Organda: MRT Jangan Bernasib Seperti Transjakarta

Kompas.com - 19/03/2013, 06:41 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorFarid Assifa

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena menyarankan agar pembangunan MRT di Jakarta harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Hal itu dimaksudkan agar MRT tidak menjadi proyek yang terkesan asal bangun sehingga nasibnya sama seperti bus Transjakarta.

Kesiapan yang paling penting dalam penyediaan transportasi massal, menurut Eka, tentu saja penyediaan layanan pendukung transportasi utama, dan hal itu yang tidak dimiliki Transjakarta.

"Transportasi massal harus melayani mulai berangkat dari rumah sampai ke tempat tujuan," jelas Eka saat ditemui di Cilandak Town Square, Senin (18/3/2013).

Menurut Eka, sebuah transportasi massal harus memenuhi ketersediaan layanan yang konsepnya meliputi tiga aspek, yaitu adanya transit, paratransit, dan feeder. Transit yaitu angkutan umum yang beroperasi di rute utama harus dengan rute, jadwal, dan pemberhentian tetap.

Paratransit yaitu angkutan umum yang tidak memiliki rute, jadwal, atau pemberhentian tetap, tetapi beroperasi di sepanjang rute utama, seperti halnya taksi.

Dan terakhir, feeder yaitu angkutan yang akan membawa penumpang kembali ke tempat semula atau tempat tujuan. "Semuanya harus terintegrasi," kata Eka.

Lebih lanjut, Eka menyarankan agar para pemegang kebijakan yang mengurusi masalah transportasi mulai melakukan revitalisasi rute bus-bus sedang. Revitalisasi rute dapat dilakukan dengan lebih mendekatkan layanan ke wilayah permukiman penduduk.

Eka menerangkan, konsep penyediaan lahan parkir luas di area stasiun atau halte sangat bagus, tetapi mendekatkan layanan transportasi ke wilayah permukiman akan jauh lebih efektif.

"Kalau dari permukiman ada bus, kan tidak perlu bawa mobil lagi," ujar Eka.

Untuk diketahui, pada tahun 2012 yang lalu layanan Transjakarta mengalami penurunan jumlah penumpang hingga 3 persen dari 114.783.842 orang pada 2011 menjadi 111.251.868 orang pada 2012. Belum terpenuhinya aspek cepat dan nyaman menjadi alasan masyarakat meninggalkan Transjakarta.

Terkadang, penumpang masih harus menunggu lama di sebuah halte hanya untuk menunggu kedatangan bus. Namun begitu bus tiba, kondisinya sudah penuh sesak oleh penumpang.

Pihak Transjakarta sendiri mengatakan belum terpenuhinya aspek cepat dan nyaman diakibatkan beberapa hal, di antaranya tidak sterilnya jalur busway, keterbatasan armada, hingga konsekuensi dari penerapan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG).

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Penjelasan Rahmat Effendi soal Kantor DPD Golkar Kota Bekasi yang Dijual di Situs Jual Beli

    Penjelasan Rahmat Effendi soal Kantor DPD Golkar Kota Bekasi yang Dijual di Situs Jual Beli

    Megapolitan
    Ada 7 Korban Kecelakaan Bus di Subang yang Masih Dirawat di RSUI

    Ada 7 Korban Kecelakaan Bus di Subang yang Masih Dirawat di RSUI

    Megapolitan
    Revitalisasi Monas, Timbulkan Polemik tapi Tetap Jalan Terus...

    Revitalisasi Monas, Timbulkan Polemik tapi Tetap Jalan Terus...

    Megapolitan
    Kantor DPD Golkar Kota Bekasi Masuk Situs Jual Beli Online, Ini Kata Penjual

    Kantor DPD Golkar Kota Bekasi Masuk Situs Jual Beli Online, Ini Kata Penjual

    Megapolitan
    Pria yang Tepergok Culik Anak 14 Bulan di Cipayung Diduga Hipnotis Anggota Keluarga

    Pria yang Tepergok Culik Anak 14 Bulan di Cipayung Diduga Hipnotis Anggota Keluarga

    Megapolitan
    PTUN Batalkan SK Pencabutan Izin Reklamasi Pulau F, Anies Ajukan Banding

    PTUN Batalkan SK Pencabutan Izin Reklamasi Pulau F, Anies Ajukan Banding

    Megapolitan
    Perempuan yang Mau Bunuh Diri di JPO Sudah Dipulangkan ke Keluarga

    Perempuan yang Mau Bunuh Diri di JPO Sudah Dipulangkan ke Keluarga

    Megapolitan
    Warga Pamulang Permai Digigit Ular Saat Banjir

    Warga Pamulang Permai Digigit Ular Saat Banjir

    Megapolitan
    Pemprov DKI Diminta Hentikan Proyek Revitalisasi Monas, DPRD Sebut Wajar

    Pemprov DKI Diminta Hentikan Proyek Revitalisasi Monas, DPRD Sebut Wajar

    Megapolitan
    Ingin Sterilisasi Kucing Gratis? Begini Syarat Pendaftarannya

    Ingin Sterilisasi Kucing Gratis? Begini Syarat Pendaftarannya

    Megapolitan
    Seorang Pria Tepergok Culik Anak Usia 14 Bulan di Cipayung, Pelaku Dikeroyok Warga

    Seorang Pria Tepergok Culik Anak Usia 14 Bulan di Cipayung, Pelaku Dikeroyok Warga

    Megapolitan
    Polisi Ungkap Kesulitan Tangkap Pelaku Masturbasi di Bawah JPO Ahmad Yani Bekasi

    Polisi Ungkap Kesulitan Tangkap Pelaku Masturbasi di Bawah JPO Ahmad Yani Bekasi

    Megapolitan
    Gelar Rapimgab, DPRD Minta Penjelasan Pemprov DKI Terkait Koordinasi Revitalisasi Monas ke Pemerintah Pusat

    Gelar Rapimgab, DPRD Minta Penjelasan Pemprov DKI Terkait Koordinasi Revitalisasi Monas ke Pemerintah Pusat

    Megapolitan
    Eks Dirut Transjakarta Donny Saragih Dituduh Gelapkan Uang Denda Operasional Rp 1,4 Miliar

    Eks Dirut Transjakarta Donny Saragih Dituduh Gelapkan Uang Denda Operasional Rp 1,4 Miliar

    Megapolitan
    Anak di Bawah Umur Ditemukan di Apartemen Depok, Diduga Terkait Prostitusi Online

    Anak di Bawah Umur Ditemukan di Apartemen Depok, Diduga Terkait Prostitusi Online

    Megapolitan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X