Kompas.com - 23/01/2013, 19:13 WIB
|
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com - Di Jakarta, kondisi memprihatinkan ternyata tak hanya terjadi pada angkutan kota, melainkan juga pada terminal angkutan kota itu sendiri. Kurangnya fasilitas, ketiadaan jalur trayek serta situasi terminal yang tidak steril adalah kenyataan yang menyedihkan. Hanya satu kata yang pantas disematkan atas kondisi terminal di Jakarta: semrawut.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta, Azas Tigor Nainggolan mengatakan, kondisi demikian bisa terjadi karena pemerintah, dalam hal ini Dinas Perhubungan DKI, tidak memiliki standard operating procedure (SOP) tentang terminal. Tidak ada kejelasan yang seragam tentang definisi terminal, fungsi terminal serta standard fasilitas apa yang harus ada di dalam terminal.

"Di tataran atas, melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 135 tentang Angkutan Kota sudah dibikin. Tapi pada tataran Pemerintah Provinsi DKI belum ada," ujar Tigor dalam kunjungannya ke Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (23/1/2013).

Meski demikian, lanjut Tigor, semrawutnya terminal di Jakarta bisa diatasi dengan inisiatif kepemimpinan serta penegakkan hukum yang konsisten di lapangan. Sayangnya, hal tersebut tak terjadi merata di terminal di DKI. Bahkan Tigor menganggap, hanya ada dua terminal yang layak di DKI, yakni Lebak Bulus dan Blok M. Sementara, terminal-terminal lain kondisinya memprihatinkan.

Tidak adanya jalur trayek membuat angkot tercecer di sekitar terminal. Sementara, sistem keluar-masuk angkutan kota tidak dipatuhi para sopir angkot. angkot. Fasilitas menunggu di terminal bagi penumpang pun tidak ada. Akibatnya, penumpang berseliweran di terminal yang tidak memiliki batas jelas antara jalur angkot dan jalur penumpang. Situasinya makin menyulitkan penumpang ketika hujan datang. Kondisi itu semakin semrawut dengan keberadaan pedagang kaki lima.

Di Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, lanjut Tigor, pihaknya telah memberikan rekomendasi kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Kampung Melayu untuk mengatur sistem keluar-masuk angkutan kota agar tidak semrawut. Namun, hingga kini, hal itu tak kunjung dilakukan oleh pihak UPT terminal.

"Kita tawarkan apa yang paling cepat saja dulu, misalnya trayek ada jalur sendiri-sendiri, 01 di mana, 27 di mana, 502 di mana. Biar nggak menumpuk dan semrawut kayak gini," lanjutnya.

Menurutnya, angkutan kota sudah selayaknya menjadi primadona warga DKI Jakarta. Oleh sebab itu, infratrukturnya pun harus mendukung, salah satunya adalah terminal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.