu lebih mahal.

Berbeda

Namun, lanjut Sutanto, proyek MRT Singapura murni dibangun dengan dana pemerintah, tak seperti di Jakarta yang dibangun dengan dana pinjaman dari Jepang. ”Pemerintah Singapura membangun infrastruktur, membeli rolling stock berupa gerbong dan keretanya, kemudian menyerahkan kepada operator untuk mengoperasikannya dengan standar pelayanan yang sudah ditetapkan,” ujar Sutanto.

Teknologi yang digunakan oleh Singapura memang berbeda dengan Jakarta. Di Singapura, gerbong berjalan tanpa masinis sehingga menuntut persinyalan yang sempurna dan akurat. Sementara di Jakarta, MRT masih dijalankan masinis.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, dari pengalaman Singapura itu, Jakarta bisa belajar membangun MRT yang memadai. ”Meskipun MRT kita berbeda dengan Singapura, kita bisa belajar dari prinsip manajemen atau sistem tiket dari mereka,” katanya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.