Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/04/2013, 22:32 WIB
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menginginkan salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) yang bergerak di bidang properti, PT Pembangunan Jaya, turut andil dalam kepemilikan saham PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

Sebesar 49 persen saham Palyja itu dimiliki oleh Astratel yang merupakan anak usaha dari Group Astra. Apabila PT Pembangunan Jaya membeli sebagian saham Palyja, Basuki mengharapkan adanya rebalancing (keseimbangan) kontrak.

"Kami ingin PT Pembangunan Jaya masuk, tetapi katanya Manila Water (perusahaan dari Filipina yang ikut menawar saham Palyja) tidak mau kalau dibagi tiga. Kalau dia (Manila Water) beli 51 persen, berarti dia bisa menguasai semua," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Jumat (19/4/2013).

Oleh karena itu, ia telah memerintahkan kepada Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian Hasan Basri Saleh untuk menggelar rapat mengenai pembelian saham Palyja. Melalui rapat itu, harus sudah ada keputusan, apakah Suez Environment selaku pemilik 51 persen saham Palyja mau melakukan renegosiasi kontrak atau tidak.

Pria yang akrab disapa Ahok itu berpendapat bahwa Suez tidak menginginkan saham Palyja dijual kepada Pembangunan Jaya. Alasannya, Manila Water yang dipilih Suez Environment untuk membeli saham mayoritas merupakan perusahaan yang sudah teruji.

"Pertanyaan saya sama Suez, kan mau hengkang dari Palyja, kenapa tidak jual ke Pemprov DKI saja? Saya bilang PT Pembangunan Jaya itu juga sudah terbukti bisa bangun Bintaro dan Ancol. Jadi, aku pikir ini soal gengsi. Dia takut ambruk, namanya jelek," sindir Basuki.

Sebelumnya, Basuki memberikan tiga opsi kepada Suez Environment sebagai investor mayoritas Palyja. Basuki meminta Suez melakukan penyeimbangan kontrak dengan PAM Jaya. Alternatif kedua, Basuki akan melaporkan ke arbitrase di Singapura untuk menyelesaikan sengketa. Opsi ketiga, Pemerintah Provinsi DKI akan melakukan penyitaan aset pemerintah yang dimiliki Suez Environment.

Ketiga opsi tersebut disampaikan oleh Basuki karena Pemerintah Provinsi dan warga DKI Jakarta mengalami kerugian. Kerugian itu meliputi tingginya tingkat internal rate of return (IRR) atau pengembalian investasi Palyja sebesar 22 persen, kebocoran air hingga 42-45 persen, dan biaya sambungan pipa yang mencapai Rp 1 juta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.