Pemanenan Air di Gedung Perkantoran dan Bisnis Kurang

Kompas.com - 22/01/2013, 03:13 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Sebagian besar bangunan perkantoran dan perdagangan belum dilengkapi sumur resapan ataupun instalasi penangkap air hujan. Pada musim hujan, air terbuang dan memenuhi sungai.

Akhirnya, saluran air dan sungai meluap dan terjadi banjir, seperti di Jakarta saat ini. ”Tanah tempat gedung-gedung itu rumah air. Ketika tanah dibeton, air tak lagi terserap,” kata Muhamad Azhar dari Indonesia Environment Consultant, Senin (21/1), di Jakarta.

Ia mengatakan, air hujan yang relatif bersih bisa dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan operasional gedung. Keperluan langsung untuk menyiram toilet dan menyiram tanaman. Setelah diolah, air bisa sebagai sumber air minum.

Hal ini belum diterapkan oleh sebagian besar gedung di Jakarta. ”Di Jakarta ada ribuan gedung. Greenbuilding Indonesia baru memberi sertifikat lima gedung. Artinya, masih banyak gedung yang belum green, salah satunya memanfaatkan air hujan,” kata Azhar yang pernah menjadi Direktur Eksekutif Greenbuilding Council Indonesia.

Pemanfaatan air hujan bisa mengurangi penggunaan air dari perusahaan air pemipaan yang mencapai Rp 12.000 per meter kubik. Penyedotan air artesis juga bisa ditanggulangi hingga menekan laju penurunan tanah.

Konsep ini, menurut Azhar, seharusnya diterapkan di kota-kota besar, seperti Jakarta. ”Harus ada regulasi yang bersifat wajib dengan pengawasan yang ketat. Konsep tidak ada arti jika tidak dilakukan,” ujarnya.

Terkait hal itu, Deputi Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Imam Hendargo Abu Ismoyo menjelaskan, setiap pembangunan gedung mewajibkan izin mendirikan bangunan. ”Di situ ada persyaratan koefisien bangunan secara detail,” ujarnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Teknis penerapan dan pengawasannya berada di pemerintah daerah. Regulasi dan koefisien bangunan yang dilaksanakan menjadi salah satu jaminan aktivitas gedung berkelanjutan.

Penggunaan ruang terbuka hijau untuk pembangunan gedung atau mal meningkatkan volume limpasan air permukaan yang mengalir ke sungai. Tidak mengherankan, Jakarta dilanda banjir parah meski intensitas hujan sekitar 100 milimeter. Curah hujan harian tertinggi pada Januari 2007 mencapai 340 mm.

Di kawasan Puncak, curah hujan hanya berkisar 74,2 mm. Adapun pada 2007, 136 mm. (ICH)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X