Kompas.com - 05/02/2013, 17:10 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

SEMARANG, KOMPAS.com — Direktur Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Jawa Tengah Kombes John Turman Panjaitan mengatakan, pemilik tanaman khat di Banyumas tidak akan diproses hukum. Pihak kepolisian menggunakan alasan permisif karena ketidaktahuan pemilik terkait tanaman tersebut.

"Kecuali kalau dia tahu kandungan di dalamnya dan ternyata diperdagangkan, itu beda lagi. Dia hanya bilang untuk minuman dan biasa disebut teh arab. Ini kan juga termasuk kasus baru. Untuk pemilik dimintai keterangan dengan wawancara, bukan pemeriksaan," ungkapnya, Selasa (5/2/2013).

Ia mengatakan untuk mengambil langkah lebih lanjut, pihaknya masih harus menunggu hasil uji Laboratorium Forensik Polri cabang Semarang. Proses uji laboratorium tersebut memang dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mengetahui apakah ada kandungan berbahaya dalam tanaman itu.

Jika nantinya hasil uji menyatakan positif adanya kandungan berbahaya, maka pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap pemilik. Meski begitu, pemilik hanya akan diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak menanam lagi. "Kalau hasilnya negatif ya sudah, kalau positif tentu akan dimusnahkan dengan cara dibakar dan masyarakat diminta tidak menanam lagi. Memang tanamannya disebut khat, tapi untuk tahu persisnya ya nunggu uji lab," tambahnya.

Ia mengatakan, jika memang positif, maka ia akan meminta Kapolda untuk membuat maklumat agar warga di Jawa Tengah tidak menanam tanaman tersebut. Selain itu jika ada masyarakat yang mengetahui adanya jenis tanaman ini, maka mereka diminta untuk melapor ke polisi.

Seperti diberitakan, sebuah ladang yang diduga tanaman khat ditemukan di Dusun Munggangsari, Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Senin (4/2/2013). Penemuan tersebut karena adanya informasi dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan yang kemudian ditindaklanjuti oleh Kepolisian Resor Banyumas.

Ladang seluas 2.100 meter persegi diketahui merupakan milik seorang warga bernama Winarti. Lahan itu kemudian disewa seorang keturunan Arab bernama Ali yang tinggal di Purwokerto. Jenis tanaman ini menjadi terkenal sejak ditangkapnya artis Raffi Ahmad dan sejumlah rekannya oleh BNN karena diduga mengonsumsi kapsul yang mengandung katinon.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan informasi, katinon atau katinona tersebut didapatkan dari ekstrak tanaman khat. Kandungan katinon digolongkan masuk dalam obat-obatan terlarang golongan I dalam Undang-Undang Pengawasan Psikotropika di Indonesia karena mengandung monoamine alkaloid. Tanaman khat termasuk dalam jenis tanaman semak dengan masa pertumbuhan yang lambat. Tinggi dan bentuk daun memang hampir mirip dengan daun teh, hanya saja batang dan tulang daunnya berwarna kemerahan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.