Kompas.com - 16/01/2013, 03:37 WIB
Penulis Imanuel More
|
EditorGlori K. Wadrianto

JAKARTA, KOMPAS.com - Raihan Alyusti Pariwesi (10) diduga menjadi korban malpraktik, setelah menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit di wilayah Jakarta Selatan. Raihan mengalami kelumpuhan syaraf dan tak sadarkan diri hingga saat ini.

"Awalnya, dari operasi usus buntu di RS Medika Permata Hijau. Itu pun operasinya tidak sepenuhnya kami setujui," kata Muhammad Yunus, ayah Raihan, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/1/2013) malam kemarin.

Yunus menjelaskan, operasi atas putra sulungnya dilakukan pada 22 September 2012. Saat itu, Yunus sedang bertugas di Kalimantan. Istrinya, Oti Puspa Dewi yang mendampingi Raihan sempat mengajukan keberatan lantaran Raihan baru diantar, dan petugas medis belum melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam atas penyakit yang diderita anaknya.

"Istri saya sempat minta untuk di-USG dulu untuk memastikan apakah usus buntunya sudah akut atau belum," kata Yunus.

Namun, permintaan itu ditolak dokter ahli bedah yang menangani Raihan. Dengan alasan sudah berpengalaman menangani pasien serupa, dokter itu menyimpulkan masalah kesehatan siswa kelas 5 SDN Srengseng 05 Pagi Kembangan, Jakarta Barat, itu berasal dari gejala-gejala fisik yang dialaminya. "Kata dokter ahli bedah, tidak perlu karena dia sudah berpengalaman menangani pasien seperti ini. Saya juga minta dirawat 2-3 hari dulu biar kondisi anak saya lebih stabil. Tapi, itu juga ditolak," sambung Yunus.

Dengan alasan perlu penanganan segera, keluarga diminta segera menyediakan biaya operasi yang dibutuhkan. Keluarga pun memenuhi permintaan itu. Hasil operasi kondisi Raihan justru memburuk. Setelah mengalami demam tinggi, Raihan tak sadarkan diri dan akhirnya mengalami kelumpuhan total.

Yunus dan istrinya sudah berkali-kali meminta keterangan RS Medika terkait perubahan kondisi anaknya. Namun, tak ada respons positif yang ditunjukkan pihak RS. Demi kesembuhan anaknya, Yunus akhirnya memindahkan perawatan anaknya ke sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat. "Sampai saat ini sudah berkali-kali kami meminta penjelasan mereka. Tapi, sikap mereka selalu sama, tak pernah memberikan respons yang kami harapkan," kata Yunus.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.