Panggil Rasyid "Mas", Hakim Mungkin Keceplosan

Kompas.com - 21/02/2013, 15:52 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Panggilan "mas" oleh ketua majelis hakim, J Soeharjono, terhadap terdakwa Rasyid Amrullah Rajasa saat sidang mengundang tanda tanya. Diduga hakim keceplosan.

Djaniko Girsang dari bagian Humas PN Jakarta Timur, yang sekaligus menjadi hakim anggota dalam sidang Rasyid itu, mengaku, ucapan yang terucap dari ketua majelis hakim memang di luar kebiasaan. Namun, panggilan itu diakuinya sah-sah saja dilakukan.

"Sehari-hari memang panggilnya saudara terdakwa, kadang namanya. Bisa juga Pak Soeharjono keceplosan manggil mas," ujar Janiko saat dikonfirmasi wartawan seusai persidangan, Kamis (21/2/2013) siang.

Menurut dia, tidak ada peraturan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang mengatur tata cata dalam memanggil unsur-unsur persidangan, semisal terdakwa, penasihat hukum terdakwa, dan saksi. Menurut dia, hal tersebut adalah kebiasaan saja.

Janiko mengakui, kebiasaan dalam memanggil unsur-unsur dalam setiap persidangan turut dipengaruhi oleh latar belakang sang hakim. "Kadang malah kalau hakimnya orang Batak seperti saya, bilang saja, coba kau ke sini, gitu. Memang tidak ada peraturan yang mengatur hal itu," ucap Janiko.

Ia pun membantah pemanggilan "mas" kepada putra Hatta Rajasa tersebut adalah salah satu bentuk ketidakindependenan hakim dalam persidangan. Ia meminta publik tak terlalu membesar-besarkan kejadian tersebut.

Hakim J Soeharjono memanggil terdakwa Rasyid dengan panggilan "mas" saat memintanya maju ke depan untuk melihat bukti. "Sini, Mas, periksa dulu barang bukti yang ada," panggil hakim J Soeharjono.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Terkait Hoaks Obat Covid-19, Polisi Panggil Anji dan Hadi Pranoto Pekan Ini

    Terkait Hoaks Obat Covid-19, Polisi Panggil Anji dan Hadi Pranoto Pekan Ini

    Megapolitan
    Warga Kabupaten Bekasi yang Tak Pakai Masker Bisa Kena Denda Maksimal Rp 250.000

    Warga Kabupaten Bekasi yang Tak Pakai Masker Bisa Kena Denda Maksimal Rp 250.000

    Megapolitan
    Dinkes Jakarta: Persepsi Masyarakat Belum Anggap Covid-19 sebagai  Ancaman

    Dinkes Jakarta: Persepsi Masyarakat Belum Anggap Covid-19 sebagai Ancaman

    Megapolitan
    Pasang Wifi untuk Belajar Siswa Kurang Mampu, F-PAN Minta Pemprov DKI Lakukan Hal yang Sama

    Pasang Wifi untuk Belajar Siswa Kurang Mampu, F-PAN Minta Pemprov DKI Lakukan Hal yang Sama

    Megapolitan
    Kasatpol PP DKI: 595 Tempat Usaha dan 60 Tempat Hiburan Langgar Aturan PSBB

    Kasatpol PP DKI: 595 Tempat Usaha dan 60 Tempat Hiburan Langgar Aturan PSBB

    Megapolitan
    PN Jakarta Barat Ditutup karena Covid-19, Sidang Lucinta Luna Ditunda

    PN Jakarta Barat Ditutup karena Covid-19, Sidang Lucinta Luna Ditunda

    Megapolitan
    Volume Penumpang KA Bandara Soekarno-Hatta Naik 93 persen

    Volume Penumpang KA Bandara Soekarno-Hatta Naik 93 persen

    Megapolitan
    Kekhawatiran Orangtua di Bekasi Saat Izinkan Anak Kembali Belajar di Sekolah

    Kekhawatiran Orangtua di Bekasi Saat Izinkan Anak Kembali Belajar di Sekolah

    Megapolitan
    Hati-hati Anggota Gadungan, Masyarakat Diminta Konfirmasi ke BNN jika Kerabatnya Ditangkap

    Hati-hati Anggota Gadungan, Masyarakat Diminta Konfirmasi ke BNN jika Kerabatnya Ditangkap

    Megapolitan
    Gugus Tugas Tangsel Pastikan Rumah Lawan Covid-19 Tak Ditutup Selama Pandemi Belum Berakhir

    Gugus Tugas Tangsel Pastikan Rumah Lawan Covid-19 Tak Ditutup Selama Pandemi Belum Berakhir

    Megapolitan
    Pulang dari Rumah Sakit, Pasien Sembuh Covid-19 Tidak Boleh Langsung Berkeliaran

    Pulang dari Rumah Sakit, Pasien Sembuh Covid-19 Tidak Boleh Langsung Berkeliaran

    Megapolitan
    Empat Anggota BNN Gadungan Sekap Remaja atas Tuduhan Narkoba, Orangtua Diperas Rp 20 Juta

    Empat Anggota BNN Gadungan Sekap Remaja atas Tuduhan Narkoba, Orangtua Diperas Rp 20 Juta

    Megapolitan
    Politisi Gerindra Nilai Ganjil Genap di Jakarta Kontra Produktif

    Politisi Gerindra Nilai Ganjil Genap di Jakarta Kontra Produktif

    Megapolitan
    Polisi Buru Kawanan yang Merampok di Warung Sembako Ciracas

    Polisi Buru Kawanan yang Merampok di Warung Sembako Ciracas

    Megapolitan
    Nasdem Tangsel Tunggu Arahan DPP Susun Strategi Pemenangan Muhamad-Sara

    Nasdem Tangsel Tunggu Arahan DPP Susun Strategi Pemenangan Muhamad-Sara

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X