Kompas.com - 05/02/2013, 08:59 WIB
|
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak orang yang belum mengetahui atau salah kaprah tentang arti Imlek. Mereka menyebut Imlek dengan sebutan hari Imlek atau hari raya Imlek. Padahal, Imlek merupakan sistem penanggalan yang dipercaya oleh umat Buddha atau kepercayaan China keturunan. Tahun baru Imlek jatuh bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2013 penanggalan masehi. Seseorang yang menyebut tanggal 10 Februari sebagai hari Imlek berarti salah kaprah terhadap pengertian Imlek. Penyebutan dengan lafal seperti itu sama artinya dengan menyebut hari masehi atau hari hijriah.

Suherman, pengurus Vihara Dharma Bhakti, mengungkapkan, salah kaprah yang lain dari kebanyakan orang adalah mengucapan Imlek sebagai hari raya Imlek. Padahal, Imlek sama halnya seperti hijriah ataupun masehi. Persamaan kata tersebut tidak bisa disebut sebagai hari raya umat beragama.

"Makanya masih banyak orang yang salah kaprah. Imlek itu bukan hari raya, melainkan sistem penanggalan. Dari penanggalan Imlek baru deh ada macam-macam hari raya seperti cap gomeh, hari raya kue bulan, dan lain-lain," kata Suherman.

Tahun ini, masyarakat kepercayaan Konghuchu merayakan tahun baru ke-2.564. Akan tetapi, sebelum penanggalan Imlek, masyarakat Konghuchu juga sudah memiliki penanggalan lain. Jika diperhitungkan, maka saat ini merupakan tahun baru ke-4.709 penanggalan sebelum Imlek. Biasanya, setiap tahun baru Imlek, umat Buddha dan keturunan Konghuchu mendatangi kelenteng untuk memberikan penghormatan kepada Buddha Rupang.

Buddha Rupang merupakan dewa-dewa yang tersimpan dalam sebuah patung di kelenteng. Terdapat banyak Buddha Rupang di setiap kelenteng besar. Kelenteng sendiri berasal dari kata Kwan Im Teng, sebutan lama dari Vihara Dharma Bhakti sebelum berubah nama. Kelenteng ini berdiri sejak tahun 1650. Klenteng ini merupakan kelenteng pertama di Provinsi DKI Jakarta.

Sebelumnya, masyarakat Betawi yang mayoritas tinggal di sekitar Pecinaan kurang paham tentang penyebutan Kwan Im Teng atau paviliun Dewi Kwan Im. Ketika mendengar Kwan Im Teng, mereka mendengar sebagai kata kelenteng. Dari situlah asal-usul nama kelenteng di Jakarta.

"Kalau ada yang bilang kelenteng diambil dari bunyi lonceng, itu juga salah. Asal usul kelenteng dari nama Wihara Dharma Bhakti sebelumnya, Kwan Im Teng," kata Herman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.