Kompas.com - 07/03/2013, 13:19 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MEDAN, KOMPAS.com — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan mengecam keras tindakan RS Istomihi, Medan, yang menelantarkan seorang bayi hingga meninggal dunia, Kamis (7/3/2013).

Pihak rumah sakit dituding telah melanggar Pasal 6 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit yang seharusnya mendahulukan perawatan, menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu, bukan menelantarkan pasien karena tidak sanggup membayar atau belum membayar biaya rumah sakit.

"Pihak medis dianggap telah lalai. LBH Medan akan membawa kasus ini ke ranah hukum untuk mendampingi dan mewakili kepentingan keluarga korban," kata Anggun Rizal Pribadi, staf LBH Medan.

Menurut Anggun, keluarga korban berhak menuntut pihak rumah sakit sesuai ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang berbunyi, "Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan yang dilakukan tenaga kesehatan."

Rumah sakit juga telah melanggar ketentuan Pasal 1365 dan 1367 KUHPerdata. LBH Medan juga akan melaporkan hal ini ke Presiden, Menteri Kesehatan, Gubernur Sumatera Utara, Wali Kota Medan, dan instansi terkait lainnya agar pihak rumah sakit ditutup izin operasionalnya. 

"Jangan ada perbedaan dalam menangani bayi masyarakat miskin dengan anak seorang pejabat karena sudah jelas terjadi. Bukan hanya RS di Medan saja yang sudah terjadi, baru-baru ini di Jakarta juga terjadi. LBH Medan meminta keseriusan pemerintah dalam memberikan sanksi tegas terhadap pihak rumah sakit yang telah menelantarkan pasiennya hingga meninggal dunia," tegas Anggun.

Sebelumnya, Selasa (5/3/2013) sekitar pukul 21.30 WIB, pasangan suami-istri Jesi Isabela dan Dudi Iskandar mendatangi RS Istomihi di Jalan Sisingamangaraja, Medan, untuk mengobati bayi laki-lakinya yang berusia enam bulan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pihak rumah sakit tidak langsung memberikan perawatan intensif. Bayi dibiarkan di ruang UGD tanpa ada perawatan maksimal. Rumah sakit meminta orangtua korban menyediakan biaya pengobatan, perawatan, dan penginapan sebesar Rp 2 juta. Namun, orangtua bayi tak bisa menyanggupinya.

Setelah mengusahakan dengan pinjam sana-sini, akhirnya orangtua bayi bisa menyediakan uang sebesar Rp 1 juta. Barulah perawat rumah sakit menelepon dokter. Namun, dokter tak kunjung datang sehingga atas inisiatif perawat, bayi dimasukkan ke ruang UGD dengan catatan membuat surat pernyataan kekurangan biaya yang harus dibayar.

Setelah diperiksa beberapa perawat, korban dinyatakan menderita diare akut, tetapi tetap tidak mendapatkan perawatan yang serius. Perawat tampak bingung alat-alat kedokteran apa yang akan digunakan. Akhirnya, sekitar pukul 00.30 WIB korban meninggal dunia.

Ketika keluarga ingin membawa jenazah korban pulang, pihak rumah sakit meminta uang pelunasan sesuai dengan surat pernyataan sebesar Rp 800.000, sebelum diizinkan pulang. Alternatifnya, mayat korban bisa dibawa pulang jika ada jaminan sepeda motor yang ditinggal di rumah sakit.

Setelah keluarga melunasi kekurangan biaya, pihak RS malah menetapkan biaya sebesar Rp 200.000 untuk ambulans. Total rincian biaya yang telah dikeluarkan keluarga, yaitu P3K Rp 30.000, administrasi Rp 50.000, kamar Rp 600.000, obat Rp 770.000, dan alat medis Rp 350.000. Total Rp 1,8 juta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.