Asal Usul Khat di Cisarua dari Yaman - Kompas.com

Asal Usul Khat di Cisarua dari Yaman

Kompas.com - 06/02/2013, 09:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Daunnya berbentuk oval dengan lancip di bagian ujungnya, berwarna hijau segar dengan tekstur kasar. Masam serta sedikit getir adalah rasa daun itu saat dikunyah. Ada yang memiliki batang berwarna merah, ada pula yang memiliki batang berwarna hijau. Namun jenis yang mana saja, tanaman itu ternyata berbahaya. Tanaman khat atau yang bernama latin Catha edulis adalah tanaman yang belakangan menjadi perbincangan banyak orang.

Bukan tanpa alasan, Badan Narkotika Nasional menemukan zat baru dalam narkotika saat penggerebekan di rumah Raffi Ahmad bernama methylone. Zat itu adalah turunan dari cathinone, hasil ekstraksi dari khat. Namun, belakangan baru diketahui, meski turunan dari cathinone, narkoba Raffi berbahan sintesis. Nanang Surantawijaya alias Jack (47), warga Jalan Pasir Tugu, Kampung Inpres, RT 01 RW 05, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, adalah satu dari banyak petani khat. Dengan lahan tidur seluas 300 meter persegi milik orang lain, Jack membudidayakan tanaman tersebut seorang diri.

"Saya dapat pohon ini tahun 2005. Dikasih lima pohon beginian dari orang Yaman. Ternyata pas ditanam di sini tumbuh subur," ujarnya saat BNN melakukan kunjungan ke kebun khat yang digarapnya, Selasa (5/2/2013) siang.

Tak disangka, pucuk daun pohon tersebut rupanya dicari oleh turis Timur Tengah, Arab khususnya, untuk dikonsumsi. Menurut mereka, sejumlah khasiat daun muda itu antara lain penambah vitalitas bagi pria, obat diabetes, dan obat diare. Atas dasar itulah, keberadaan khat di Cisarua mulai berkembang. Tak hanya Jack, warga lain mulai berbondong-bondong menanam tanaman khat yang hingga kini mencapai 3 hektar dan berlokasi terpisah di 55 titik.

Harga satu paket plastik kecil pucuk daun khat dari para petani Rp 300.000, paket plastik medium Rp 500.000, dan paket plastik besar dihargai Rp 1,2 juta. Tak jarang jika musim liburan tiba, petani khat bisa meraup untung Rp 3,5 juta per minggunya. Untuk Jack, pekerjaannya menjadi sopir travel turis asing pun akhirnya hanya menjadi sampingan saja.

"Promosinya relasi saja. Saya kan sopir travel. Lalu kalau ada turis Arab, kami bawa ke sini. Mereka beli, begitu saja," ujarnya.

Namun, proyeksi usaha Jack dan petani khat lainnya tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Pascapemberitaan kasus penyalahgunaan narkotika oleh artis terkenal Raffi Ahmad, BNN memberikan garis polisi di sejumlah kebun khat di wilayah Cisarua. Tanaman yang menguntungkan tersebut menurut polisi terbukti mengandung cathinone, zat narkotika golongan I dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Tanaman khat berbahaya

Pakar farmasi-kimia Badan Narkotika Nasional, Komisaris Besar Mufti Djusnir, mengungkapkan, hingga saat ini belum ada penelitian resmi yang menyatakan bahwa daun khat memiliki khasiat dalam menyembuhkan penyakit. Zat yang ada di khat hanya terbukti mengandung chatinone. Dalam batas konsumsi yang wajar, ujar Mufti, pucuk daun khat tersebut tak memiliki efek negatif. Namun, dalam jumlah konsumsi tertentu, zat chatinone yang ada dalam daun khat dapat menimbulkan reaksi layaknya zat amphetamine, bahan dasar pembuat sabu atau ekstasi, yakni memiliki efek stimulan dalam jangka panjang.

"Padahal efek itu membuat kerja jantung meningkat, aliran darah meningkat. Kalau tubuh masih bisa toleransi, masih bisa tahan. Tapi kalau tidak, pasti jatuh. Artinya, lebih besar negatifnya daripada positifnya," ujar Mufti.

