Mati Listrik, Pemeriksaan di KPK Lumpuh

Kompas.com - 17/01/2013, 13:20 WIB
Penulis Icha Rastika
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemadaman listrik akibat banjir yang menggenang di sebagian Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Kuningan, Jakarta, Kamis (17/1/2013), menyebabkan aktivitas pemeriksaan oleh penyidik terhenti. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto memastikan tidak ada pemeriksaan yang berjalan hari ini.

"Kalau hari ini pasti tidak bisa. Kalau besok, kita lihat," katanya di Gedung KPK, Kamis siang.

Bambang juga mengatakan, pemeriksaan tidak memungkinkan jika dilakukan di gedung lain karena sistem pemeriksaan yang tersedia di Gedung KPK saat ini tidak dapat dipindahkan begitu saja ke tempat lain. "Sistem tempat pemeriksaan agak beda. Ada CCTV, rekaman, itu mesti disiapkan. Orang diperiksa harus ada CCTV recording, itu harus lengkap. Nah, itu yang enggak ada. Ketika terjadi begini, maka ini harus dipikirkan," ujarnya.

Bambang juga mengatakan, sistem KPK yang berkaitan dengan penyadapan dan pelaporan masyarakat lumpuh akibat mati listrik tersebut. "Kan kita punya sistem 24 jam surveillance dan blowing system, jadinya enggak jalan sementara," kata Bambang.

Atas musibah ini, kata Bambang, KPK meminta maaf kepada masyarakat karena kerja KPK menjadi tidak optimal akibat sistem yang tidak bisa dihidupkan. KPK berupaya melakukan perbaikan secepatnya untuk mengoptimalkan pekerjaan yang ada.

Meskipun demikian, Bambang memastikan tidak ada berkas-berkas perkara korupsi yang rusak akibat banjir ataupun mati listrik. Semua berkas tersebut sudah disimpan dalam bentuk digital.

Seperti diberitakan sebelumnya, mati listrik akibat banjir menyebabkan perangkat kerja di KPK tidak bisa dioperasikan. KPK juga memindahkan tahanannya yang mendekam di rumah tahanan di basement gedung karena terendam air. Bambang mengatakan, para tahanan di basement Gedung KPK akan dipindahkan ke rutan lain, seperti Rutan Guntur, Cipinang, atau Salemba. Adapun tersangka yang ditahan di rutan basement Gedung KPK meliputi Direktur Utama PT Hardaya Inti Plantation Hartati Murdaya Poo dan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom.

Baca tentang
    Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
    Ikut


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Mobil Milik Sopir Taksi Online yang Dibunuh Ditemukan di Tangerang

    Mobil Milik Sopir Taksi Online yang Dibunuh Ditemukan di Tangerang

    Megapolitan
    Pedagang Pasar Kebayoran Lama Minta ASN Lebih Sering Keliling Pantau Pasar

    Pedagang Pasar Kebayoran Lama Minta ASN Lebih Sering Keliling Pantau Pasar

    Megapolitan
    Di Pasar Koja Baru, ASN Juga Diminta Awasi Penggunaan Kantong Plastik

    Di Pasar Koja Baru, ASN Juga Diminta Awasi Penggunaan Kantong Plastik

    Megapolitan
    Update 6 Juli: Bertambah 7, Covid-19 di Kota Tangerang Tembus 500 Kasus

    Update 6 Juli: Bertambah 7, Covid-19 di Kota Tangerang Tembus 500 Kasus

    Megapolitan
    Krisis Covid-19, Stok Beras di Kota Tangerang Hanya untuk 3 Bulan

    Krisis Covid-19, Stok Beras di Kota Tangerang Hanya untuk 3 Bulan

    Megapolitan
    Terperosok 2,5 Jam di Trotoar Jalan Raya Fatmawati, Truk Tronton Berhasil Dievakuasi

    Terperosok 2,5 Jam di Trotoar Jalan Raya Fatmawati, Truk Tronton Berhasil Dievakuasi

    Megapolitan
    UPDATE 6 Juli: Bertambah 1, Total 418 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel

    UPDATE 6 Juli: Bertambah 1, Total 418 Kasus Positif Covid-19 di Tangsel

    Megapolitan
    Etty Toyib, TKI yang Lolos dari Hukuman Mati Pengadilan Arab Saudi Tiba di Bandara Soetta

    Etty Toyib, TKI yang Lolos dari Hukuman Mati Pengadilan Arab Saudi Tiba di Bandara Soetta

    Megapolitan
    Polisi Gelar Rekonstruksi Kasus John Kei, Total Ada 67 Adegan

    Polisi Gelar Rekonstruksi Kasus John Kei, Total Ada 67 Adegan

    Megapolitan
    ASN Tugas di Pasar, Pedagang Berharap Semua Bisa Disiplin supaya Pandemi Berakhir

    ASN Tugas di Pasar, Pedagang Berharap Semua Bisa Disiplin supaya Pandemi Berakhir

    Megapolitan
    Dukung Reklamasi Ancol, Gerindra: Ancol Ditargetkan Jadi Tempat Wisata Dunia

    Dukung Reklamasi Ancol, Gerindra: Ancol Ditargetkan Jadi Tempat Wisata Dunia

    Megapolitan
    Datangi Pasar Lenteng Agung, Anggota Fraksi PSI Nilai Pembatasan Pengunjung Belum Optimal

    Datangi Pasar Lenteng Agung, Anggota Fraksi PSI Nilai Pembatasan Pengunjung Belum Optimal

    Megapolitan
    UPDATE 6 Juli: Tambah 231 Kasus, Jumlah Pasien Covid-19 di Jakarta Capai 12.526

    UPDATE 6 Juli: Tambah 231 Kasus, Jumlah Pasien Covid-19 di Jakarta Capai 12.526

    Megapolitan
    306 ASN Pantau Aktivitas di 26 Pasar di Jakarta Selatan

    306 ASN Pantau Aktivitas di 26 Pasar di Jakarta Selatan

    Megapolitan
    Muncul Saat Rekonstruksi di Rumahnya, John Kei Perankan Adegan Pimpin Rapat Penyerangan Nus Kei

    Muncul Saat Rekonstruksi di Rumahnya, John Kei Perankan Adegan Pimpin Rapat Penyerangan Nus Kei

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X