Kompas.com - 21/11/2012, 10:24 WIB
EditorHertanto Soebijoto

BEKASI, KOMPAS.com - Gery Matthew Graham (16), siswa kelas X SMAN 6, Bekasi, sempat ragu saat dipilih manajemen sekolah mengikuti pelatihan selama lima hari di Sekolah Polisi Negara Polda Metro Jaya di Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam benaknya, kegiatan itu bakal berisi aktivitas yang menyusahkan dan menyengsarakan.

”Sebelum berangkat sempat mikir, bakalan jadi babu ini mah. Dibentak-bentak,” tutur Gery di sela pembukaan Pelatihan Outward Bound ”Gerakan Apresiasi Karakter Siswa Indonesia (G-AKSI) 2012” yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Polda Metro Jaya, Selasa (20/11).

Gery adalah salah seorang dari 228 siswa dari 10 sekolah di Jakarta dan Bekasi yang jadi angkatan pertama pelatihan itu. Mereka digembleng 19-24 November di bawah arahan instruktur dari SPN Lido ataupun instruktur luar SPN. Pada hari pertama dan kedua, kegiatan lebih banyak di dalam ruangan. Mereka didorong untuk saling mengenal satu sama lain, termasuk mengenali diri sendiri.

Hingga hari kedua, bagi Gery, bayangan dalam benaknya belum terbukti. Siswa bertubuh kurus itu mengaku tak pernah terlibat tawuran pelajar. Namun, ia beberapa kali membolos sekolah lantaran malas. ”Tapi sehabis dari sini saya mau tobat,” tuturnya sambil tertawa.

Berbeda dengan Gery, Rajasa (17), siswa kelas XII SMAN 6, Jakarta, mengaku mendaftar untuk diikutsertakan dalam kegiatan ini. Beberapa peserta lain dipilih manajemen sekolah. Selama hari pertama, dia belajar kebersamaan dan ”merendah”. Ini karena ia mengaku tidur bersama dan makan bersama siswa dari sekolah lain serta mendapat fasilitas yang minim.

Selasa pagi kemarin, mereka masih diperbolehkan bangun pukul 05.30. Namun, hari berikutnya, mereka sudah harus mengikuti jadwal. Bangun pukul 04.00 dan tidur pukul 22.00. Setiap siswa tidur dalam asrama dengan kapasitas 80 orang. Mereka diharuskan mengikuti aturan yang berlaku bagi siswa SPN, baik tata cara berjalan maupun makan serta selalu bergerak dalam kelompok kecil.

Namun, sayang pada hari kedua, siswa belum berdisiplin seperti yang diharapkan panitia. Beberapa siswa terlihat keluar dari ruang dengan alasan hendak ke kamar kecil, tetapi mereka berdiri di depan ruangan dan berjalan pelan-pelan. Baru saat dilihat instruktur yang tegas dan menghardik mereka untuk cepat, mereka berlari-lari. Saat jeda rehat sebelum makan siang, siswa ini diberi makanan ringan. Begitu selesai, sampah plastik minuman ataupun makanan berserak di halaman.

Herman Rasjid, purnawirawan Polri yang jadi tutor pelatihan, mengatakan, pelatihan itu difokuskan pada upaya agar siswa bisa mengenal diri sendiri, memahami keberadaan orang lain, serta mendorong mereka bisa berpikir bagaimana berbuat kebajikan bagi orang lain.

”Di hari Jumat selama sehari semalam mereka akan kamping di sekitar permukiman penduduk. Mereka akan kami minta menolong penduduk, misalnya mencari kayu bakar. Mereka bisa melihat hidup masyarakat dan suasana di kampung,” tutur Herman, yang mengaku mendapat pendidikan outward bound dari ”Eskdale Outward Bound Centre” di Inggris.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhamad berharap, kegiatan ini bisa membentuk karakter siswa. Namun, dia menolak jika disebut peserta pelatihan itu merupakan anak bermasalah. Sebaliknya, dia menilai anak-anak yang dipilih manajemen sekolah merupakan siswa yang berpotensi jadi pemimpin.

Dia juga berharap kegiatan ini bisa menjadi salah satu solusi mengatasi perkelahian ataupun tawuran antarpelajar di Jabodetabek. ”Tren tawuran fluktuatif, tetapi kami khawatir kualitasnya naik. Itu tidak kami inginkan,” kata Hamid.

Kegiatan ini masih harus disokong dengan pendidikan dari keluarga, masyarakat, dan sekolah. Menurut Hamid, saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang membahas draf Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan sekolah. ”Di peraturan itu ada norma yang harus dilakukan sekolah untuk mencegah tawuran serta beberapa sanksi bagi sekolah yang tidak bisa menanggulangi tawuran serta penghargaan bagi sekolah yang bagus,” tuturnya. (Antony Lee)

Berita terkait dapat diikuti di topik :

TAWURAN PELAJAR MEMPRIHATINKAN

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
     
    Pilihan Untukmu


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.