Kompas.com - 05/02/2013, 14:04 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Daun tanaman khat, bahan dasar chatinone, zat narkotika golongan I, yang ditemukan di daerah Cisarua, Bogor, Jawa Barat, rupanya telah dikenal lama. Oleh konsumen yang kebanyakan warga Timur Tengah (Timteng), khat dikenal sebagai penambah stamina.

"Kata orang Arab buat penambah stamina. Bagus katanya," ujar Nanang Surantawijaya, alias Jack (47), warga Jalan Pasir Tugu, RT 001 RW 005, Cisarua, Bogor, kepada wartawan, Selasa (5/2/2013) siang.

Selain penambah stamina, konsumen juga mengaku bahwa pucuk daun khat berkhasiat untuk obat berbagai macam penyakit, antara lain diabetes dan diare. Meski demikian, tumbuhan khat tidak dikonsumsi oleh warga setempat dan hanya dijualbelikan kepada warga Timteng.

Biasanya konsumen membeli secara paket. Paket plastik kecil dihargai Rp 300.000, paket plastik medium Rp 500.000, dan paket plastik besar Rp 1,2 juta. Cara memakannya pun dengan mengunyah pucuknya dalam kondisi mentah-mentah dan membuang ampasnya.

"Biasanya mereka (konsumen) genggam pucuk daunnya, langsung dimakan segar-segar begitu. Kayak nyirih, makannya dikunyah saja," katanya.

Lebih banyak efek negatif

Pakar Farmasi dan Kimia Badan Narkotika Nasional, Komisaris Besar Mufti Djusnir, mengungkapkan, hingga saat ini, belum ada penelitian resmi yang menyatakan bahwa daun khat memiliki khasiat dalam menyembuhkan penyakit. Zat yang ada di khat hanya terbukti mengandung chatinone.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam batas konsumsi yang wajar, ujar Mufti, pucuk daun khat tersebut tak memiliki efek negatif. Namun, dalam jumlah konsumsi tertentu, zat chatinone yang ada dalam daun khat dapat menimbulkan reaksi layaknya zat amphetamine, bahan dasar pembuat sabu atau ekstasi, yakni memiliki efek stimulan dalam jangka panjang.

"Padahal, efek itu membuat jantung meningkat, aliran darah meningkat. Kalau tubuh masih bisa toleransi, masih bisa tahan. Namun, kalau tidak, pasti jatuh. Artinya, lebih besar negatifnya daripada positifnya," ujar Mufti.

Kini, pascaberita menghebohkan kasus narkoba Raffi Ahmad, lahan seluas sekitar 3 hektar tersebut telah diberi garis polisi. Oleh sebab itu, warga yang menggarap tanaman tersebut pun berhenti memanen tanaman membahayakan itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.