Kompas.com - 21/12/2012, 20:07 WIB
EditorJodhi Yudono

Oleh M. Hari Atmoko

Hujan deras mengguyur kawasan barat daya Gunung Merapi, ketika puluhan orang melantunkan tembang-tembang Jawa dengan iringan gamelan pelog di gedung terbuka "Gubug Selo Merapi", Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Salah satu tembang Jawa yang mereka lantunkan dengan dirigen Wahyuni itu, berjudul "Dina Iki" (Hari Ini, red.), sedangkan pemimpin para penabuh gamelan yang juga bermain di kendang adalah Sutar.

"Dina iki Sang Penebus, Gusti Sang Kristus uwis miyos ing kuthaning Dawud. Ngidunga kidung anyar, kabeh bangsa ngluhurna Asma Dalem jagad raya’," begitu penggalan tembang itu yang maksudnya kira-kira bahwa Natal telah tiba sehingga umat manusia bersorak gembira meluhurkan nama Allah.

Sejumlah tembang Jawa lainnya yang dilantunkan mereka dalam latihan sore itu antara lain "Santri Ratri" dan "Betlem Sang Timur". Tembang-tembang tersebut mengambil dari buku umat "Kidung Adi". Setelah tembang "Dina Iki" selesai dilantunkan, sang dirigen segera memberikan koreksi atas kekurangannya.

"’Kecepeten’ (Terlalu cepat, red.)," kata Wahyuni sambil wajahnya berpaling kepada pengendang. Maksud perempuan itu, menyampaikan koreksi kepada para penabuh gamelan bahwa tempo iringannya terlalu cepat.

Mereka memang sedang berlatih untuk tugas koor untuk misa malam Natal umat Katolik lereng Gunung Merapi di Wilayah Grogol pada Senin (24/12) malam. Secara keseluruhan, latihan itu dipimpin prodiakon setempat, Andreas Istiyanto, sedangkan ketua wilayah AM Sutarto bersama sejumlah pengurus inti lainnya turut menunggui kegiatan tersebut. Hingga sore itu sebagai latihan terakhir, mereka telah berlatih koor delapan kali, sedangkan iringan gamelan tiga kali.

Umat Katolik setempat yang tinggal di kawasan tiga sungai yakni Senowo, Pabelan, dan Tringsing dengan aliran airnya berhulu di Gunung Merapi berjumlah 585 jiwa. Mereka tersebar di delapan lingkungan yakni Grogol, Kajangkoso, Semen, Dadapan, Krinjing, Sewukan, Jombong, dan Ngampel. Wilayah setempat, bagian dari Gereja Paroki Santa Maria Lourdes yang pusatnya di Desa Sumber, Kecamatan Dukun.

"Misa malam Natal akan kami kemas juga dengan pesta rakyat dan pentas kesenian," kata Sutarto. Setiap lingkungan umat, akan membawa berbagai menu makanan tradisional pedesaan setempat ke "Gubug Selo Merapi" (GSPi) untuk santap malam bersama, usai misa, sedangkan beberapa kesenian yang akan digelar umat antara lain "Soreng", "Warokan", "Remong", "Bajing Loncat", "Yapong", dan "Eksplorasi Anak".

Latihan terakhir untuk mereka yang akan bertugas dalam misa itu bukan hanya menyangkut koor dan pengiring gamelannya, tetapi juga mereka yang bertugas seperti misdinar, pembaca kitab suci dan doa umat, penembang mazmur, serta prosesi umat yang menceritakan bayi Yesus dibawa Maria dan Yesus menuju ke gua natal, sedangkan sejumlah pemuda lainnya mengecek kesiapan tata suara dan tata lampu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.