Kompas.com - 02/04/2013, 19:20 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Metropolitan adalah julukan bagi Kota Jakarta. Namun, siapa sangka di tengah masifnya pembangunan kota metropolitan itu, terselip bangunan reyot yang dijadikan sebagai tempat belajar-mengajar, yakni SD Negeri 27, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Berdiri di sebuah lahan sekitar seluas 800 meter persegi, bangunan sekolah yang dibangun sekitar tahun 1985 tersebut memang tampak terkesan seperti bangunan lama. Sekolah itu terdiri atas tujuh kelas atau lokal belajar yang membentuk huruf U dengan lapangan di bagian tengah. Tembok-tembok kelas berbalut cat minyak hijau dan beratap genting oranye model lama.

Secara kasatmata, kondisi luar bangunan itu tampak baik-baik saja. Namun, sebetulnya tampilan luar bangunan itu menyimpan kerusakan bangunan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan siswa-siswi di sana.

Kerusakan paling tampak terdapat pada bagian plafon koridor kelas. Beberapa bagian kayunya tampak keropos dimakan rayap. Begitu juga di bagian genteng tengahnya yang tampak telah tidak pada susunan sebenarnya. Kondisi itu menguatkan kesan tidak layak bagi tempat yang digunakan anak untuk menimba ilmu.

Kepala SD Negeri 27 Kramat Jati Lilis Juwariah menjelaskan, kerusakan yang terjadi bukan hanya yang tampak dari luar. Jika ditelisik lebih lanjut, terdapat 10 ruangan yang dikategorikan tak layak bagi tempat kegiatan belajar-mengajar. Tempat itu meliputi tujuh ruang kelas, laboratorium komputer, laboratorium IPA, dan ruang perpustakaan.

"Itu plafon rawan ambruk. Akhirnya beberapa waktu lalu kita topang dengan kawat kerangka-kerangkanya, biar enggak ambruk," ujar Lilis saat ditemui Kompas.com, Selasa (2/4/2013).

Wanita yang menjabat sebagai kepala sekolah selama lima bulan tersebut mengaku kondisi sekolah pada masa sebelumnya lebih memprihatinkan. Ubin di beberapa kelas dan tembok menampakkan bercak-bercak. Bercak-bercak itu kemudian diperbaiki dengan mengambil dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Lilis mengatakan, dana BOS tidak cukup jika digunakan untuk memperbaiki material-material bangunan yang membutuhkan dana lebih besar, seperti plafon dan genting. Oleh sebab itu, ia telah mengajukan rehabilitasi total bangunan ke Dinas Pendidikan DKI.

"Kami sudah ajukan anggaran untuk rehabilitasi ke Dinas Pendidikan, tapi sampai sekarang belum diterima-terima. Tahun ini pun ditolak," ujarnya.

Ikram (9), siswa kelas III SD tersebut, mengaku khawatir akan kondisi plafon di kelasnya yang hanya ditopang oleh kawat. Ia takut jika sewaktu-waktu plafon itu ambruk. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya berharap kondisi kerusakan tersebut dapat segera diatasi. "Maunya sih cepat diperbaiki. Entar amblas, kita yang lagi belajar kena, gimana?" ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.