Peninggalan Kolonial yang Jadi Primadona Saat Hujan - Kompas.com

Peninggalan Kolonial yang Jadi Primadona Saat Hujan

Kompas.com - 14/01/2013, 03:18 WIB

Dari Bendung Katulampa di Kota Bogor, awan kelabu terlihat mulai menggelayut di langit di kawasan Puncak, Minggu (13/1) siang. Ilyas (52), warga Jakarta Barat, berjalan kaki melintasi bagian atas bendung yang sekaligus menjadi jalan penghubung antarkampung. Ia lalu berpegangan di pagar pengaman, kemudian menengok ke bawah melihat air yang melewati bendung.

Sementara anak-anaknya sibuk mengabadikan diri dengan latar kawasan Bendung Katulampa menggunakan kamera telepon genggam. Lebih kurang 20 menit mereka berada di atas bendung. Selepas puas melihat-lihat dan berfoto, mereka pun kembali ke mobil yang diparkir di sisi pos bendung.

”Kami datang ke sini karena penasaran seperti apa Bendung Katulampa yang selalu disalahkan kalau Jakarta kebanjiran,” tutur Ilyas sambil tersenyum.

Ilyas bersama keluarganya, Sabtu malam, menginap di rumah kerabat mereka di Megamendung, Kabupaten Bogor, hanya beberapa kilometer dari Bendung Katulampa. Ilyas kagum melihat bangunan bendung yang sudah dibangun sejak masa kolonial Belanda, tetapi masih terlihat kokoh.

Jumadi (66), warga Pondok Kopi, Jakarta Timur, yang juga datang ke Bendung Katulampa bersama kerabatnya penasaran pula dengan bendung itu.

”Memang menarik ternyata melihat Bendung Katulampa yang bikin banjir di Jakarta itu,” tutur Jumadi.

Dibangun 1911

Bendung Katulampa mulai direncanakan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1889, lalu selesai dibangun di bawah pengawasan Frekis tahun 1911.

Berdasarkan data Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, bendung ini memiliki empat pintu penguras dan lima pintu irigasi dengan lebar bendung 82,5 meter dan tinggi mercu dari dasar bendung 2,5 meter.

Pada awalnya, selain untuk sistem peringatan dini banjir, Bendung Katulampa dibangun untuk irigasi sawah. Di Katulampa, aliran Sungai Ciliwung dari kawasan Puncak dipecah menjadi dua, yakni ke Sungai Ciliwung menuju Kota Bogor-Kabupaten Bogor-Depok-Jakarta serta ke Kali Baru Timur yang berfungsi irigasi.

Dulu luas sawah yang dipasok 7.145 hektar, tetapi saat ini tinggal 333 hektar. Irigasi ini juga dimanfaatkan untuk air baku sejumlah perusahaan serta pasokan air ke Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor.

Menurut Andi Sudirman, penjaga Bendung Katulampa, pada musim hujan, cukup banyak pengunjung dari Jakarta yang berkeliling di kawasan bendung. Namun, sebagian besar masih salah paham soal fungsi Bendung Katulampa. Mereka sebagian beranggapan Bendung Katulampa berfungsi sebagai pengendali banjir dengan menahan air Sungai Ciliwung.

”Bendung Katulampa hanya berfungsi untuk pemantauan ketinggian air untuk peringatan banjir dan penyaluran irigasi, bukan fungsi pengendalian banjir seperti bendungan,” katanya.

Menurut Andi, konstruksi buatan masa kolonial itu masih baik. Besinya jarang berkarat dan kokoh. ”Sayang sudah tidak ada foto-foto zaman dulu,” ucap Andi. (Antony Lee)


Editor

Close Ads X