Kini, Jack hanya pasrah saat BNN memberi garis terhadap "kebun uangnya". Namun, Jack tak menyerah, pria tiga anak tersebut berniat meminta ganti rugi kepada BNN atas tanaman khat yang akan dihancurkan. Ia meminta BNN agar mengalihkan kebunnya untuk ditanami komoditas lain agar dia dan petani lain tak mengalami kerugian.

"Harapannya diganti pakai pohon apa saja. Dihancurin nggak apa-apa. Asal saya nggak melanggar hukum," ujarnya.

Kepala Humas BNN Kombes Sumirat Dwiyanto mengungkapkan, pihaknya akan memprogramkan pengembangan alternatif bagi para petani khat di Cisarua. Program itu untuk menuntun petani agar tak kembali menanam tanaman berbahaya dan mengambil keuntungan dari komoditas lainnya. Namun, Sumirat belum memastikan kapan target program itu tercapai. Pihaknya harus koordinasi dengan tim pelaksana program tersebut.


EditorHertanto Soebijoto

Terkini Lainnya

Surabaya Bertransformasi Jadi Kota Industri Kreatif di Asia

Surabaya Bertransformasi Jadi Kota Industri Kreatif di Asia

Regional
Tim Jokowi-Ma'ruf: Satu Setengah Bulan Kampanye, Prabowo-Sandi Sudah 3 Kali Minta Maaf

Tim Jokowi-Ma'ruf: Satu Setengah Bulan Kampanye, Prabowo-Sandi Sudah 3 Kali Minta Maaf

Nasional
Indonesia Diminta Pertimbangkan Hapus Hukuman Mati seperti Malaysia

Indonesia Diminta Pertimbangkan Hapus Hukuman Mati seperti Malaysia

Nasional
Saat Pemenang Lotre Rp 22 Triliun Tak Juga Muncul Mengambil Uangnya

Saat Pemenang Lotre Rp 22 Triliun Tak Juga Muncul Mengambil Uangnya

Internasional
Pidato di Depan Ribuan Wisudawan Unpas, Sandiaga Berharap Lulusan Baru Ciptakan Lapangan Kerja

Pidato di Depan Ribuan Wisudawan Unpas, Sandiaga Berharap Lulusan Baru Ciptakan Lapangan Kerja

Regional
Sepasang Suami Istri di Kediri Berbagi Peran Mencuri

Sepasang Suami Istri di Kediri Berbagi Peran Mencuri

Regional
BNN Gagalkan Penyelundupan 38 Kg Sabu dan 30.000 Ekstasi dari Malaysia

BNN Gagalkan Penyelundupan 38 Kg Sabu dan 30.000 Ekstasi dari Malaysia

Nasional
Kasus Dugaan Pelecehan Seksual saat KKN UGM: Viral Lewat Balairungpress, Tuntutan DO Pelaku, hingga Upaya Penyelesaian

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual saat KKN UGM: Viral Lewat Balairungpress, Tuntutan DO Pelaku, hingga Upaya Penyelesaian

Regional
Curhat PKL soal 'Skybridge', Senang Ada Lapak dan Takut Dagangan Sepi

Curhat PKL soal "Skybridge", Senang Ada Lapak dan Takut Dagangan Sepi

Megapolitan
Polisi Gerebek Pesta Mabuk Lem Anak-anak di Surabaya

Polisi Gerebek Pesta Mabuk Lem Anak-anak di Surabaya

Regional
Bawaslu: KPU Belum Terjun ke Sulteng untuk Perbaikan Daftar Pemilih

Bawaslu: KPU Belum Terjun ke Sulteng untuk Perbaikan Daftar Pemilih

Nasional
Pemprov Jabar Tetapkan Status Siaga Bencana Banjir dan Longsor

Pemprov Jabar Tetapkan Status Siaga Bencana Banjir dan Longsor

Regional
Korban Tewas akibat Pagar Tembok SD Tiba-tiba Roboh Jadi 2 Orang

Korban Tewas akibat Pagar Tembok SD Tiba-tiba Roboh Jadi 2 Orang

Regional
Kasus Suap Meikarta, 64 Orang Diperiksa sebagai Saksi

Kasus Suap Meikarta, 64 Orang Diperiksa sebagai Saksi

Regional
SEA Umumkan Penerima Beasiswa untuk Kembangkan Ekonomi Digital

SEA Umumkan Penerima Beasiswa untuk Kembangkan Ekonomi Digital

Edukasi

Close Ads X