Memendam Air Meredam Banjir

Kompas.com - 06/02/2013, 03:15 WIB
Editor

YUNI IKAWATI

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memerintahkan pembangunan sumur resapan dalam jumlah besar untuk mengatasi banjir di Ibu Kota. Pembangunan puluhan ribu embung juga akan dilakukan untuk mengurangi genangan air.

Alternatif ini menjadi solusi yang layak dari segi biaya dan ketersediaan lahan, sekaligus mengatasi kelangkaan air saat kemarau dan subsidensi tanah.

Hujan lebat di Jakarta dan sekitarnya masih berpeluang terjadi hingga pertengahan Februari. Guyuran hujan berkali-kali menimbulkan genangan dan banjir.

Bencana hidrometeorologi ini mendorong Gubernur DKI Jakarta memerintahkan, antara lain, pembangunan sumur resapan sedalam 4 meter-100 meter di 10.000 lokasi, pembangunan gorong-gorong berdiameter 16 meter dari Cawang sampai Pluit berjarak sekitar 19 kilometer, dan pembangunan waduk di Ciawi, Bogor.

Dalam pertemuan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan 60 pakar terkait penanganan sumber daya air dan banjir, 22 Januari, disepakati pembangunan 500.000 embung di daerah tegalan dan lahan pertanian. Hal ini terutama dilakukan di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir ke Jakarta, yaitu di Bogor dan Banten.

Usulan yang dilontarkan Maik Sinukaban, Guru Besar Konservasi Tanah, Air, dan Pengelolaan DAS dari Institut Pertanian Bogor (IPB), disetujui Basuki. Pembangunan akan melibatkan petani di dua kabupaten itu dan wilayah Jakarta, terutama Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. ”Petani yang membangun embung akan disediakan insentif Rp 1 juta,” kata Maik.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Embung berupa lubang berukuran 5 meter x 5 meter sedalam 2 meter. Lubang dapat diisi limbah organik dari pertanian. Tiap embung rata-rata dapat menampung air 100 meter kubik dan menyerapkan air ke tanah 10 kali lipat volume.

Jadi, 500.000 embung yang dibangun akan menyerap 500 juta meter kubik air kala hujan. Jumlah itu sepertiga air yang selama ini terbuang ke laut.

Menurut perhitungan Maik, air yang ”terbuang” ke laut lewat 9 sungai utama di DKI sebanyak 1,3 miliar meter kubik-1,5 miliar meter kubik selama musim hujan per tahun. ”Air sebanyak itu dapat mengairi 30.000 hektar sawah dan digunakan 12 juta penduduk selama musim kemarau,” ujarnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X