Antara Bopunjur dan Banjir di Ibu Kota RI

Kompas.com - 15/04/2013, 02:46 WIB
Editor

Di tengah melimpahnya air banjir, keluarga Kusnadi (69), warga kawasan Senen, Jakarta Pusat, justru kesulitan air untuk mandi, cuci, dan kakus. Pasalnya, jet pump di depan rumahnya terendam air sehingga tidak bisa beroperasi.

Penderitaan keluarga Kusnadi tidak seberapa dibandingkan ribuan warga yang rumahnya tidak jauh dari Sungai Ciliwung, seperti Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Ini akibat ketinggian air di perkampungan langganan banjir itu rata-rata di atas 1,5 meter.

Untuk membantu meringankan penderitaan warga saat banjir, Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) Indowater ITB bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengoperasikan water treatment plan (WTP) mobile. WTP adalah alat pengolah air bersih bergerak milik Kementerian Pekerjaan Umum yang ditempatkan di Kampung Pulo, Kampung Melayu.

LAPI, yang dibangun berdasarkan SK Menteri Pendidikan tahun 1959, mengambil bahan baku air yang bersumber dari luapan Ciliwung. Pada saat banjir, kekeruhan sungai ini mencapai 10.000 NTU (nephelometric turbidity units/tingkat kekeruhan air). Persyaratan air minum biasanya maksimum 5 NTU.

Pada saat normal, tingkat kekeruhan Ciliwung sekitar 15.000 NTU. Air keruh berwarna coklat itu diolah dalam instalasi WTP LAPI ITB, hasilnya bisa ditekan menjadi 0,0 NTU atau jernih sekali. Air bersih/air minum dengan PH 7 dan NTU 0 bisa diproduksi sampai 500.000 liter per hari di kampung itu.

”WTP mobile dioperasikan LAPI ITB dan IDI pusat serta langsung didistribusikan ke warga di sekitar Kampung Pulo,” ujar Rusnandi Garsadi, pengelola WTP dari LAPI ITB. WTP mobile micro hydraulic LAPI ITB sudah mendapat hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM sejak 2006. Risetnya dilakukan di ITB dengan inventor Prof Suprihanto Notodarmojo, Dr Rusnandi Garsadi, Prof Indratmo Sukarno, dan Dr Harun Sukarmadijaya.

Riset untuk alat ini juga dilakukan di daerah tropis di Indonesia dan subtropis di Eropa/TU Delft Belanda. Alat ini dapat mengolah air dari kekeruhan sangat tinggi dengan kebutuhan daya listrik 700 watt dan menghasilkan 500.000 liter per hari. Kebutuhan bahan penjernihnya cukup hemat karena menggunakan bahan lokal dan dapat melayani 30.000 warga.

WTP mobile sudah dipakai sejak tsunami Aceh tahun 2004-2005; gempa besar di Bantul, Yogyakarta; tsunami Pangandaran 2006; banjir besar di Jakarta 2007; gempa di Padang; dan banjir Bandung selatan.

Bencana ekologis

Beragam peristiwa bencana longsor di kawasan Bogor dan Cianjur yang berujung malapetaka kematian serta banjir yang semakin meluas di Bekasi, Depok, dan Jakarta merupakan bencana ekologis akibat kerusakan koridor ekologis daerah aliran sungai (DAS) yang semakin parah dan akut.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.