Kompas.com - 20/03/2013, 08:22 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski jam dinding telah menunjukkan jelang tengah malam, bukan berarti kehidupan sirna. Raungan keras knalpot sepeda motor, suara riuh rendah dari muda-mudi yang duduk di atasnya, semua menjadi pendanda, justru geliat kehidupan baru di mulai.

Adu balap liar, merupakan fenomena sosial kaum muda di Ibu Kota yang perlu mendapat perhatian khusus. Bukan lantaran kreativitas yang dibuat para remaja ini, melainkan fakta di lapangan yang menunjukan, adu cepat motor rakitan itu justru kerap mengudang pelanggaran hukum.

Mulai dari judi, transaksi narkotika, minuman keras, bahkan tak jarang balap liar di Jakarta memakan korban. Di Jakarta Timur, terdapat sejumlah titik jalan yang kerap dijadikan sirkuit dadakan oleh para jagoan jalanan tersebut.

Di antara nama jalan, seperti Condet, Basuki Rahmat dan lain-lain, terdapat satu jalan yang cukup populer di telinga para penggila balap liar, Jalan Taman Mini.

Joe (bukan nama sebenarnya), salah satu penggila motor menuturkan, jalan yang menghubungkan Perempatan Tamini Square dengan Pintu I Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu mulai dijadikan area balap liar sejak tahun 2004/2005 lalu. Jalan itu dijadikan sirkuit dengan trek lurus oleh pebalap setelah tol JORR, Bekasi, resmi dibuka.

"Dulu di tol mainnya. Tapi karena sudah dibuka, anak-anak pindah ke sini," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (19/3/2013) malam. Jelang tengah malam menjadi waktu yang dipilih para muda-mudi ini untuk mengetes adrenalin di atas motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk meraih gengsi memenangkan balapan.

Waktu malam dipilih lantaran jalan sudah steril dari pengendara kendaraan bermotor umumnya. Terlebih, malam hari kerap lepas pantauan Polisi. Mereka pun bebas melajukan motor hingga finish.

Di jalan akses kawasan wisata itu, peserta adu balap liar kebanyakan adalah bengkel-bengkel motor yang ada di sekitar Ciracas, Cipayung dan Bekasi. Setiap bengkel, telah mempersiapkan satu unit motor dan joki andalan untuk adu cepat. Mereka menjadikan jalan sepanjang 1 km itu untuk ajang, motor dari bengkel mana yang tercepat, tanpa mengenakan pengaman apapun.

"Polos saja. Selama ini sepertinya enggak pernah ada joki yang pakai pengaman lengkap, seperti helm, jaket, pelindung lutut. Bahkan sering saya lihat ada yang enggak pakai sendal," ujar Joe.

Joe melanjutkan, layaknya balap liar di wilayah lain, balap liar di Jalan Taman Mini juga memiliki kelas-kelas balapan sendiri. Motor bertransmisi empat tak misalnya, harus dipertandingkan dengan motor jenis yang sama. Demikian juga halnya motor bertansmisi dua tak dan lain-lainya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.